Ceritra
Ceritra Update

Avoidant: Si Pembuat Jarak yang Bikin Penasaran

Elsa - Saturday, 29 November 2025 | 06:00 PM

Background
Avoidant: Si Pembuat Jarak yang Bikin Penasaran
(Pinterest/)

Mengenal Si Avoidant: Kenapa Mereka Suka Menjauh Padahal Kelihatannya Baik-Baik Saja?

Pernah nggak sih kamu lagi asyik-asyiknya PDKT sama seseorang, udah ngobrol nyambung, ketawa bareng, kayaknya 'klik' banget deh. Atau mungkin kamu udah dalam hubungan, tapi tiba-tiba rasanya doi kayak hilang ditelan bumi? Komunikasi mendadak jadi dingin, atau dia mulai bikin jarak tanpa alasan yang jelas? Rasanya kayak lagi ngejar layangan putus, ya kan? Nah, kalau kamu pernah ngalamin skenario kayak gini, atau mungkin justru kamu yang sering melakukan hal tersebut, bisa jadi kamu sedang berhadapan dengan, atau bahkan kamu sendiri adalah, sosok "avoidant."

Eits, jangan langsung baper atau nyalahin diri sendiri dulu. Istilah "avoidant" ini bukan label buat ngecap orang jelek, kok. Ini lebih ke gaya keterikatan (attachment style) yang terbentuk karena berbagai faktor, biasanya sih dari pengalaman masa lalu. Intinya, orang-orang avoidant ini punya mekanisme pertahanan diri yang unik banget saat menghadapi keintiman dan emosi.

Apa Sih Sebenarnya Si Avoidant Itu?

Gampangnya gini, orang avoidant itu kayak punya sensor otomatis yang langsung bunyi alarm keras setiap kali hubungan mulai terasa "terlalu dekat" atau "terlalu intens." Mereka punya kecenderungan kuat untuk menarik diri, menciptakan jarak, dan kadang malah lari dari situasi yang menuntut keintiman emosional. Bukan berarti mereka nggak mau sayang atau dicintai, lho. Justru sebaliknya, mereka seringkali mendambakan koneksi, tapi ketakutan akan keterikatan, kekecewaan, atau kehilangan kemandirian itu jauh lebih besar.

Konon katanya, gaya keterikatan avoidant ini sering terbentuk sejak kecil. Mungkin waktu kecil, kebutuhan emosional mereka kurang terpenuhi. Misalnya, pas nangis butuh pelukan malah dibilang "cengeng," atau pas cerita malah disepelekan. Akhirnya, mereka belajar kalau yang namanya mengekspresikan emosi atau bergantung sama orang lain itu bukan hal yang aman, malah bisa bikin sakit hati. Jadinya, mereka membentuk benteng pertahanan biar nggak gampang terluka lagi. Sedih, ya?

Ciri-ciri Khas Si Avoidant: Kamu Kenal Nggak?

Nah, biar lebih jelas, yuk kita bedah apa aja sih tanda-tanda kalau kamu lagi berhadapan sama si avoidant, atau mungkin kamu sendiri yang punya tendensi ini:

  • Jago Banget Bikin Jarak: Baru kemarin mesra-mesraan, tiba-tiba hari ini dia bisa jadi dingin banget. Ngilang tanpa kabar, balas chat lama, atau bahkan menghindari pertemuan. Ini jurus andalan mereka saat merasa hubungan mulai "terlalu serius."
  • "Aku Butuh Ruang!": Ini mantra wajib mereka. Mereka sangat menghargai kemandirian dan kebebasan. Sedikit-sedikit, kalau merasa tertekan, mereka akan bilang butuh ruang. Padahal, seringnya itu cuma cara mereka untuk menarik diri dari keintiman.
  • Sulit Mengekspresikan Emosi: Jangan harap dia bakal curhat panjang lebar soal perasaannya yang paling dalam. Mereka cenderung menyimpan emosi sendiri, terlihat cuek, dan kadang terkesan nggak peka. Bukan karena nggak punya perasaan, tapi karena mereka nggak terbiasa atau takut untuk menunjangkannya.
  • Sering Mengkritik Pasangan: Agak ironis memang. Kadang mereka bisa mendadak mencari-cari kekurangan pasangan, bahkan untuk hal-hal sepele. Ini bisa jadi mekanisme bawah sadar untuk menciptakan jarak, biar si pasangan jadi "kurang menarik" dan mereka punya alasan untuk menjauh.
  • Fokus ke Negatif: Setiap kali ada masalah, fokus mereka cenderung ke hal-hal negatif atau kekurangan dalam hubungan, bukannya mencari solusi. Ini juga bisa jadi alasan untuk validasi keinginan mereka buat menjauh.
  • Komitmen? Nanti Dulu Deh: Isu komitmen sering jadi PR besar buat mereka. Pernikahan, tinggal bareng, atau rencana masa depan yang konkret bisa bikin mereka puyeng tujuh keliling dan akhirnya memilih mundur.
  • Terlihat Kuat dan Mandiri (Banget!): Mereka tampil seolah-olah nggak butuh siapa-siapa, bisa melakukan segalanya sendiri. Padahal, di balik topeng kemandirian itu, ada kerentanan yang mereka coba sembunyikan mati-matian.

