Persebaya Surabaya: Hikayat Sang Bajul Ijo, Perjuangan, dan Nyali yang Tak Pernah Mati
Refa - Monday, 29 December 2025 | 09:30 AM


Di Kota Pahlawan, sepak bola bukan sekadar olahraga 2x45 menit. Ia adalah denyut nadi, identitas, dan harga diri. Di sanalah lahir sebuah entitas bernama Persebaya Surabaya, klub yang sejarahnya tidak bisa dilepaskan dari semangat nasionalisme Indonesia.
Berdiri jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, perjalanan klub berjuluk Bajul Ijo (Buaya Hijau) ini adalah cerminan dari karakter masyarakat Surabaya, keras, lugas, ngeyel (gigih), dan tak kenal takut.
1927: Lahir dari Rahim Nasionalisme
Persebaya tidak lahir semata-mata untuk menendang bola, tetapi sebagai alat perlawanan terhadap kolonialisme. Pada masa Hindia Belanda, sepak bola di Surabaya didominasi oleh klub milik Belanda bernama SVB (Soerabaiasche Voetbal Bond). Warga pribumi sering kali dipandang sebelah mata dan didiskriminasi dalam kancah olahraga.
Merespons hal tersebut, pada tanggal 18 Juni 1927, didirikanlah SIVB (Soerabhaiasche Indonesische Voetbal Bond). Tokoh kuncinya adalah Paijo dan M. Pamoedji. SIVB lahir sebagai wadah bagi kaum bumiputera untuk menunjukkan bahwa mereka mampu bersaing.
Semangat kebangsaan SIVB semakin kental ketika pada tahun 1930, SIVB bersama enam klub perserikatan lainnya (seperti VIJ Jakarta/Persija dan BIVB Bandung/Persib) membidani lahirnya PSSI (Persatuan Sepak bola Seluruh Indonesia). Ini menjadikan Persebaya sebagai salah satu dari tujuh "Bapak Pendiri" sepak bola nasional. Nama SIVB kemudian berubah menjadi Persebaya (Persatuan Sepak Bola Surabaya) pasca kemerdekaan.
Era Perserikatan dan Gaya Main "Suroboyoan"
Di era kompetisi Perserikatan, Persebaya tumbuh menjadi raksasa yang disegani. Mereka dikenal dengan gaya main khas "Suroboyoan", yaitu umpan pendek merapat, permainan cepat, takling keras tapi bersih, dan semangat pantang menyerah (ngeyel) selama peluit panjang belum berbunyi.
Persebaya menjadi salah satu penguasa Perserikatan dengan menorehkan tinta emas sebagai juara pada tahun 1951, 1952, 1978, dan 1988. Era ini melahirkan legenda-legenda besar seperti Rusdy Bahalwan, Subodro, hingga Syamsul Arifin. Pertandingan melawan rival abadi seperti Persija Jakarta atau PSM Makassar selalu menjadi laga klasik yang memadati Stadion Gelora 10 November, Tambaksari.
The Dream Team dan Kejayaan Liga Indonesia
Ketika sepak bola Indonesia bertransformasi menjadi liga profesional (Liga Indonesia/Ligina), Persebaya tidak kehilangan taringnya. Musim 1996/1997 dikenang sebagai musim terbaik sepanjang masa.
Kala itu, Persebaya dijuluki The Dream Team. Di bawah asuhan pelatih Rusdy Bahalwan, skuad ini dihuni materi pemain kelas satu seperti Jacksen F. Tiago, Carlos de Mello, Aji Santoso, Bejo Sugiantoro, hingga Uston Nawawi. Mereka menyapu bersih lawan dan menjadi juara dengan permainan yang sangat atraktif.
Kejayaan kembali terulang secara dramatis pada tahun 2004. Di bawah asuhan Jacksen F. Tiago (yang kembali sebagai pelatih), Persebaya mengunci gelar juara di pertandingan terakhir yang legendaris di Stadion Tambaksari melawan Persija Jakarta, di tengah guyuran hujan deras dan dukungan fanatik suporter.
