Obsesi Warganet Terhadap Skandal Perselingkuhan Artis yang Viral di Media Sosial
Nisrina - Sunday, 01 February 2026 | 11:45 AM


Di era digital yang serba terbuka ini rasanya hampir mustahil kita melewati satu bulan tanpa adanya drama perselingkuhan baru yang meledak di lini masa. Mulai dari huru-hara rumah tangga selebritas muda seperti Zize dan Arhan yang muncul secara berkala hingga kisah pilu Norma yang menyayat hati jutaan pengguna TikTok. Belum lagi kasus Jule yang hingga kini masih hangat diperbincangkan di berbagai platform.
Setiap kali skandal semacam ini muncul reaksi warganet selalu sama yaitu masif, agresif, dan penuh emosi. Kita seolah tersihir untuk terus mengikuti setiap babak kehancuran hubungan orang lain. Kolom komentar penuh dengan caci maki analisis detektif dadakan hingga penghakiman moral.
Namun pernahkah Anda berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri mengapa kita begitu peduli. Mengapa urusan ranjang dan masalah domestik orang lain menjadi konsumsi publik yang begitu "lezat" untuk disantap. Ternyata ada penjelasan ilmiah dan psikologis yang mendalam di balik fenomena ini. Mari kita bedah alasan mengapa kita begitu terobsesi dengan pengkhianatan cinta orang lain.
Ironi Moralitas dan Statistik Perselingkuhan di Indonesia
Sebelum menyalahkan individu mari kita lihat data yang cukup mengejutkan. Sebuah survei dari platform kencan JustDating pernah menempatkan Indonesia di peringkat kedua sebagai negara dengan kasus perselingkuhan tertinggi di Asia. Angka ini mencapai 40 persen yang berarti cukup banyak orang yang pernah terlibat atau mengetahui perselingkuhan di sekitarnya.
Data ini menghadirkan sebuah ironi besar. Di satu sisi masyarakat kita dikenal sangat menjunjung tinggi nilai moral dan agama. Sebanyak 85 persen masyarakat menganggap perselingkuhan adalah tindakan yang mutlak salah dan tidak bermoral. Namun di sisi lain praktik ini justru tumbuh subur.
Kesenjangan antara apa yang kita "katakan" (nilai moral) dan apa yang "dilakukan" (realitas sosial) inilah yang membuat topik perselingkuhan selalu menarik. Skandal perselingkuhan menjadi cermin retak bagi masyarakat kita yang memaksa kita melihat sisi gelap yang selama ini berusaha disembunyikan di balik topeng kesopanan.
Algoritma Mark Manson dan Dinamika Kekuasaan
Mengapa seseorang memutuskan untuk selingkuh. Penulis terkenal Mark Manson menjelaskan fenomena ini melalui sebuah algoritma psikologis sederhana. Ia menyebutkan bahwa perselingkuhan terjadi ketika seseorang menilai "kepuasan pribadi" lebih penting daripada "keintiman".
Orang yang memprioritaskan kesenangan sesaat di atas komitmen jangka panjang hampir pasti akan terjebak dalam perselingkuhan. Ini bukan sekadar masalah moralitas semata melainkan tanda ketidakdewasaan emosional dalam mengelola hasrat dan ego.
Selain itu penelitian lain menyoroti adanya ketidakseimbangan kekuasaan atau power dynamic sebagai pemicu utama. Pihak yang merasa lebih berkuasa (secara finansial atau status sosial) dalam hubungan sering kali merasa memiliki "hak istimewa" untuk mencari opsi lain tanpa takut konsekuensi. Sebaliknya pihak yang merasa tidak berdaya mungkin mencari pelarian emosional karena merasa tidak dihargai di rumah. Pada dasarnya selingkuh adalah tentang ego dan kebutuhan untuk mengontrol situasi.
Kenikmatan Tersembunyi Melihat Orang Lain Menderita
Lantas mengapa kita sebagai penonton begitu menikmati drama ini. Studi tahun 2023 dalam Computers in Human Behavior Reports menyebutkan adanya fenomena psikologis bernama Schadenfreude. Ini adalah istilah Jerman yang menggambarkan rasa kepuasan emosional yang aneh saat melihat orang lain jatuh gagal atau dipermalukan di depan umum.
