Mengenal "Sugar Level/Sweetness Level" pada Minuman: Mana yang Benar-Benar Rendah Gula?
Shannon - Monday, 25 May 2026 | 01:00 PM


Dilema di Depan Kasir: Membedah Kamus Gula dalam Gelas Kopi dan Minuman Kemasan Kita
Pernah nggak sih kalian berdiri di depan kasir sebuah coffee shop kekinian, sudah antre lima menit, tapi pas sampai depan mas-mas baristanya malah bengong gara-gara bingung mau pilih tingkat kemanisan? Di papan menu tertulis opsi yang bikin dahi mengkerut: normal sugar, less sugar, mild sugar, sampai ada yang bawa-bawa istilah nano sugar. Belum lagi kalau kita geser ke rak minuman dingin di minimarket, labelnya makin ajaib lagi dengan klaim low sugar atau zero calories.
Sebagai generasi yang hidup di era "haus dikit beli boba, stres dikit jajan kopi susu," urusan gula ini memang jadi perkara pelik. Di satu sisi, kita tahu kalau konsumsi gula berlebih itu musuh nyata bagi kesehatan (dan lingkar pinggang). Di sisi lain, lidah kita sudah telanjur dijajah oleh rasa manis yang bikin nagih. Akhirnya, hadirlah istilah-istilah pemanis kata ini sebagai "obat penenang" buat nurani kita yang merasa berdosa kalau minum yang terlalu manis.
Misteri di Balik Kata Less Sugar
Istilah "less sugar" mungkin adalah yang paling populer dan paling sering kita ucapkan. Secara harfiah, artinya memang gulanya lebih sedikit. Tapi masalahnya, standar "sedikit" ini nggak pernah ada pakemnya. Di cafe A, less sugar mungkin berarti takaran gulanya dikurangi 25 persen. Tapi di cafe B, bisa jadi cuma dikurangi 10 persen. Hasilnya? Kadang kita pesan less sugar tapi pas disruput, rasanya masih semanis janji kampanye.
Secara psikologis, memesan minuman dengan label less sugar memberikan kita semacam false sense of security atau rasa aman yang semu. Kita merasa sudah hidup sehat hanya karena mengurangi sedikit takaran gula, padahal sisa gula yang ada di dalam gelas tersebut mungkin masih melampaui batas harian yang disarankan WHO. Intinya, less sugar itu sering kali cuma soal kompromi antara rasa takut kena diabetes dan keinginan untuk tetap merasakan kenikmatan duniawi.
Mild Sugar: Si Jalan Tengah yang Abu-abu
Kalau kalian tipe orang yang nggak suka ekstrem kiri (pahit banget) atau ekstrem kanan (manis banget), istilah "mild sugar" biasanya jadi pelarian. Mild sugar sering dianggap sebagai titik tengah yang pas. Rasanya tetap ada manis-manisnya, tapi nggak sampai bikin tenggorokan gatal atau bikin gigi terasa ngilu. Di banyak cafe, mild sugar sering disamakan dengan level 50 persen.
Namun, yang perlu kita waspadai adalah "hidden sugar" yang ada di balik istilah ini. Kadang, meskipun kita minta mild sugar, komponen lain dalam minuman itu—seperti krimer, susu kental manis, atau sirup perasa—sudah mengandung gula yang sangat tinggi. Jadi, meskipun gula cairnya dikurangi, total kalori dan kadar glukosanya tetap saja bisa bikin timbangan bergeser ke kanan.
Nano Sugar: Tren Baru atau Sekadar Gimmick Marketing?
Nah, belakangan muncul istilah yang terdengar sangat futuristik: "nano sugar". Mendengarnya saja kita mungkin langsung membayangkan laboratorium canggih atau teknologi Tony Stark. Dalam konteks industri minuman kemasan atau cafe tertentu, istilah ini sering digunakan untuk menggambarkan partikel gula yang ukurannya sangat kecil sehingga diklaim lebih mudah larut atau memberikan sensasi rasa manis yang lebih merata dengan volume yang lebih sedikit.
