Overconsumption: Tren Belanja yang Bikin Dompet Kering dan Bagaimana Mengatasinya
Shannon - Monday, 25 May 2026 | 11:00 AM


Antara Flexing Unboxing dan Tren Pakai Sampai Jebol: Menimbang Underconsumption vs Overconsumption
Pernah nggak sih lo ngerasa capek sendiri pas lagi asyik scrolling TikTok atau Instagram? Isinya kalau nggak orang lagi unboxing paket belanjaan yang gedenya segede kulkas, ya video "haul" baju yang jumlahnya bisa buat stok satu kelurahan. Rasanya kayak kita dipaksa percaya kalau kebahagiaan itu bentuknya adalah tumpukan kardus di depan pintu rumah. Fenomena ini yang kita kenal sebagai overconsumption—budaya belanja ugal-ugalan yang bikin dompet nangis tapi algoritma senyum manis.
Tapi, belakangan ini ada yang beda. Angin segar mulai bertiup dari sudut internet yang lain. Tiba-tiba muncul tren "underconsumption core". Isinya? Orang-orang yang dengan bangganya pamer kalau mereka cuma punya satu pasang sepatu buat semua acara, pakai botol minum yang stikernya sudah pada ngelupas, atau botol skincare yang dipotong tengahnya biar sisa krimnya bisa dikerok sampai tetes terakhir. Kontras banget, kan? Satunya pamer kemewahan, satunya pamer ketahanan hidup pakai barang lama.
Dulu Kita Pikir Belanja adalah Healing
Jujurly, kita semua pernah terjebak dalam siklus overconsumption. Ada istilah "retail therapy" yang sering banget dijadikan tameng pas kita lagi stres kerja atau patah hati. "Ah, self-reward dulu, mumpung gajian," padahal cicilan paylater masih numpuk setinggi gunung. Masalahnya, budaya overconsumption ini didorong kencang banget sama media sosial. Kita terpapar influencer yang setiap hari bajunya ganti, yang rumahnya estetik parah karena barang-barangnya selalu baru dan seragam warnanya.
Overconsumption bukan cuma soal beli barang yang kita butuhkan, tapi soal beli "identitas". Kita beli tumbler mahal bukan karena haus, tapi biar kelihatan satu frekuensi sama geng di kantor. Kita beli baju fast fashion tiap minggu karena takut dibilang nggak update atau kena sindrom "nggak punya baju" padahal lemari sudah nggak bisa ditutup. Dampaknya? Selain saldo ATM yang makin miris, gunungan sampah tekstil dan plastik makin nggak terkendali. Kita kayak tikus yang lari di roda putar: belanja, senang bentar, barang numpuk, bosan, lalu belanja lagi buat nyari dopamine hit yang baru.
Masuknya Era Underconsumption: Estetik atau Emang Lagi Bokek?
Nah, sekarang mari kita bahas lawannya: underconsumption. Secara harfiah, ini artinya konsumsi di bawah rata-rata atau minimal banget. Di media sosial, tren ini muncul sebagai bentuk pemberontakan terhadap gaya hidup pamer. Orang-orang mulai posting video "things I use until they are worn out". Ada kepuasan tersendiri melihat panci yang pantatnya sudah hitam tapi masih jago buat goreng telur, atau kaos oblong yang sudah tipis saking seringnya dicuci tapi malah jadi baju tidur paling nyaman sedunia.
Banyak yang bilang kalau tren underconsumption ini sebenarnya cuma istilah keren buat "frugal living" atau bahkan "hidup hemat karena keadaan". Mengingat kondisi ekonomi global yang lagi nggak menentu dan harga beras yang makin naik, wajar kalau anak muda sekarang mulai mikir dua kali buat checkout keranjang Shopee mereka. Tapi, ada filosofi yang lebih dalam di sini. Underconsumption adalah bentuk kesadaran kalau barang itu fungsinya buat dipakai, bukan buat dipamerin doang. Ini soal menghargai nilai dari sebuah objek sampai fungsinya benar-benar habis.
Ironi di Balik Tren "Minimalis"
