Ceritra
Ceritra Warga

Sayangi Telingamu! Hindari 5 Kebiasaan Buruk yang Dianggap Normal

Refa - Tuesday, 24 February 2026 | 03:00 PM

Background
Sayangi Telingamu! Hindari 5 Kebiasaan Buruk yang Dianggap Normal
Ilustrasi anak mendengarkan musik (pexels.com/jonas mohamadi)

Awas Budek Dini! Kebiasaan Sepele yang Ternyata Menyiksa Saraf Telinga Kita

Bayangkan dunia tanpa suara. Nggak ada lagi bunyi notifikasi WhatsApp dari gebetan, nggak ada suara tawa teman-teman pas lagi nongkrong di warkop, apalagi dengerin playlist lagu galau di Spotify pas lagi hujan. Kedengarannya horor banget, kan? Tapi sayangnya, banyak dari kita yang secara nggak sadar pelan-pelan lagi membunuh kemampuan pendengaran kita sendiri lewat kebiasaan sehari-hari yang dianggap normal.

Telinga itu organ yang ajaib tapi juga rapuh banget. Bedanya sama kulit yang kalau lecet bisa sembuh sendiri atau tulang yang kalau patah bisa nyambung lagi, saraf telinga itu sifatnya sekali rusak ya sudah. Nggak ada tombol undo atau fitur reset pabrik. Masalahnya, kerusakan saraf telinga itu seringnya nggak terjadi dalam semalam. Dia itu kayak mantan yang pelan-pelan menjauh: nggak berasa, tahu-tahu hilang aja. Yuk, kita bedah apa aja sih kebiasaan yang tanpa kita sadari bikin saraf telinga kita jerit-jerit minta tolong.

1. Konser Pribadi Lewat Earphone dengan Volume Pol

Kita semua pasti pernah ngerasain momen pengen menutup diri dari dunia luar. Caranya? Pakai earphone, pasang lagu favorit, terus volumenya dinaikin sampai maksimal biar suara knalpot motor berisik di luar nggak kedengeran. Ini emang asik banget buat healing sejenak, tapi buat saraf telinga, ini adalah kerja rodi yang luar biasa menyiksa.

Di dalam telinga kita itu ada rambut-rambut halus yang namanya silia. Nah, silia ini tugasnya menangkap getaran suara dan ngirim sinyal ke otak. Kalau lu kasih volume yang terlalu kencang terus-menerus, si rambut halus ini bakal patah karena keberisikan. Begitu mereka patah, mereka nggak bakal tumbuh lagi. Itulah awal mula kenapa banyak anak muda sekarang yang kalau diajak ngomong suka jawab "Hah?" berkali-kali. Tips sederhananya, pakai rumus 60/60: maksimal volume di angka 60 persen, dan jangan dengerin lebih dari 60 menit berturut-turut.

2. Ritual Ngoprek Telinga Pakai Cotton Bud

Ngaku deh, siapa yang ngerasa surga dunia banget pas lagi masukin cotton bud ke lubang telinga terus digoyang-goyangin? Rasanya geli-geli enak gitu, kan? Tapi tahu nggak, para dokter THT itu sebenarnya gemes banget lihat kebiasaan ini. Sebenarnya, telinga kita itu punya mekanisme self-cleaning alias bisa bersihin diri sendiri.

Cairan telinga atau yang sering kita sebut kotoran telinga itu bukannya kotoran nggak berguna, lho. Dia itu pelindung dari debu dan serangga. Pas lu masukin cotton bud, lu bukannya narik kotoran keluar, tapi malah mendorongnya makin masuk ke dalam, deket banget sama gendang telinga. Lebih parah lagi, gesekan kapas itu bisa bikin iritasi atau luka di saluran telinga yang sensitif. Kalau lu apes, saraf telinga bisa terganggu karena tekanan atau infeksi yang masuk gara-gara luka itu.

3. Abai Sama Kebisingan di Sekitar

Bukan cuma earphone yang bahaya, lingkungan kita juga penuh sama polusi suara. Lu yang hobi nonton konser tepat di depan speaker besar, atau lu yang tiap hari naik motor berjam-jam kena suara bising knalpot dan klakson tanpa pelindung, sebenarnya lagi naruh telinga dalam risiko besar.

Ada kondisi namanya Tinnitus, yaitu suara berdenging di telinga yang nggak kunjung hilang. Rasanya kayak ada suara nyamuk atau desis mesin di dalam kepala 24 jam non-stop. Ini sering banget terjadi gara-gara saraf telinga sering kena hantaman suara keras dalam jangka waktu lama. Jadi, kalau emang harus berada di tempat bising, nggak usah malu pakai penyumbat telinga (earplugs). Keren itu relatif, tapi budek itu permanen, kawan.

4. Merokok dan Gaya Hidup Sembarangan

Mungkin lu bakal nanya, "Apa hubungannya paru-paru sama telinga?" Jawabannya adalah aliran darah. Saraf telinga itu butuh pasokan oksigen dan nutrisi yang lancar lewat pembuluh darah kecil. Zat kimia dalam rokok, kayak nikotin dan karbon monoksida, itu musuh bebuyutan pembuluh darah. Mereka bikin pembuluh darah menyempit dan kaku.

Kalau aliran darah ke telinga terhambat, saraf-saraf di sana bakal kekurangan oksigen dan lama-lama mati. Jadi, jangan heran kalau perokok berat punya risiko kehilangan pendengaran lebih cepat dibanding mereka yang nggak merokok. Belum lagi urusan begadang dan stres yang bikin tekanan darah nggak stabil, semuanya berkontribusi bikin telinga lu cepet pensiun.

5. Mengabaikan Flu dan Batuk yang Kelamaan

Pernah nggak sih ngerasa telinga kayak mampet pas lagi flu berat? Itu karena ada saluran bernama tuba eustachius yang menghubungkan hidung-tenggorokan sama telinga tengah. Kalau lu lagi flu dan sering buang ingus terlalu keras, atau infeksinya didiamkan aja, bakteri bisa naik ke telinga tengah dan bikin infeksi.

Infeksi telinga tengah (otitis media) kalau nggak diobati dengan benar bisa merusak struktur di dalam telinga, termasuk saraf pendengaran. Jadi, jangan anggap remeh flu yang nggak sembuh-sembuh. Telinga lu itu terhubung sama sistem pernapasan, jadi kalau satu bermasalah, yang lain bisa ikutan kena apesnya.

Kesimpulan: Sayangi Telinga Sebelum Sunyi Menjemput

Intinya, telinga itu investasi masa tua yang sering dilupakan karena kita terlalu sibuk sama skincare atau gaya hidup lainnya. Padahal, bisa mendengar suara tawa orang tersayang itu adalah kemewahan yang nggak ternilai harganya. Mulailah kurangi volume earphone, berhenti masukin benda aneh ke telinga, dan kasih waktu istirahat buat telinga lu di tempat yang tenang.

Jangan nunggu sampai suara TV harus dipasang di angka 50 baru lu sadar kalau ada yang salah. Yuk, mulai sekarang lebih peka sama organ kecil yang setia menemani hari-hari lu ini. Karena kalau saraf telinga sudah menyerah, nggak ada teknologi secanggih apa pun yang bisa mengembalikan kejernihan suara kayak aslinya.

Logo Radio
🔴 Radio Live