Tapi jujur saja, kita harus skeptis. Sering kali, penggunaan kata "nano" lebih ke arah strategi pemasaran biar produknya terkesan lebih premium dan sehat. Padahal, mau ukurannya nano, mikro, atau sebesar batu kali, yang namanya gula tetaplah karbohidrat sederhana yang bakal diproses tubuh menjadi energi (atau lemak kalau nggak dipakai). Jangan sampai kita tertipu istilah keren padahal isinya ya sama saja: sukrosa.
Label Low Sugar dan No Sugar di Minuman Kemasan
Pindah ke lorong minimarket, kita bakal ketemu sama istilah yang lebih teratur secara regulasi. Berdasarkan aturan BPOM, sebuah minuman baru boleh berlabel "low sugar" atau rendah gula jika kandungan gulanya tidak lebih dari 2,5 gram per 100 ml untuk sediaan cair. Sementara itu, label "sugar free" atau nol gula hanya boleh disematkan jika kandungan gulanya kurang dari 0,5 gram per 100 ml.
Tapi tunggu dulu, kenapa minuman berlabel "sugar free" tapi kok masih terasa manis banget? Jawabannya ada pada pemanis buatan atau pemanis alami non-kalori seperti stevia, aspartam, atau sukralosa. Di sinilah letak jebakannya. Memang betul gulanya nol, tapi lidah kita tetap dipaksa untuk terus terbiasa dengan rasa manis yang intens. Efeknya, otak kita bakal terus-terusan "nagih" makanan manis lainnya. Jadi, jangan heran kalau habis minum soda zero sugar, kita malah jadi pengen ngemil martabak manis.
Menjadi Konsumen yang Lebih Waras
Memahami istilah-istilah ini bukan berarti kita harus jadi paranoid dan berhenti minum minuman enak. Hidup sudah cukup berat, nggak perlu ditambah beban nggak boleh minum kopi susu sama sekali. Poin utamanya adalah soal kesadaran atau mindfulness. Saat kita memesan less sugar, kita tahu bahwa itu bukan berarti minuman tersebut jadi sehat dalam sekejap.
Cara paling aman kalau kalian jajan di cafe adalah bertanya langsung ke baristanya, "Mas, less sugar-nya itu berapa mili ya?" atau "Sirupnya pakai yang mengandung gula atau nggak?". Memang kesannya ribet dan sedikit menyebalkan buat mas-mas kasirnya, tapi hei, ini demi kesehatan jangka panjang kita juga. Kalau di minuman kemasan, kuncinya cuma satu: rajin baca tabel informasi nilai gizi di belakang kemasan. Jangan cuma terpaku pada klaim di depan botol yang biasanya penuh dengan bahasa marketing yang manis-manis.
Pada akhirnya, tren istilah gula ini bakal terus berkembang seiring dengan meningkatnya kesadaran orang soal kesehatan—atau seiring dengan pintarnya tim kreatif agensi iklan mencari celah kata-kata baru. Tetaplah jadi konsumen yang kritis. Ingat, yang paling manis itu bukanlah minuman dengan nano sugar atau mild sugar, melainkan kenyataan kalau kita bisa tetap sehat tanpa harus mengorbankan kebahagiaan lidah secara berlebihan. Seimbangkan asupan gula dengan aktivitas fisik, karena nggak ada istilah "less sugar" yang bisa menyelamatkan kita kalau seharian cuma rebahan sambil terus-terusan pesan boba lewat aplikasi ojek online.
Next News

Hobi Seblak dan Boba? Kenali Risiko PCOS pada Wanita Muda
an hour ago

Rekor Gila Drake di 2026: Dominasi Total Top 10 ARIA Charts
2 hours ago

Unik! Kolaborasi Pikachu dan Penyanyi Dangdut Guncang Jakarta 2026
3 hours ago

Mengapa Baju Murah Justru Bikin Kita Boros? Berikut Penjelasannya
4 hours ago

Membahas Sejarah Pancasila : Awalnya Sempat Bernama "Trisila" ???
6 hours ago

Overconsumption: Tren Belanja yang Bikin Dompet Kering dan Bagaimana Mengatasinya
7 hours ago

Panduan Niat, Keutamaan, & Jadwal Puasa Tarwiyah 25 Mei 2026 Wilayah Surabaya
7 hours ago

Gebrakan No Na: Padukan Pop Global dan Nuansa Lokal di Rollerblade
3 days ago

Menengok Diplomasi Meja Makan yang Akrab di Timor Leste
5 days ago

6 Tahun Pasca Pandemi COVID-19, Munculnya Hantavirus Kembali Bangkitkan Kekhawatiran Masyarakat
6 days ago






