Ceritra
Ceritra Cinta

Ternyata Ini Alasan Mengapa Seseorang Mudah Terjebak Love Scam

Nisrina - Friday, 30 January 2026 | 11:00 AM

Background
Ternyata Ini Alasan Mengapa Seseorang Mudah Terjebak Love Scam
Ilustrasi (Freepik/)

Kasus penipuan berkedok asmara atau yang populer disebut dengan love scam semakin hari semakin meresahkan masyarakat. Fenomena ini tidak pandang bulu dan bisa menimpa siapa saja tanpa memandang latar belakang pendidikan atau status sosial. Banyak korban yang sebenarnya cerdas dan mapan secara finansial justru menjadi sasaran empuk para pelaku kejahatan ini.

Dunia digital yang menawarkan kemudahan dalam mencari pasangan ternyata menyimpan sisi gelap yang berbahaya. Aplikasi kencan dan media sosial menjadi lahan basah bagi para predator emosi untuk mencari mangsa. Mereka memanipulasi perasaan korban dengan sangat halus hingga korban tidak sadar sedang diperdaya.

Psikolog menilai bahwa fenomena ini berkaitan erat dengan kebutuhan dasar manusia akan kasih sayang dan validasi diri. Pelaku sangat paham celah psikologis ini dan memanfaatkannya untuk keuntungan finansial semata. Mari kita bedah lebih dalam penjelasan ahli mengenai mengapa logika bisa lumpuh saat berhadapan dengan janji manis love scammer.

Kekosongan Emosional dan Rasa Kesepian

Faktor utama yang paling sering dimanfaatkan oleh pelaku adalah rasa kesepian yang dialami oleh calon korban. Kesepian ini tidak selalu berarti korban tidak memiliki teman atau keluarga di dunia nyata. Bisa jadi mereka merasa kesepian secara emosional atau merindukan sosok pasangan romantis yang belum mereka temukan.

Manusia secara alami memiliki dorongan kuat untuk terhubung dengan orang lain dan merasa dicintai. Ketika ada seseorang yang datang menawarkan perhatian berlebih maka benteng pertahanan logika sering kali runtuh. Pelaku masuk mengisi kekosongan tersebut dengan sangat presisi seolah menjadi jawaban atas doa korban.

Dalam kondisi rentan ini otak manusia cenderung memproduksi hormon dopamin dan oksitosin saat menerima perhatian. Hormon kebahagiaan ini menciptakan rasa nyaman yang membuat korban menjadi ketagihan berinteraksi dengan pelaku. Akibatnya tanda tanda bahaya atau red flags yang muncul sering kali diabaikan begitu saja.

Jebakan Love Bombing yang Memabukkan

Salah satu teknik manipulasi psikologis yang paling ampuh digunakan pelaku adalah love bombing. Teknik ini berupa pemberian perhatian pujian dan kasih sayang yang sangat intens dalam waktu singkat. Korban dihujani dengan pesan manis telepon setiap saat dan janji janji masa depan yang indah.

Pada fase awal perkenalan pelaku akan membuat korban merasa menjadi orang paling spesial di dunia. Mereka akan memuji fisik kecerdasan hingga kepribadian korban secara berlebihan. Tujuannya adalah untuk membangun kepercayaan dan ketergantungan emosional secepat mungkin sebelum aksi penipuan dimulai.

Korban yang sedang mabuk kepayang oleh love bombing ini akan sulit berpikir jernih. Mereka merasa telah menemukan belahan jiwa atau soulmate yang selama ini dicari cari. Padahal ini hanyalah skenario jahat yang sudah disusun rapi untuk menjerat korban ke dalam perangkap.

Pelaku Menciptakan Cermin Diri Korban

Para pelaku love scam biasanya adalah manipulator ulung yang pandai melakukan riset atau social engineering. Sebelum melancarkan aksinya mereka akan mempelajari profil media sosial korban secara mendalam. Mereka mencari tahu hobi minat hingga impian korban.

