Ceritra
Ceritra Uang

Mimpi Unicorn Memudar? Fenomena Startup Kini

Nuryadi - Saturday, 06 December 2025 | 03:15 PM

Background
Mimpi Unicorn Memudar? Fenomena Startup Kini
ilustrasi anak muda berkumpul membasah bisnis start up

Dulu, era startup itu ibarat panggung impian yang bikin mata berbinar-binar. Ingat nggak sih, awal tahun 2010-an sampai pertengahan 2020-an, kalau ngomongin startup, rasanya kayak ngomongin tiket emas menuju kesuksesan? Kantor-kantor keren dengan fasilitas bak hotel bintang lima, jam kerja fleksibel, celana pendek dan sandal jepit jadi seragam kebanggaan, dan yang paling penting: potensi jadi "unicorn" alias perusahaan raksasa yang nilainya miliaran dolar. Anak muda zaman itu, termasuk saya sendiri, pasti pernah punya mimpi basah untuk jadi “the next Nadiem” atau “the next William”. Tapi coba deh, sekarang kita ngopi santai sambil ngelihat sekitar. Gemuruh startup yang dulu bikin kuping pengang itu, kok ya, makin sayup-sayup terdengar, ya?

Fenomena ini bukan cuma perasaan saya saja, lho. Banyak obrolan di tongkrongan, di linimasa media sosial, sampai di diskusi-diskusi formal pun mengamini hal yang sama: era startup makin menurun di kalangan anak muda. Padahal dulu, siapa sih yang nggak tergiur sama tawaran kerja di startup? Gaji kompetitif, suasana kerja yang "fun dan dinamis", kesempatan belajar yang katanya nggak ada duanya. Ibaratnya, kalau dulu kita ketemu teman yang kerja di startup, rasanya dia itu kayak pahlawan inovasi yang paling keren sejagat raya. Tapi kok, pelan-pelan gaungnya meredup? Ada apa gerangan?

Ketika "Cuannya" Nggak Selalu Manis: Realita yang Bikin Melongo

Mari kita kilas balik ke zaman jayanya. Startup-startup dengan valuasi fantastis bermunculan kayak kacang goreng. Suntikan dana dari investor bikin para founder muda bisa ngebut ekspansi, bakar duit sana-sini demi akuisisi user, dan tentu saja, bikin branding yang aduhai. Image kerja di startup itu identik dengan orang-orang cerdas, kreatif, dan punya visi mengubah dunia. Para milenial berbondong-bondong melamar, bahkan rela banting setir dari pekerjaan korporat yang stabil demi merasakan "petualangan" di dunia startup.

Tapi, ada pepatah bilang, "rumput tetangga selalu lebih hijau." Setelah beberapa tahun berlalu, ilusi kemilau itu mulai terkikis. Satu per satu realita pahit muncul ke permukaan. Jam kerja fleksibel? Iya, fleksibel sampai jam 2 pagi. Suasana kerja dinamis? Iya, dinamis karena targetnya makin nggak masuk akal. Gaji kompetitif? Iya, kalau perusahaannya sukses, kalau nggak? Siap-siap gigit jari. Belum lagi tekanan untuk selalu berinovasi, bersaing ketat, dan ekspektasi yang tinggi dari investor. Banyak yang akhirnya merasakan "burnout" alias kelelahan ekstrem, fisik dan mental. Mental baja sekalipun bisa keropos kalau dihantam badai kerjaan non-stop.

Puncaknya mungkin terjadi saat "musim dingin" teknologi melanda. Pandemi yang diikuti gejolak ekonomi global bikin investor jadi lebih pelit dan selektif. Startup yang tadinya digadang-gadang bakal jadi unicorn, tiba-tiba harus putar otak untuk bertahan hidup. Gelombang PHK massal bukan lagi gosip, tapi jadi kenyataan yang bikin pilu. Ribuan talenta muda terpaksa angkat kaki, padahal mereka sudah mengabdikan diri dan impiannya di sana. Dari sinilah, anak muda mulai "melek" dan berpikir ulang: apakah dunia startup ini seindah yang dibayangkan?

