Ceritra
Ceritra Update

Mengungkap Alasan Mengapa Deretan Artis Setiap Konser Selalu Mirip

Nizar - Friday, 10 April 2026 | 07:00 PM

Background
Mengungkap Alasan Mengapa Deretan Artis Setiap Konser Selalu Mirip
Hindia dan Lomba Sihir saat aksi panggung (pinterest/)

Kenapa Sih Lineup Konser di Indonesia Isinya Itu-itu Saja? Sebuah Investigasi Tipis-tipis

Coba deh kamu buka Instagram atau TikTok pas weekend. Kalau nggak lagi ada teman yang pamer liburan ke Bali, pasti isinya potongan video konser. Tapi kalau diperhatikan pelan-pelan, ada sebuah pola yang cukup menggelitik. Entah itu festival musik di Jakarta, Bandung, atau bahkan luar Jawa, wajah-wajah yang muncul di atas panggung seringkali "pemain lama" yang itu-itu saja. Nama-nama seperti Barasuara, Dewa 19, Tulus, Nadin Amizah, hingga Hindia seolah jadi menu wajib yang nggak boleh absen. Sampai-sampai muncul guyonan di kalangan netizen: "Ini festival musik atau reuni keluarga besar? Kok mukanya sama semua?"

Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru. Kita sering merasa terjebak dalam dejavu musikal. Padahal, musisi baru bermunculan bak jamur di musim hujan di Spotify atau YouTube. Tapi kenapa ya, pas urusan panggung live, promotor kita kayaknya hobi banget main aman? Mari kita bedah pelan-pelan sambil ngopi, biar nggak emosi pas tahu tiket konser incaranmu harganya makin nggak ngotak tapi line-up nya masih sama kayak tahun lalu.

Logika Cuan di Atas Segalanya

Hal pertama yang harus kita pahami adalah: promotor konser itu pebisnis, bukan lembaga amal atau kurator seni idealis. Menggelar konser itu risikonya gede banget. Sewa venue mahal, perizinan ribetnya minta ampun, belum lagi urusan riders artis yang kadang minta macem-macem. Jadi, wajar banget kalau mereka cari aman. Memasang nama besar yang sudah punya basis massa militan adalah jaminan kalau tiket bakal sold out dalam hitungan menit.

Bayangkan kalau kamu jadi promotor. Pilih mana: mengundang band indie keren dari antah berantah yang lagunya cuma didengerin anak skena Jakarta Selatan, atau mengundang Dewa 19 yang sekali manggung pasti ribuan orang datang dari berbagai generasi? Jawabannya jelas. Bisnis konser adalah bisnis tentang angka dan kepastian. Nama-nama besar itu adalah "blue chip" di bursa musik Indonesia. Mereka jarang banget bikin promotor "boncos" atau rugi bandar.

Budaya Sing-along dan Haus Nostalgia

Orang Indonesia itu punya karakter unik kalau nonton konser: kita nggak cuma mau dengerin musik, tapi kita mau karaokean massal. Kita adalah bangsa yang sangat menghargai nostalgia. Lagu-lagu yang sudah kita hafal luar kepala sejak zaman sekolah punya daya tarik magis yang nggak bisa dikalahkan oleh lagu baru se-eksperimental apa pun. Makanya, band-band era 90-an atau awal 2000-an masih laku keras.

Ada kepuasan tersendiri pas kita bisa teriak "Dan...!" bareng ribuan orang lainnya. Sensasi itu yang dijual oleh promotor. Konser di sini lebih sering jadi ajang "healing" kolektif daripada ajang apresiasi musik baru. Selama penonton masih mau membayar mahal untuk mendengarkan lagu yang sama setiap tahun, ya promotor bakal terus menyajikan hidangan yang sama.

Ekosistem Festival yang "Meledak" Tapi Minim Stok Headliner

Beberapa tahun terakhir, festival musik di Indonesia tumbuh nggak keruan banyaknya. Hampir tiap bulan ada aja festival baru dengan nama-nama yang mirip. Masalahnya, pertumbuhan jumlah festival ini nggak dibarengi dengan pertumbuhan jumlah "headliner" yang levelnya setara. Di Indonesia, artis yang masuk kategori "papan atas" yang bisa narik massa puluhan ribu itu jumlahnya terbatas.

Akibatnya, terjadi perebutan jadwal antara satu festival dengan festival lainnya. Artis A minggu ini di Jakarta, minggu depan di Surabaya, dua minggu lagi balik lagi ke Jakarta tapi di acara yang berbeda. Akhirnya, ekosistem kita jadi kayak muter-muter di situ aja. Kita kekurangan nama baru yang punya "star power" cukup kuat untuk menjadi penutup acara (closing act). Musisi muda banyak yang berbakat, tapi butuh waktu dan konsistensi luar biasa untuk bisa sampai di level di mana orang mau beli tiket cuma buat liat mereka doang.

Faktor Sponsor dan Algoritma Safe Play

Jangan lupakan peran sponsor. Brand-brand besar yang mendanai festival biasanya punya syarat yang cukup ketat. Mereka mau logo mereka terpampang di samping artis yang punya engagement tinggi dan citra yang bersih. Brand rokok, provider telekomunikasi, atau aplikasi bank digital lebih suka main aman dengan artis yang sudah jelas pasarnya. Mereka nggak mau ambil risiko diasosiasikan dengan artis yang terlalu "niche" atau belum teruji secara komersial.

Selain itu, media sosial juga punya andil. Algoritma membuat kita sering terpapar pada hal yang itu-itu saja. Kalau satu artis viral dan banyak yang nge-post, promotor lain bakal ikutan manggil karena takut ketinggalan tren (FOMO). Jadilah siklus "artis sejuta umat" ini terus berputar tanpa henti.

Lalu, Apakah Kita Harus Bosan?

Sebenarnya nggak salah juga kalau kita suka nonton artis yang sama berkali-kali. Selama performa mereka tetap prima dan aransemennya nggak ngebosenin, ya sah-sah saja. Tapi, sebagai penikmat musik, ada baiknya kita juga mulai memberikan ruang buat nama-nama baru. Cobalah datang ke panggung-panggung kecil atau area festival yang mainnya sore hari, di mana musisi-musisi baru biasanya tampil.

Industri musik kita perlu regenerasi di level panggung besar. Kalau kita cuma mau nonton yang itu-itu saja, jangan kaget kalau sepuluh tahun ke depan, lineup festival musik kita masih nggak berubah, cuma mungkin wajah artisnya aja yang makin banyak kerutan. Jadi, buat kamu yang sering ngeluh "kok dia lagi yang manggung?", mungkin ini saatnya kamu mulai dengerin playlist baru dan dukung musisi lokal yang lagi merangkak naik. Biar panggung musik kita nggak cuma jadi ajang reuni, tapi juga jadi tempat lahirnya legenda-legenda baru.

Logo Radio
🔴 Radio Live