Saat berinteraksi pelaku akan memposisikan diri mereka sebagai sosok yang memiliki banyak kesamaan dengan korban. Jika korban suka hewan peliharaan maka pelaku akan mengaku sebagai pecinta hewan. Jika korban religius maka pelaku akan menampilkan citra diri yang sangat alim dan taat beragama.

Teknik meniru atau mirroring ini sangat efektif untuk menciptakan ilusi kecocokan yang sempurna. Korban akan merasa takjub karena bertemu seseorang yang sangat sefrekuensi dengan dirinya. Rasa nyaman karena kesamaan inilah yang membuat korban semakin yakin untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius.

Kebutuhan Akan Validasi Diri

Banyak korban love scam adalah individu yang sebenarnya sukses dalam karir namun merasa kurang percaya diri dalam urusan asmara. Pelaku memberikan validasi yang sangat dibutuhkan oleh korban tersebut. Mereka meyakinkan korban bahwa korban adalah sosok yang menarik dan layak dicintai.

Pujian pujian yang dilontarkan pelaku sering kali menyentuh rasa insecure korban yang terdalam. Hal ini membuat korban merasa sangat dihargai dan diakui keberadaannya. Rasa keterikatan emosional pun tumbuh semakin kuat karena korban merasa pelaku adalah satu satunya orang yang mengerti dirinya.

Ketika kepercayaan diri korban sudah bergantung pada validasi pelaku maka pelaku bisa dengan mudah mengendalikan korban. Korban akan melakukan apa saja termasuk mengirimkan uang demi mempertahankan sumber validasi tersebut. Mereka takut kehilangan sosok yang telah membuat mereka merasa berharga.

Penyangkalan Saat Tanda Bahaya Muncul

Ketika pelaku mulai meminta uang dengan berbagai alasan dramatis korban sering kali mengalami fase penyangkalan atau denial. Logika korban mungkin berkata ada yang tidak beres namun hatinya menolak untuk percaya. Mereka tidak ingin mengakui bahwa hubungan indah yang mereka jalani hanyalah kepalsuan belaka.

Mengakui bahwa dirinya tertipu sama saja dengan mengakui bahwa dirinya bodoh atau naif. Rasa malu ini sering kali lebih menyakitkan daripada kerugian materi yang dialami. Oleh karena itu banyak korban yang justru membela pelaku di hadapan teman atau keluarga yang mencoba mengingatkan.

Mereka akan mencari pembenaran atas tindakan pelaku demi menjaga keutuhan ilusi hubungan tersebut. Hal ini terus berlanjut hingga akhirnya korban kehabisan harta atau pelaku menghilang tanpa jejak. Penyangkalan adalah mekanisme pertahanan diri yang justru memperburuk keadaan.

Tips Mencegah Agar Tidak Menjadi Korban

Penting bagi kita untuk selalu waspada saat berkenalan dengan orang baru di dunia maya. Jangan mudah terbuai dengan kata kata manis atau profil yang terlihat terlalu sempurna. Selalu lakukan verifikasi identitas dengan cara mengajak panggilan video atau bertemu langsung di tempat umum.

Hindari mengirimkan uang atau data pribadi kepada orang yang belum pernah ditemui secara fisik. Ingatlah bahwa cinta sejati tidak akan membebani pasangannya dengan masalah finansial di awal hubungan. Jika seseorang mengaku mencintai Anda namun terus menerus meminjam uang maka itu adalah tanda bahaya besar.

Jaga komunikasi yang baik dengan teman dan keluarga di dunia nyata. Sering kali orang terdekat bisa melihat situasi dengan lebih objektif dibandingkan diri kita yang sedang jatuh cinta. Dengarkan nasihat mereka jika mereka merasa ada yang aneh dengan pasangan online Anda.

Logo Radio
🔴 Radio Live