Ceritra
Ceritra Warga

Pesona Second City di Asia yang Kini Lebih Memikat Hati Wisatawan Dibanding Ibu Kota

Nisrina - Saturday, 24 January 2026 | 08:15 AM

Background
Pesona Second City di Asia yang Kini Lebih Memikat Hati Wisatawan Dibanding Ibu Kota
Pemandangan indah nan klasik kala turis berjalan di Jeonju Hanok Village, Korea Selatan. (Shutterstock/Jimmy Tran)

Wisatawan dunia kini mulai jenuh dengan hiruk pikuk kota metropolitan utama seperti Tokyo atau Seoul yang terlalu padat. Tren liburan perlahan bergeser menuju destinasi alternatif yang sering disebut sebagai second city atau kota kedua. Kota-kota ini menawarkan pesona yang tak kalah memikat namun dengan suasana yang jauh lebih tenang dan otentik.

Alasan utama pergeseran ini biasanya berkaitan erat dengan kenyamanan dan efisiensi biaya perjalanan. Ibu kota negara sering kali mematok harga akomodasi dan makanan yang selangit bagi turis asing karena tingginya permintaan. Sementara di kota lapis kedua, pelancong bisa menikmati fasilitas setara dengan harga yang jauh lebih bersahabat di kantong.

Selain masalah biaya, pengalaman budaya yang didapatkan juga terasa lebih mendalam dan asli. Di kota besar yang sangat modern, sisi tradisional sering kali sudah tergerus oleh gedung pencakar langit dan gaya hidup serba cepat. Sebaliknya di kota kedua, interaksi dengan warga lokal terasa lebih hangat dan tradisi leluhur masih dipegang teguh dalam keseharian.

Fenomena overtourism atau kepadatan turis yang parah di destinasi utama juga menjadi pendorong kuat tren wisata baru ini. Wisatawan cerdas kini lebih memilih menghindari antrean panjang di tempat wisata populer demi menjaga ketenangan jiwa selama liburan. Mereka mencari sudut-sudut kota yang estetik namun sepi dari kerumunan manusia agar bisa menikmati momen dengan lebih privat.

Beberapa nama kota di Asia kini mulai naik daun menggantikan popularitas saudara tuanya yang sudah terlalu mainstream. Misalnya Fukuoka di Jepang yang kini lebih dicari daripada Tokyo karena kuliner otentik dan tata kotanya yang nyaman. Begitu juga dengan Busan di Korea Selatan atau Da Nang di Vietnam yang menawarkan pemandangan alam indah yang sulit ditemukan di ibu kota.

Kota seperti Penang di Malaysia atau Chiang Mai di Thailand juga masuk dalam daftar favorit baru para pelancong global. Destinasi ini menawarkan ritme hidup yang lebih lambat sehingga sangat cocok untuk memulihkan energi dari stres pekerjaan. Wisatawan bisa berjalan kaki santai menikmati arsitektur kota tanpa harus berdesakan di dalam transportasi umum yang sesak.

Kuliner di kota-kota lapis kedua ini sering kali justru menjadi surga tersembunyi yang mengejutkan lidah para penikmat makanan. Resep-resep kuno biasanya masih terjaga keasliannya di warung-warung kecil legendaris yang dikelola secara turun-temurun oleh keluarga lokal. Berburu makanan di sini terasa seperti petualangan rasa yang tidak ada habisnya dan jauh dari kesan komersial.

Aksesibilitas menuju kota-kota ini pun sekarang sudah semakin mudah berkat banyaknya penerbangan langsung internasional. Pemerintah negara-negara Asia memang sengaja mempromosikan destinasi baru ini secara agresif untuk meratakan ekonomi pariwisata ke berbagai daerah. Jadi tidak ada alasan lagi untuk ragu memasukkan kota kedua ini ke dalam daftar rencana liburan tahun ini.

Menjelajahi second city memberikan perspektif baru bahwa keindahan suatu negara tidak hanya berpusat di ibu kotanya saja. Justru di kota-kota inilah wajah asli dan keramahan sesungguhnya dari sebuah bangsa sering kali bersembunyi menanti untuk ditemukan. Mulailah berani melangkah ke destinasi yang tidak biasa untuk mendapatkan pengalaman perjalanan yang tak terlupakan.

Logo Radio
🔴 Radio Live