Bukan Niat Jahat, Tapi Mekanisme Pertahanan Diri

Mungkin setelah baca ciri-ciri di atas, kamu jadi geregetan sendiri, ya? Tapi penting buat diingat, perilaku avoidant ini seringnya bukan niat jahat untuk menyakiti. Ini adalah mekanisme pertahanan diri yang sudah tertanam dalam diri mereka. Bayangkan, mereka itu kayak punya alarm kebakaran yang sensitif banget. Sedikit asap (baca: keintiman emosional), langsung panik dan mencari jalan keluar.

Ketakutan terbesar mereka adalah kehilangan diri sendiri, dikecewakan, atau merasa terkekang. Mereka merasa kalau terlalu dekat dengan orang lain, itu sama saja menyerahkan kendali atas diri mereka. Padahal, di lubuk hati yang paling dalam, mereka juga ingin dicintai dan merasa aman. Dilema, kan?

Gimana Caranya Berhadapan (Atau Berdamai) dengan Si Avoidant?

Oke, sekarang pertanyaannya, kalau udah tahu begini, apa yang bisa kita lakukan? Baik kamu yang berpasangan dengan avoidant, atau kamu sendiri yang merasa punya kecenderungan ini.

Buat Kamu yang Punya Pasangan Avoidant:

  • Sabar Itu Kunci: Ini bukan sprint, tapi maraton. Proses mereka untuk membuka diri itu panjang. Jangan langsung mendesak atau menuntut.
  • Hargai Ruang Pribadinya: Ketika dia minta waktu atau ruang, berikanlah. Ini bukan berarti dia nggak sayang, tapi dia butuh waktu untuk 'mengatur ulang' diri dan perasaannya.
  • Komunikasi yang Jelas dan Santai: Hindari drama atau serangan emosional. Ajak ngobrol pelan-pelan saat suasana tenang. Sampaikan perasaanmu dengan "aku merasa..." daripada "kamu selalu..."
  • Konsisten Itu Penting: Tunjukkan bahwa kamu adalah orang yang bisa dipercaya dan stabil. Ini akan membantu mereka sedikit demi sedikit menurunkan bentengnya.
  • Jangan Ambil Hati Berlebihan: Kadang perilakunya memang bikin baper, tapi coba pahami bahwa itu refleks mereka, bukan personal attack ke kamu.

Buat Kamu yang Merasa Avoidant:

  • Kenali Diri Sendiri: Ini langkah paling awal. Sadari pola-polamu. Apa yang memicu kamu untuk menarik diri? Kapan itu terjadi?
  • Mulai dari Hal Kecil: Coba deh pelan-pelan berbagi perasaan atau pengalaman kecil dengan orang yang kamu percaya. Misalnya, cerita tentang hari yang berat di kantor.
  • Belajar Mengidentifikasi Emosi: Seringkali, avoidant kesulitan mengenali emosi mereka sendiri. Latih diri untuk menamai apa yang kamu rasakan, meski itu cuma "aku merasa agak kesal."
  • Jangan Takut Minta Bantuan: Kalau dirasa berat, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional seperti terapis. Mereka bisa membimbingmu untuk memahami akar masalah dan menemukan cara yang lebih sehat untuk berhubungan.
  • Ingat, Kamu Berhak Dicintai dan Mencintai: Melepaskan benteng itu menakutkan, tapi keintiman yang sejati itu sepadan dengan risikonya.

Pada Akhirnya, Kita Semua Ingin Terkoneksi

Baik yang avoidant maupun yang berpasangan dengannya, pada dasarnya kita semua mendambakan koneksi. Intinya adalah memahami bahwa setiap orang punya latar belakang dan cara mereka sendiri dalam menghadapi dunia. Si avoidant ini mungkin terlihat "kokoh" dari luar, tapi di dalam, mereka juga sedang berjuang dengan ketakutan mereka sendiri.

Mengenali gaya keterikatan ini bukan untuk memberi label, tapi untuk membuka mata dan menumbuhkan empati. Dengan pemahaman yang lebih baik, kita bisa belajar untuk berkomunikasi lebih efektif, membangun hubungan yang lebih sehat, dan mungkin, sedikit demi sedikit, membantu mereka atau diri kita sendiri untuk merasa lebih aman dalam pelukan keintiman. Jadi, jangan menyerah, ya! Setiap orang berhak merasa aman dan dicintai.

Logo Radio
🔴 Radio Live