Sesat Pikir Pemuja Transportasi Umum: Masalahnya Bukan Kurang Bus, Tapi Rumahmu Kejawuhan!
Nisrina - Tuesday, 06 January 2026 | 09:15 AM


Dulu, saya adalah salah satu dari sekian banyak orang naif yang percaya pada dongeng indah bernama "Transportasi Umum Adalah Kunci". Saya sempat menjadi evangelis jalanan yang berkoar-koar bahwa jika pemerintah memperbanyak armada bus dan menyambung rel kereta sampai ke pelosok, maka kemacetan akan sirna bak debu ditiup angin. Saya pikir, resep anti-macet itu sederhana: perbanyak angkutan umum, dan voila, jalanan lengang!
Tapi, setelah merenung lebih dalam sambil menyeruput kopi saset di tengah kemacetan yang tak kunjung usai, saya sadar saya salah besar. Ternyata, transportasi umum itu bukan solusi pamungkas. Ia hanyalah obat penahan nyeri, bukan penyembuh penyakit. Kenapa? Karena transportasi itu budak dari tata ruang. Transportasi selalu mengikuti cara kita tinggal. Dan cara kita tinggal di negeri ini, Saudara-saudara, adalah sumber bencana yang sesungguhnya.
Masalah utamanya bukan pada kurangnya bus, tapi pada obsesi purba kita terhadap "Rumah Tapak".
Mari bicara jujur. Di Indonesia, ada doktrin tak tertulis bahwa kesuksesan seorang manusia diukur dari kepemilikan sertifikat hak milik atas tanah dan bangunan. Tak peduli lokasinya di antah berantah, yang penting "Punya Rumah Sendiri". Pilihan ini memang masuk akal secara pribadi: rumah di pinggiran harganya masih "masuk akal" buat kaum mendang-mending, dan status sosial pun aman di mata calon mertua. KPR tenor 20 tahun pun dijabanin meski lokasinya saking jauhnya sampai beda zona waktu dengan kantor.
Apa akibatnya jika jutaan milenial dan Gen Z melakukan hal yang sama? Kota kita tumbuh bukan ke atas, tapi melebar ke samping alias urban sprawl. Rumah-rumah tumbuh liar di pinggiran, sementara pusat aktivitas tetap di tengah kota. Akibatnya, ritual harian kita berubah menjadi ziarah massal: pagi-pagi buta jutaan orang bergerak serentak dari pinggiran ke tengah, dan sorenya balik lagi.
Di kota yang modelnya "mbleber" begini, transportasi umum kehilangan kesaktiannya. Transportasi umum itu baru efektif dan efisien kalau kotanya padat (compact), bukan encer dengan kepadatan rendah. Kalau rumah penduduknya menyebar di radius 30 kilometer, bus dan kereta dipaksa melayani rute yang panjang dan melelahkan.
Akibatnya fatal:
- Volume kendaraan pribadi meledak karena jarak yang jauh bikin motor/mobil jadi kebutuhan primer, bukan sekadar gaya.
- Volume kendaraan umum juga ikutan tinggi, tapi tetap tidak efisien karena harus menjemput penumpang yang tersebar bak biji kacang hijau.
Jadi, mau ditambah seribu bus pun, kalau setiap orang harus menempuh perjalanan 20-30 kilometer setiap hari, macet tidak akan hilang. Kita hanya memindahkan kemacetan dari mobil pribadi ke dalam bus yang sesak. Inti masalahnya bukan "naik apa", tapi "di mana kita tinggal".
Solusi radikalnya? Kita harus membunuh mimpi indah tentang rumah tapak berhalaman luas itu. Serius. Jika kita ingin macet hilang, paradigmanya harus digeser: dari rumah tapak murah tapi jauh, ke hunian vertikal (rusun/apartemen) terjangkau yang dekat dengan aktivitas.
Bayangkan skenario ini: Kamu tinggal di hunian vertikal yang jaraknya cuma 1-2 kilometer dari kantor. Kamu tidak perlu KPR mobil, tidak perlu kredit motor, dan—ini yang paling penting—kamu bahkan tidak perlu naik transportasi umum! Kamu cukup jalan kaki atau naik sepeda.
Menggeser pola hunian ke tengah kota secara vertikal akan menekan kebutuhan perjalanan itu sendiri. Macet hilang bukan karena jalannya dilebarkan, tapi karena perjalanan yang tidak perlu itu dihapus dari muka bumi. Volume kendaraan pribadi turun, volume penumpang angkutan umum pun turun drastis karena orang-orang tak lagi perlu menempuh jarak maraton setiap hari.
Jadi, wahai pemerintah dan perencana kota, berhentilah menghabiskan anggaran triliunan hanya untuk kampanye basi "Ayo Naik Transportasi Umum" yang terbukti tidak efektif itu. Sudah saatnya kalian ganti slogannya menjadi lebih jujur dan menohok:
"Ayo Tinggal Lebih Dekat dengan Kantor, Biar Tuamu Nggak Habis di Jalan!"
Tapi ya, tantangannya memang berat. Mengubah mindset orang Indonesia untuk mau tinggal di "kandang burung" (baca: apartemen) daripada punya tanah sendiri itu susahnya minta ampun. Tapi kalau nggak mulai dari sekarang, siap-siap saja mewariskan kemacetan abadi sampai tujuh turunan.
Next News

Spider-Noir dan Perang Estetika Antara Hitam Putih Klasik Lawan Warna Modern
a day ago

Met Gala: Arisan Sosialita Level Dewa atau Sekadar Karnaval Baju Aneh?
a day ago

Rahasia di Balik Guling: Dari "Istri Belanda" Hingga Jadi Teman Tidur Wajib Orang Indonesia
2 days ago

Dinamika Reshuffle: Antara Raport Merah, Catur Politik, dan Kebutuhan Zaman
2 days ago

Skena Lari Surabaya: Kenapa Harus Terbelah Jadi Banyak Komunitas? Kok Nggak Satu Saja?
13 days ago

Dollar, Militer, dan Big Mac: Alasan Kenapa Kita Semua Masih Hidup di 'Dunia Amerika
14 days ago

Bukan Cuma Modal Pede! Kenapa Kamu Wajib Jadi 'Bunglon' Saat Public Speaking
14 days ago

Jangan Sampai Perut Kenyang Tapi Otak "Busung Lapar": Membedah Prioritas Pendidikan Selain MBG
16 days ago

Soft saving vs YOLO spending: nabung pelan atau nikmatin hidup sekarang?
18 days ago

Doomscrolling economy: kebiasaan scroll berita bikin makin cemas soal masa depan
18 days ago