Prioritas Bergeser: Nyari Aman Bukan Lagi Aib

Generasi Z, yang kini mulai mendominasi pasar kerja, punya perspektif yang sedikit berbeda dengan milenial awal. Mereka tumbuh di era di mana informasi terbuka lebar, termasuk berita-berita PHK atau kegagalan startup. Konsep "work-life balance" bukan lagi slogan kosong bagi mereka, tapi kebutuhan primer. Mereka ingin kerja, iya, tapi juga ingin punya waktu untuk diri sendiri, keluarga, atau sekadar hobi. Beda banget kan sama generasi milenial awal yang katanya rela tidur di kantor demi deadline? Rasanya kayak, "capek ah, hidup cuma sekali kok buat kerja doang."

Kini, tawaran kerja di perusahaan multinasional yang sudah mapan, BUMN, atau bahkan jadi ASN, mulai kembali jadi primadona. Bukan karena gajinya lebih fantastis, tapi karena stabilitas dan jaminan masa depan yang lebih jelas. Setelah melihat betapa rentannya pekerjaan di startup saat resesi menghantam, nyari aman itu bukan lagi dicap "nggak visioner," tapi justru "cerdas." Apalagi kalau sudah punya tanggungan atau cicilan, stabilitas finansial itu penting banget, bro dan sis.

Selain itu, fenomena "side hustle" juga makin menjamur. Anak muda sekarang lebih suka membangun bisnis kecil-kecilan mereka sendiri di luar jam kerja, atau jadi freelancer, daripada menginvestasikan seluruh energi dan mimpinya ke satu startup yang belum tentu selamat dari badai persaingan. Kenapa? Karena mereka jadi punya kontrol penuh, risikonya bisa diatur, dan cuannya bisa langsung dinikmati tanpa perlu menunggu IPO atau exit strategy yang nggak jelas kapan datangnya.

Masa Depan Startup: Lebih Realistis, Kurang Drama

Lantas, apakah ini berarti era startup sudah tamat? Oh, tentu saja tidak. Startup tidak mati, tapi bentuk dan semangatnya mungkin berubah. Era "bakar uang" dan "growth at all costs" sudah lewat. Sekarang, investor dan pasar lebih mencari startup yang punya model bisnis berkelanjutan, keuntungan yang jelas, dan benar-benar menyelesaikan masalah nyata, bukan cuma menciptakan kebutuhan artifisial. Startup yang fokus pada profitabilitas, efisiensi, dan inovasi yang mendalam, justru makin dicari.

Mungkin kita tidak akan lagi melihat gembar-gembor startup baru setiap minggu, atau perusahaan yang valuasinya tiba-tiba melonjak gila-gilaan hanya dalam semalam. Tapi, ini justru bisa jadi hal yang positif. Artinya, ekosistem startup sedang berbenah, dari yang tadinya cuma ngejar hype dan angka, kini mulai kembali ke esensi utama: menciptakan nilai dan solusi. Anak muda yang kini tertarik pada dunia startup pun, cenderung lebih realistis. Mereka sudah paham bahwa kerja di startup itu butuh mental baja, strategi matang, dan bukan sekadar ikut-ikutan tren.

Jadi, penurunan minat anak muda terhadap "startup hype" bukan sepenuhnya kabar buruk. Ini adalah refleksi dari perubahan prioritas, pembelajaran dari masa lalu, dan adaptasi terhadap kondisi ekonomi. Mimpi untuk berinovasi dan membangun sesuatu yang baru tetap ada, namun caranya mungkin sedikit berbeda. Lebih kalem, lebih terukur, dan semoga, lebih awet. Ibaratnya, kalau dulu kita naik rollercoaster yang seru tapi bikin jantung copot, sekarang kita lebih suka naik kereta api yang lambat tapi pasti sampai tujuan. Dan itu, menurut saya, bukan pilihan yang buruk sama sekali.

Logo Radio
🔴 Radio Live