Ceritra
Ceritra Warga

Parfum Manis Bikin Pening Saat Puasa? Ini Alasannya

Refa - Monday, 23 February 2026 | 09:00 AM

Background
Parfum Manis Bikin Pening Saat Puasa? Ini Alasannya
Ilustrasi parfum (pexels.com/Valeria Boltneva)

Dilema Bau Pencuci Mulut di Tengah Hari Bolong: Mengapa Parfum Gourmand Adalah Musuh Saat Puasa

Pernah nggak sih kamu lagi asyik-asyiknya nunggu jam buka puasa, sekitar jam dua atau tiga sore saat matahari lagi lucu-lucunya di atas kepala, tiba-tiba ada temen kantor atau orang di sebelahmu di KRL yang baunya kayak toko roti baru matang? Wangi vanila yang kental, aroma cokelat yang legit, atau mungkin aroma karamel yang saking manisnya berasa nempel di tenggorokan. Alih-alih bikin semangat, yang ada malah perut makin keroncongan dan kepala mendadak pening.

Di dunia perfumery, aroma macam ini disebut sebagai gourmand. Wangi-wangian yang terinspirasi dari makanan manis yang bisa dimakan. Memang sih, parfum jenis ini lagi naik daun banget. Siapa sih yang nggak mau kecium kayak cupcake berjalan atau wangi mahal ala biskuit karamel? Tapi masalahnya, saat bulan Ramadan, memakai parfum gourmand itu ibarat sebuah "kezaliman aromatik" bagi diri sendiri maupun orang lain.

Kenapa Bau Manis Malah Bikin Eneg?

Mari kita bicara jujur. Saat puasa, indra penciuman kita itu mendadak jadi selevel detektif. Hidung jadi lebih sensitif karena perut kosong. Secara biologis, ketika kita lapar, otak akan lebih reaktif terhadap aroma yang diasosiasikan dengan kalori. Nah, masalahnya, parfum gourmand itu "bohong" ke otak kita. Hidung menangkap sinyal ada makanan manis nan lezat, tapi perut tahu nggak ada apa-apa yang masuk. Ketidakseimbangan ini seringkali berujung pada rasa mual atau yang biasa kita sebut eneg.

Bayangkan kamu lagi lemas-lemasnya menahan haus, terus dihantam aroma heavy vanilla atau marshmallow yang berat dan creamy. Bukannya segar, yang ada kamu malah merasa makin gerah. Parfum manis cenderung memiliki molekul yang lebih "berat" dan bertahan lama di udara yang panas. Di iklim tropis seperti Indonesia, parfum yang terlalu manis bisa berubah menjadi aroma yang sumpek kalau bercampur dengan keringat. Bukannya jadi estetik ala anak skena Jaksel, yang ada malah bikin orang di sekitar kamu pengen buru-buru menjauh.

Citrus: Si Penyelamat Dahaga Visual

Kalau kamu harus berhenti pakai aroma kue-kuean, terus beralih ke mana? Jawabannya adalah keluarga Citrus. Lemon, bergamot, jeruk nipis, atau grapefruit adalah koentji. Kenapa? Karena aroma citrus punya karakter yang volatile alias ringan dan cepat menguap, memberikan efek 'sparkling' yang menyegarkan seketika.

Memakai parfum citrus saat siang hari di bulan puasa itu rasanya kayak dapet siraman air es di muka. Ada efek psikologis yang instan. Aroma jeruk-jerukan merangsang otak untuk merasa lebih terjaga dan waspada (alert). Ini penting banget buat melawan brain fog atau rasa ngantuk yang biasanya menyerang setelah salat Zuhur. Citrus nggak akan bikin kamu merasa makin lapar; justru ia memberikan impresi kebersihan. Kamu bakal terkesan seperti orang yang baru selesai mandi, bukan orang yang baru keluar dari oven toko roti.

Mint dan Aroma "Dingin" untuk Menipu Cuaca

Selain citrus, ada satu lagi hero yang sering dilupakan: Mint. Aroma menthol atau peppermint punya kemampuan unik untuk memberikan sensasi dingin secara sensorik. Di tengah cuaca Indonesia yang bisa mencapai 34 derajat di siang hari, wangi mint adalah oase. Ia nggak cuma enak di hidung, tapi seolah-olah menurunkan suhu di sekitar kamu.

Aroma mint yang dicampur dengan sedikit sentuhan teh (green tea atau white tea) bakal bikin kamu merasa lebih tenang. Ini adalah jenis aroma yang sopan banget buat hidung orang lain. Nggak menusuk, nggak maksa, tapi bikin orang mikir, "Wah, ni orang seger banget padahal lagi puasa." Transisi dari parfum gourmand yang berat ke aroma mint atau aquatic yang ringan adalah bentuk toleransi kecil yang bisa kamu lakukan untuk lingkungan sekitarmu.

Etika Bertransportasi Umum dan Ruang Kerja

Kita harus sadar kalau ruang publik di jam-jam puasa itu penuh dengan orang yang tingkat kesabarannya lagi diuji. Bau badan memang mengganggu, tapi bau parfum yang terlalu nyegrak dan manis juga bisa jadi polusi tersendiri. Mengganti parfum ke aroma yang lebih airy atau ozonic (aroma udara segar/air) adalah pilihan yang bijak.

Ada pendapat yang bilang, "Kan parfum gue mahal, harusnya orang suka dong?" Eits, tunggu dulu. Parfum mahal sekalipun kalau dipakai di waktu dan tempat yang salah tetap bisa jadi bencana. Di bulan Ramadan, kita diajarkan untuk menahan diri. Nah, menahan diri untuk nggak pakai parfum vanila yang setebal selimut itu juga bagian dari perjuangan, lho. Simpan dulu koleksi parfum manis kamu untuk acara buka bersama di malam hari atau saat Idulfitri nanti. Di malam hari, saat suhu sudah turun dan perut sudah kenyang, aroma manis itu baru akan terasa magis dan nyaman.

Kesimpulan: Jadilah Segar, Bukan Manis

Jadi, mumpung masih di pertengahan bulan puasa, coba deh cek lagi rak parfum kamu. Kalau isinya cuma parfum-parfum dengan notes cokelat, kopi, atau karamel, mungkin ini saatnya kamu main-main ke toko parfum dan cari yang ada label neroli, bergamot, atau eucalyptus.

Percayalah, tubuh kamu bakal berterima kasih karena nggak merasa "beban" dengan aroma yang terlalu berat. Teman kantor kamu juga bakal lebih senang berada di dekatmu tanpa harus merasa mual mendadak. Intinya, saat matahari lagi terik dan perut lagi kosong, jadilah sosok yang membawa kesegaran seperti es jeruk, bukan yang bikin eneg kayak tumpukan donat gula. Selamat mencoba dan tetap segar sampai beduk Magrib tiba!

Logo Radio
🔴 Radio Live