Masa Kelam: Dualisme dan Perjuangan Bonek
Sejarah Persebaya tidak selalu berisi piala. Ada babak gelap yang menguji kesetiaan seluruh elemen klub. Sekitar tahun 2010, terjadi konflik dualisme di tubuh sepak bola nasional yang berdampak fatal bagi Persebaya.
Muncul dua kubu Persebaya. PSSI kala itu tidak mengakui Persebaya yang asli (yang didukung oleh suporter setia), dan justru mengakui klub bentukan lain (Persebaya DU/Kutai Barat). Akibatnya, Persebaya yang asli "dimatikan" paksa; tidak boleh berkompetisi di liga resmi dan hak-haknya dicabut.
Inilah momen di mana suporter Persebaya, Bonek (Bondo Nekat), menunjukkan loyalitas tanpa batas. Selama bertahun-tahun (2013-2016), Bonek turun ke jalan, melakukan demonstrasi ke Jakarta, memboikot pertandingan klub palsu, dan terus merawat eksistensi Persebaya meski klub itu sedang "koma". Slogan "Persebaya Emosi Jiwaku" dan "Wani" (Berani) benar-benar diuji di masa ini.
2017: Kebangkitan Sang Legenda
Perjuangan panjang itu berbuah manis pada Kongres PSSI di Bandung, 8 Januari 2017. Status keanggotaan Persebaya akhirnya dipulihkan. Sang raksasa yang tertidur dibangunkan kembali.
Persebaya harus memulai dari kasta kedua (Liga 2). Namun, dengan manajemen baru yang lebih profesional di bawah kepemimpinan Azrul Ananda dan dukungan militan Bonek, Persebaya langsung tancap gas. Pada tahun yang sama, mereka menjuarai Liga 2 dan promosi kembali ke kasta tertinggi, Liga 1, tempat di mana mereka seharusnya berada.
Filosofi dan Masa Depan
Kini, Persebaya terus beradaptasi dengan sepak bola modern tanpa meninggalkan akarnya. Mereka dikenal sebagai salah satu klub dengan pembinaan pemain muda terbaik di Indonesia, melahirkan talenta seperti Andik Vermansah, Evan Dimas, hingga Marselino Ferdinan.
Stadion Gelora Bung Tomo kini menjadi saksi baru sejarah mereka. Meski zaman berganti, satu hal yang tidak berubah, tuntutan untuk bermain dengan hati dan nyali. Bagi masyarakat Surabaya, kalah boleh saja, asalkan sudah berjuang habis-habisan. Namun, menyerah tanpa perlawanan adalah aib yang tak termaafkan.
Next News

Start Keras di Awal Tahun, Pembuktian Mental Juara Wakil Indonesia di India Open
a day ago

Evaluasi Langkah Aldila Sutjiadi di Hobart International 2026
a day ago

John Herdman Resmi Nakhodai Timnas Indonesia
2 days ago

Belajar dari Kekalahan Jonatan Christie: Ketika Kesabaran Menjadi Senjata Paling Mematikan di Lapangan
4 days ago

Menutup Paruh Musim dengan Manis dan Menjaga Asa Juara Bajul Ijo
4 days ago

Bukannya Sehat, Banyak Pemula Justru Cedera Gara-Gara 5 Kesalahan Ini
5 days ago

Masih Ngaku Nggak Punya Waktu Olahraga? Coba 5 Gerakan Ini di Kamar
5 days ago

Mimpi Buruk London Utara dan Lubang Menganga di Lini Serang The Lilywhites
6 days ago

Bukan Pelatih, Ini Peran yang Dipilih Messi Setelah Pensiun
7 days ago

Membangun Mentalitas Juara Lewat Tangan Dingin John Herdman di Timnas Indonesia
7 days ago






