Anak Sulit Bicara Pasca Bencana? Sembuhkan Trauma Lewat Bermain
Refa - Tuesday, 27 January 2026 | 07:00 PM


Memaksa anak untuk menceritakan kembali kejadian mengerikan seperti gempa bumi sering kali tidak efektif dan justru berpotensi memicu trauma ulang (re-traumatization). Otak anak, terutama balita, belum sepenuhnya mampu memproses peristiwa kompleks secara verbal seperti orang dewasa.
Bagi dunia anak, bermain bukan sekadar hiburan, melainkan bahasa alami mereka. Terapi bermain atau Play Therapy menjadi jembatan komunikasi non-verbal yang ampuh untuk mengakses alam bawah sadar anak, mengeluarkan rasa takut yang terpendam, dan menyusun kembali rasa aman yang sempat hancur.
Berikut adalah 3 metode permainan sederhana yang bisa diterapkan sebagai terapi mandiri:
1. Role-Play dengan Boneka (Mengambil Kendali)
Anak yang mengalami trauma sering merasa tidak berdaya (helpless) karena menjadi korban pasif saat bencana terjadi. Bermain peran menggunakan boneka, robot, atau figur aksi memungkinkan anak untuk merekonstruksi kejadian tersebut dalam skala kecil yang aman.
Dalam permainan ini, anak memegang kendali penuh atas cerita. Mereka bisa membuat skenario di mana boneka tersebut berhasil menyelamatkan diri atau ditolong oleh "pahlawan". Proses mengubah narasi dari "korban" menjadi "penyintas yang selamat" di dunia permainan ini membantu memulihkan rasa percaya diri dan kontrol diri di dunia nyata.
2. Menggambar dan Mewarnai (Visualisasi Emosi)
Sering kali emosi seperti takut, cemas, atau marah terlalu abstrak untuk dijelaskan dengan kata-kata. Menggambar menjadi media efektif untuk memvisualisasikan perasaan tersebut keluar dari kepala.
Perhatikan penggunaan warna dan tarikan garis. Coretan benang kusut yang ruwet, penggunaan warna gelap (hitam/merah tua) yang dominan, atau gambar monster sering menjadi representasi kecemasan. Saat anak selesai menggambar, emosi negatif tersebut secara simbolis telah "dipindahkan" ke atas kertas, sehingga beban di pikiran menjadi lebih ringan. Biarkan anak bercerita tentang gambarnya tanpa dihakimi atau dikoreksi.
3. Permainan Sensorik (Pelepasan Ketegangan Fisik)
Trauma sering tersimpan dalam bentuk ketegangan otot fisik (somatic memory). Bermain dengan material sensorik seperti pasir kinetik, tanah liat (clay), plastisin, atau bahkan air dapat membantu meredakan ketegangan sistem saraf.
Aktivitas meremas, menumbuk, atau membentuk adonan memberikan stimulus taktil yang menenangkan (grounding). Fokus pada sensasi sentuhan membantu mengalihkan otak dari mode waspada (fight or flight) menjadi mode istirahat. Selain itu, sifat plastisin yang bisa dihancurkan dan dibentuk kembali mengajarkan filosofi sederhana bahwa kerusakan bisa diperbaiki dan situasi bisa kembali utuh.
Next News

Bukan Bersih, Ternyata Cara Setrika Ini Bikin Kemeja Jadi Kuning
in 6 hours

Panduan Tepat Menggunakan Earplug Safety Agar Telinga Tetap Aman
in 4 hours

10 Antihistamin Alami Paling Ampuh Meredakan Alergi Tanpa Efek Kantuk
in 3 hours

Fakta Medis Bahaya Membiarkan Gigi Ompong Terlalu Lama
in 3 hours

Niat Produktif Malah Apek, Ini Efek Rendam Baju Kelamaan
in 5 hours

Jenis Kain yang Paling Sering Luntur dan Trik Rahasia Menjaganya
in 4 hours

Rahasia 4 Tips Sederhana Membuat Kopi di Rumah Ala Barista Profesional
in an hour

Kerak Keringat Membandel? Ini Trik Ampuh Mengatasinya
in 3 hours

Kebiasaan Skincare Penyebab Wajah Jerawatan yang Jarang Disadari
in 26 minutes

4 Jenis Cobek dan Keunggulannya untuk Membuat Bumbu Masakan Lebih Sedap
34 minutes ago