Tapi ya namanya juga internet, kadang ada sisi lucunya. Kadang tren underconsumption ini malah jadi paradoks. Ada lho orang yang bela-belain beli set toples estetik yang harganya jutaan cuma demi konten "hidup minimalis". Itu mah sama aja bohong! Kalau lo beli barang baru buat kelihatan kayak orang yang nggak suka beli barang, ya itu tetap aja konsumsi yang nggak perlu. Poin utama dari underconsumption itu bukan soal estetikanya, tapi soal mindset "enough is enough".
Gue secara pribadi melihat fenomena ini sebagai tamparan buat kita semua. Kita nggak perlu jadi ekstrem sampai nggak beli apa-apa dan hidup kayak pertapa di dalam goa. Tapi, tren ini ngajarin kita buat jadi "kaum mending-mending" dalam konteks yang positif. Mending pakai sepatu lama yang masih enak dipakai daripada beli baru cuma buat menuhin rak, kan? Uangnya bisa buat ditabung atau buat pengalaman lain yang lebih berkesan daripada sekadar barang fisik.
Mencari Titik Tengah yang Waras
Terus, kita harus gimana? Apa kita harus merasa berdosa tiap kali pengen beli baju baru? Ya nggak gitu juga. Hidup itu butuh keseimbangan. Masalah utamanya bukan pada tindakan "belanja"-nya, tapi pada "kenapa" dan "seberapa banyak"-nya. Overconsumption itu bikin kita jadi budak tren, sementara underconsumption (kalau terlalu ekstrem) bisa bikin hidup jadi terasa kaku dan terlalu perhitungan.
Jalan tengahnya adalah conscious consumption atau konsumsi yang sadar. Sebelum gesek kartu atau klik "bayar sekarang", coba tanya ke diri sendiri: "Gue butuh ini atau cuma laper mata karena abis liat konten si anu?" atau "Barang ini bakal awet sampai lima tahun ke depan nggak ya?". Memilih kualitas di atas kuantitas itu jauh lebih bijak. Lebih baik punya tiga kemeja berkualitas bagus yang bisa dipakai bertahun-tahun daripada punya sepuluh baju murah yang sekali cuci langsung melar dan berubah bentuk jadi serbet.
Kesimpulan: Menjadi Tuan Atas Keinginan Sendiri
Pada akhirnya, perdebatan antara underconsumption vs overconsumption ini adalah soal kontrol diri. Kita hidup di era di mana godaan buat belanja itu ada di genggaman tangan 24 jam sehari. Iklan seliweran di mana-mana, algoritma tahu banget apa yang kita suka, dan gengsi sosial seringkali jadi beban pikiran.
Menjadi pengikut "underconsumption" bukan berarti lo miskin atau nggak mampu. Itu artinya lo punya kuasa buat bilang "enggak" pada tekanan industri yang maksa lo buat terus-terusan jadi konsumen yang rakus. Ada kemewahan tersendiri dalam kesederhanaan. Ada rasa tenang saat lo tahu kalau kebahagiaan lo nggak bergantung pada berapa banyak paket yang datang ke rumah lo minggu ini. Jadi, gimana? Masih mau checkout barang yang sebenarnya nggak lo butuh-butuh amat, atau mau mulai bangga pakai barang lama sampai jebol? Pilihan ada di tangan lo, dan yang pasti, ada di saldo rekening lo.
Next News

Hobi Seblak dan Boba? Kenali Risiko PCOS pada Wanita Muda
an hour ago

Rekor Gila Drake di 2026: Dominasi Total Top 10 ARIA Charts
2 hours ago

Unik! Kolaborasi Pikachu dan Penyanyi Dangdut Guncang Jakarta 2026
3 hours ago

Mengapa Baju Murah Justru Bikin Kita Boros? Berikut Penjelasannya
4 hours ago

Mengenal "Sugar Level/Sweetness Level" pada Minuman: Mana yang Benar-Benar Rendah Gula?
5 hours ago

Membahas Sejarah Pancasila : Awalnya Sempat Bernama "Trisila" ???
6 hours ago

Panduan Niat, Keutamaan, & Jadwal Puasa Tarwiyah 25 Mei 2026 Wilayah Surabaya
7 hours ago

Gebrakan No Na: Padukan Pop Global dan Nuansa Lokal di Rollerblade
3 days ago

Menengok Diplomasi Meja Makan yang Akrab di Timor Leste
5 days ago

6 Tahun Pasca Pandemi COVID-19, Munculnya Hantavirus Kembali Bangkitkan Kekhawatiran Masyarakat
6 days ago






