Ceritra
Ceritra Warga

Plant Parent: Tren Hijau yang Digandrungi Pekerja Muda dan Mahasiswa

Nisrina - Saturday, 28 March 2026 | 12:15 PM

Background
Plant Parent: Tren Hijau yang Digandrungi Pekerja Muda dan Mahasiswa

Dulu, kalau kita melihat orang yang sibuk menyiram bunga atau menata pot di halaman, bayangan kita pasti tertuju pada sosok ibu-ibu pensiunan yang sedang menikmati masa tuanya. Lengkap dengan daster dan topi caping kecil, mereka tampak sangat telaten mengurus tanaman. Namun, coba lihat sekarang. Tren itu sudah bergeser jauh. Anak muda usia dua puluhan, pekerja kantoran yang sibuknya minta ampun, sampai mahasiswa yang tinggal di kamar kos sempit, tiba-tiba bertransformasi menjadi "Plant Parent".

Fenomena kegemaran memelihara tanaman hias ini memang sempat meledak saat pandemi melanda, tapi uniknya, tren ini nggak lantas layu begitu saja saat mobilitas kembali normal. Sebaliknya, tanaman hias justru sudah naik kelas dari sekadar hobi musiman menjadi gaya hidup atau bahkan kebutuhan emosional. Tapi, apa sih sebenarnya yang membuat benda hijau diam ini begitu dicintai? Kenapa orang rela mengeluarkan uang ratusan ribu hingga jutaan rupiah hanya untuk selembar daun yang kadang manjanya mengalahkan pacar sendiri?

Healing Paling Murah di Tengah Kepungan Beton

Mari kita jujur, tinggal di kota besar itu melelahkan. Setiap hari kita disuguhi pemandangan aspal, beton, dan layar gadget yang cahayanya bikin mata perih. Di tengah kepungan hutan beton tersebut, keberadaan tanaman hias di dalam rumah adalah semacam oase. Ada kepuasan instan yang sulit dijelaskan saat kita melihat warna hijau segar di sudut ruangan. Istilah keren anak zaman sekarang sih, "visual healing".

Melihat tanaman tumbuh perlahan, dari tunas kecil sampai jadi daun yang lebar, memberikan perasaan sukses yang tulus. Di dunia kerja yang serba cepat dan penuh tekanan, di mana kesuksesan seringkali abstrak dan tergantung pada angka-angka di spreadsheet, tanaman memberikan sesuatu yang nyata. "Eh, Monstera-ku tumbuh daun baru!" adalah sebuah pencapaian yang bisa bikin mood seharian jadi bagus. Ini adalah cara manusia modern untuk terhubung kembali dengan alam tanpa harus mendaki gunung atau masuk hutan beneran.

Ego Manusia dan Insting Merawat

Ada teori yang bilang kalau manusia punya insting dasar untuk merawat sesuatu agar tetap hidup. Bagi mereka yang belum siap mengurus hewan peliharaan yang ribet urusan kotoran dan makanannya, atau yang belum siap punya anak, tanaman hias adalah "entry level" yang pas. Tanaman hias melatih tanggung jawab kita tanpa perlu takut dia bakal menggonggong di tengah malam atau rewel minta diajak jalan-jalan.

Tapi jangan salah, merawat tanaman hias itu juga penuh drama. Ada tipe tanaman yang cuek seperti Lidah Mertua (Sansevieria), yang ditinggal seminggu tanpa air pun tetap tegak menantang dunia. Namun, ada juga yang sifatnya "drama queen" seperti Calathea. Kurang air sedikit daunnya layu, kelebihan air akarnya busuk, kena matahari langsung malah gosong. Di sinilah letak seninya. Keberhasilan menjaga tanaman tetap hidup di tengah kesibukan memberikan validasi diri bahwa kita adalah manusia yang bertanggung jawab dan punya empati.

Urusan Estetika dan Konten Instagram

Kita nggak bisa menutup mata kalau salah satu alasan kenapa banyak orang mendadak jadi kolektor tanaman adalah demi estetika. Rumah minimalis tanpa sentuhan hijau itu rasanya gersang, seperti ada yang kurang. Tanaman hias punya kemampuan ajaib untuk mengubah ruangan yang tadinya terlihat "biasa aja" menjadi "estetik" dan "Instagrammable" dalam sekejap.

Sudut ruangan yang kosong akan terlihat jauh lebih berkelas kalau diisi dengan sepot biola cantik (Ficus Lyrata) atau beberapa pot sukulen mungil di meja kerja. Tanaman bukan lagi sekadar dekorasi hidup, tapi sudah menjadi bagian dari identitas diri. Orang sering menilai kepribadian seseorang dari tanaman yang dia pelihara. Kalau rumahnya penuh tanaman yang terawat, biasanya pemiliknya dianggap punya kepribadian yang tertata dan "green flag".

Filter Udara Alami yang Gak Pakai Listrik

Selain urusan mental dan visual, alasan logis lainnya adalah soal kesehatan. Tanaman hias itu ibarat air purifier alami yang nggak butuh colokan listrik. Tanaman seperti Sirih Gading atau Lidah Buaya punya kemampuan untuk menyerap polutan di udara dan memproduksi oksigen segar. Di dalam rumah yang sirkulasi udaranya mungkin kurang maksimal, kehadiran tanaman-tanaman ini membantu membuat udara terasa lebih ringan untuk dihirup.

Meski secara sains kita butuh hutan kecil di dalam kamar untuk benar-benar membersihkan udara secara total, secara psikologis, udara di ruangan yang ada tanamannya terasa jauh lebih bersih. Efek sugesti ini nyata, lho. Tidur di kamar yang ada tanaman hijaunya seringkali terasa lebih nyenyak karena suasana yang tercipta jadi lebih rileks dan tenang.

Hobi yang Menghasilkan (Kalau Beruntung)

Terakhir, ada aspek ekonomi yang kadang terselubung. Banyak orang menyukai tanaman hias karena hobi ini bisa jadi investasi. Ingat masa-masa Janda Bolong (Monstera Adansonii) atau Aglaonema dihargai seharga motor? Meski harganya sekarang sudah lebih waras, potensi bisnisnya tetap ada. Pecinta tanaman seringkali melakukan "split" atau memperbanyak tanamannya sendiri, lalu ditukar atau dijual ke teman sesama kolektor. Ini adalah ekosistem hobi yang sehat, di mana orang bisa bersosialisasi sekaligus menghasilkan cuan tipis-tipis.

Jadi, kesimpulannya, kenapa banyak orang menyukai tanaman hias di rumah? Jawabannya beragam, mulai dari butuh pelarian dari stres, ingin rumah terlihat cantik, sampai memang senang bereksperimen dengan alam. Tanaman hias adalah pengingat sederhana bahwa di tengah dunia yang serba digital dan cepat ini, pertumbuhan yang lambat dan sabar itu tetap punya nilai keindahan tersendiri. Lagipula, siapa sih yang nggak mau punya teman diam yang selalu cantik dipandang dan nggak pernah protes kalau kita lupa membalas chat-nya?

Logo Radio
🔴 Radio Live