Pencet Jerawat atau Biarkan Saja? Ini Jawaban Ahlinya
Nisrina - Tuesday, 31 March 2026 | 08:15 PM


Bayangkan skenario ini: Kamu baru saja bangun tidur, berjalan gontai ke kamar mandi, dan niatnya cuma mau cuci muka biar nyawa terkumpul. Tapi begitu menatap cermin, ada satu tamu tak diundang nangkring dengan gagahnya di ujung hidung atau di tengah dahi. Sebuah jerawat dengan mata putih yang sudah matang sempurna, seolah-olah berteriak, "Pencet aku sekarang juga!"
Logika di kepala sudah memberikan alarm merah. Kamu ingat pesan dokter kulit di TikTok, ingat omelan ibu, atau ingat bekas luka yang nggak hilang-hilang dari bulan lalu. Tapi entah kenapa, tangan ini rasanya punya nyawa sendiri. Jari telunjuk dan jempol sudah bersiap dalam posisi menjepit. Dan ketika bunyi 'plup' terdengar disertai keluarnya isi jerawat itu, ada rasa puas yang nggak masuk akal menjalar ke seluruh tubuh. Padahal kita tahu, setelah itu kulit bakal merah, bengkak, dan mungkin berbekas. Kenapa sih kita hobi banget menyiksa diri sendiri?
Dopamin di Balik 'Ledakan' Kecil
Secara ilmiah, fenomena kegemasan kita terhadap jerawat ini bukan tanpa alasan. Saat kita berhasil mengeluarkan isi jerawat, otak kita melepaskan dopamin. Ya, hormon kebahagiaan yang sama yang keluar kalau kita dapet like banyak di Instagram atau pas lagi makan seblak pedas level maksimal. Ada perasaan lega yang instan, semacam rasa menang karena telah "membersihkan" sesuatu yang kotor dari tubuh kita.
Psikolog sering menyebut ini sebagai bentuk grooming behavior. Nenek moyang kita dulu, yang masih satu silsilah sama primata, sering banget cari kutu atau bersihin kotoran di kulit satu sama lain. Aktivitas ini bukan cuma soal kebersihan, tapi juga soal rasa nyaman dan kontrol. Jadi, pas kamu asyik mencet jerawat di depan kaca sampai lupa waktu, sebenarnya insting purba kamu lagi on. Kamu merasa sedang melakukan perawatan diri, padahal yang terjadi justru sebaliknya: kamu lagi bikin trauma di jaringan kulit.
Ritual Kepuasan yang Aneh
Nggak bisa dimungkiri, ada unsur kepuasan visual yang bikin ketagihan. Itulah kenapa video pimple popping ala Dr. Pimple Popper atau konten-konten serupa di YouTube punya jutaan penonton. Orang merasa 'puas' hanya dengan melihat tekanan yang kemudian melepaskan sumbatan. Ada sensasi pelepasan ketegangan atau relief. Bagi sebagian orang, memencet jerawat adalah cara nggak sadar untuk mengatasi stres. Lagi pusing mikirin cicilan atau skripsi yang nggak kelar-kelar? Eh, ada jerawat. Akhirnya stresnya dilampiaskan ke sana. Rasanya seperti memegang kontrol penuh atas satu hal kecil di tengah hidup yang lagi berantakan.
Namun, masalahnya adalah kulit kita bukan karet. Tekanan yang kita berikan saat memencet itu sering kali jauh lebih kuat dari yang bisa ditahan oleh pori-pori. Bukannya keluar semua, kadang malah sebagian isi jerawat—yang penuh bakteri itu—malah terdorong masuk lebih dalam ke lapisan kulit. Inilah yang bikin jerawat bukannya sembuh, malah jadi makin meradang, makin besar, atau malah jadi jerawat batu yang sakitnya minta ampun.
Antara Gemas dan Penyesalan
Jujur saja, kita semua pernah berada di fase "ah, dikit aja nggak bakal apa-apa kok." Tapi kita juga tahu kalau "dikit aja" itu adalah kebohongan paling besar yang pernah kita katakan pada diri sendiri. Begitu satu jerawat dipencet, mata kita langsung otomatis scan seluruh wajah buat cari 'korban' berikutnya. Tahu-tahu, wajah yang tadinya cuma ada satu titik putih, berubah jadi medan perang yang merah-merah.
Lalu datanglah fase penyesalan. Fase di mana kita cuma bisa menatap cermin dengan nanar, melihat bekas merah yang berdenyut, dan mulai mikir, "Kenapa tadi gue lakuin itu ya?" Bekas jerawat atau PIH (Post-Inflammatory Hyperpigmentation) itu ibarat mantan yang susah move on. Dia bakal nangkring di wajah kamu selama berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan, cuma buat ngingetin kamu soal kesalahan yang kamu perbuat selama lima detik di depan kaca tadi pagi.
Gimana Cara Berhenti Jadi 'Eksekutor' Jerawat?
Kalau dibilang "jangan dipencet," pasti bakal masuk kuping kiri keluar kuping kanan. Godaannya terlalu besar. Tapi ada beberapa trik biar jari-jari kita nggak terlalu liar. Pertama, pakai pimple patch. Ini adalah penemuan paling jenius buat kaum tangan gatal. Begitu jerawat ditutup stiker lucu, akses jari kita buat mencet jadi terhalang. Plus, stikernya bekerja menyedot cairan jerawat tanpa perlu kita tekan-tekan secara kasar.
Kedua, jauhkan kaca pembesar atau jangan dandan terlalu dekat dengan cermin kalau lagi nggak perlu. Semakin detail kamu melihat pori-pori wajahmu, semakin banyak "ketidaksempurnaan" yang pengen kamu perbaiki paksa. Ketiga, sadari kalau jerawat itu adalah tanda kalau tubuhmu lagi bekerja. Dia lagi ngelawan bakteri atau lagi ngerespons perubahan hormon. Biarkan dia melakukan tugasnya tanpa intervensi kasar dari jarimu yang mungkin saja juga nggak higienis.
Memencet jerawat memang memberikan kepuasan instan yang hakiki, tapi harga yang harus dibayar sering kali terlalu mahal. Jadi, lain kali kalau kamu sudah dalam posisi siap menjepit jerawat, coba tarik napas dalam-dalam. Ingatlah bahwa kulitmu punya kemampuan untuk menyembuhkan diri sendiri kalau kamu memberinya waktu (dan obat totol yang benar). Lagipula, nggak ada jerawat yang lebih buruk daripada bekas luka yang kita buat sendiri karena rasa gemas yang nggak tertahankan, kan?
Next News

Rahasia di Balik Beningnya Kaca Mengapa Kita Bisa Melihat Lewatnya
in 6 hours

Rebahan Berujung Malu: Nostalgia Foto Alay yang Muncul Lagi
in 4 hours

Mengenal Cara Kerja Kunci: Si Kecil yang Sangat Spesial
in 3 hours

Panduan Lengkap Menikmati Waktu Bebas Usai Bekerja
in 2 hours

Alasan Kamu Merasa Nyaman Saat Bertemu Orang yang Mirip
in 37 minutes

Cara Menghindari Jebakan Konten Sensasional di Medsos
23 minutes ago

Lebih Cepat Mana Jadi Es? Air Panas vs Dingin, Ini Jawabannya
an hour ago

Sering Cegukan? Ternyata Ini Penyebab dan Solusi Paling Manjur
2 hours ago

Menghadapi Deadline: Jangan Biarkan TikTok Menghambatmu
3 hours ago

Rahasia di Balik Kebiasaan Ngintipin Hidup Orang di Media Sosial
3 hours ago