Ketika seorang figur publik yang terlihat sempurna kaya dan bahagia tiba-tiba hancur karena diselingkuhi tanpa sadar kita merasakan sedikit kelegaan. Hukuman sosial yang diterima pelaku memberikan rasa nikmat tersendiri bagi kita. Rasanya seperti melihat bukti bahwa hidup ini adil karena orang yang "sempurna" pun bisa menderita sama seperti kita rakyat biasa.
Hubungan Parasosial dan Proyeksi Ketakutan
Obsesi kita juga diperkuat dengan adanya hubungan parasosial yang kita bangun dengan para selebritas tersebut. Kita merasa mengenal mereka secara pribadi karena setiap hari melihat keseharian mereka di layar kaca.
Ketika mereka diselingkuhi muncul narasi ketakutan kolektif dalam diri kita. Kita berpikir "Jika dia yang cantik, kaya, dan sempurna saja bisa dikhianati, apalagi aku yang hanya remah rengginang?"
Kasus perselingkuhan artis memaksa kita menghadapi realitas pahit tentang ketimpangan gender dan kerapuhan hubungan asmara yang masih nyata. Kita ikut marah dan menghujat bukan hanya untuk membela sang korban artis tetapi sebenarnya kita sedang membela ketakutan diri kita sendiri.
Ilusi Keadilan Lewat "Cancel Culture"
Hujatan massal yang kita lemparkan di kolom komentar sering kali terasa seperti bentuk penegakan keadilan atau pseudo-justice. Melihat pelaku kehilangan pekerjaan diputus kontrak brand atau mendapat sanksi sosial memberikan ilusi bahwa dunia ini masih memiliki hukum karma.
Padahal pada kenyataannya budaya pengenyahan atau cancel culture jarang memberikan keadilan yang substantif bagi korban yang hatinya sudah hancur. Kita sering kali hanya memuaskan dahaga moral kita sendiri agar merasa menjadi "orang baik" tanpa benar-benar menyelesaikan masalah intinya. Setelah pelaku hancur kita akan bosan dan mencari target baru.
Pelarian dari Masalah Struktural yang Lebih Berat
Terakhir skandal perselingkuhan menyediakan wadah yang "aman" bagi masyarakat untuk meluapkan amarah yang terpendam. Marah pada peselingkuh itu mudah. Posisi moralnya jelas hitam dan putih. Kita tidak butuh pemikiran rumit untuk membenci seorang pengkhianat cinta.
Hal ini sangat berbeda dengan kemarahan terhadap sistem politik korupsi atau ketimpangan ekonomi yang membutuhkan energi besar untuk dipahami. Kita bisa merasa benar secara instan saat menghujat peselingkuh tanpa takut berada di sisi sejarah yang salah.
Aktivitas memaki pelaku berubah menjadi praktik gotong royong digital yang menyatukan berbagai lapisan masyarakat. Namun kita harus waspada. Jangan sampai kita terlalu sibuk mengurusi moralitas selebritas hingga lupa pada isu nyata yang lebih mendesak di depan mata. Apakah pengkhianatan seorang influencer benar-benar lebih berbahaya daripada kebijakan publik yang merugikan hidup orang banyak.
Next News

Nikah Tanpa Utang! Panduan Alokasi Gaji dan Investasi untuk Biaya Pernikahan
11 hours ago

Cinta Saja Tidak Cukup! Cek 5 Tanda Kamu dan Pasangan Punya Kecocokan Finansial
12 hours ago

Memutus Rantai Trauma Keluarga Lewat Metode Genogram
2 days ago

Sebelum LDR Dimulai, Jawab Dulu Pertanyaan Ini
12 hours ago

Jangan Diabaikan! 5 Red Flag dalam LDR yang Menandakan Hubunganmu Tidak Sehat
13 hours ago

Jangan Putus Dulu! Simak Cara Bertahan dari Burnout Tanpa Mengakhiri LDR
14 hours ago

Perbedaan Kasih Sayang Tulus dan Perilaku Manipulatif yang Mengekang Kebebasan
2 days ago

Mengupas Red String Theory dan Legenda Benang Merah Takdir
3 days ago

Ternyata Ini Alasan Mengapa Seseorang Mudah Terjebak Love Scam
5 days ago

Kenyataan Pahit Mother Wound dan Cara Berdamai dengan Ibu yang Tidak Akan Berubah
13 days ago






