Ceritra
Ceritra Olahraga

Mengenal Padel: Ketika Lahan Sempit Berubah Jadi Gaya Hidup Elit

Nizar - Tuesday, 07 April 2026 | 07:00 PM

Background
Mengenal Padel: Ketika Lahan Sempit Berubah Jadi Gaya Hidup Elit
Raket dan Bola Padel (Women'sHealth/ Chamain van Zyl)

Mengenal Padel: Olahraga Gak Sengaja dari Meksiko yang Kini Bikin Jakarta Ketagihan

Pernah nggak sih kamu lagi scrolling Instagram atau TikTok, terus lewat video orang main tenis tapi lapangannya dikelilingi kaca? Raketnya nggak pakai senar, bentuknya kayak talenan plastik raksasa yang bolong-bolong, dan suaranya lebih mirip bunyi ketukan pintu daripada suara bola tenis pada umumnya. Kalau pernah, selamat, kamu baru saja menyaksikan demam Padel yang lagi menjangkiti kaum urban di Indonesia.

Belakangan ini, Padel memang lagi naik daun banget. Dari kalangan selebriti, influencer, sampai anak kantor yang biasanya cuma hobi mabar Mobile Legends, sekarang mulai ramai-ramai sewa lapangan Padel. Tapi, sebenernya ini olahraga apa sih? Kok tiba-tiba muncul dan langsung terasa elit? Mari kita bongkar sejarahnya yang ternyata berawal dari sebuah 'ketidaksengajaan' yang berkelas.

Lahir dari Sempitnya Lahan Orang Kaya

Kalau kamu mengira Padel diciptakan lewat riset laboratorium olahraga yang rumit, kamu salah besar. Usut punya usut, Padel lahir di tahun 1969 di Acapulco, Meksiko. Penciptanya adalah seorang pengusaha bernama Enrique Corcuera. Ceritanya, Enrique pengen banget punya lapangan tenis di rumahnya. Tapi masalahnya klasik: lahan rumahnya nggak cukup buat bikin lapangan tenis ukuran standar.

Bukannya menyerah atau pindah rumah, Enrique malah memutar otak. Dia bikin lapangan tenis versi mini, kira-kira sepertiga dari ukuran asli. Karena areanya mepet dengan tembok rumah dan pagar, dia sekalian saja membiarkan tembok itu jadi bagian dari permainan. Jadi, kalau bola kena tembok, ya lanjut terus. Dia juga mengganti raket senar dengan raket kayu padat agar bola nggak meluncur terlalu kencang di area yang sempit itu. Dari sinilah nama "Padel" muncul, merujuk pada bentuk raketnya yang menyerupai dayung (paddle).

Lucunya, olahraga ini awalnya cuma jadi hiburan internal keluarga Corcuera dan teman-teman jetset-nya. Sampai suatu hari, seorang teman Enrique asal Spanyol, Pangeran Alfonso von Hohenlohe, jatuh cinta sama permainan ini. Dia membawa konsep Padel ke Marbella, Spanyol, dan membangun lapangan Padel pertama di sana pada 1974. Sejak saat itu, Spanyol jadi 'ibu angkat' Padel yang membuatnya meledak di Eropa sebelum akhirnya mampir ke Indonesia.

Kenapa Padel Bisa 'Meledak' di Indonesia?

Masuknya Padel ke Indonesia sebenarnya nggak bisa dilepaskan dari tren gaya hidup sehat pasca-pandemi. Orang-orang mulai haus akan aktivitas luar ruangan yang seru tapi nggak seberat lari maraton atau serumit tenis lapangan. Bali menjadi pintu masuk utama. Di tempat-tempat kayak Canggu atau Uluwatu, komunitas ekspatriat mulai membangun lapangan Padel karena mereka sudah akrab dengan olahraga ini di negara asalnya.

Lalu, kenapa sekarang Jakarta dan kota-kota besar lainnya ikut demam? Jawabannya ada tiga: Sosial, Gampang, dan Instagrammable. Mari kita bahas satu per satu secara jujur.

Pertama, Padel itu olahraga sosial banget. Permainannya harus dilakukan secara ganda (dua lawan dua). Jarak antar pemain yang cukup dekat membuat kita bisa sambil ngobrol, ngeledek lawan, atau sekadar ketawa-ketiwi kalau ada yang gagal mukul bola. Ini beda banget sama tenis yang areanya luas dan bikin kita harus lari-lari sampai napas senin-kamis.

Kedua, kurva belajarnya nggak curam. Kalau kamu main tenis, mungkin butuh waktu berbulan-bulan latihan cuma buat bisa servis yang bener. Di Padel? Servisnya cuma di bawah pinggang (underhand). Orang yang baru pertama kali pegang raket pun biasanya dalam sepuluh menit sudah bisa melakukan rally-rally panjang. Rasanya jadi kayak pemain pro instan, dan itu bikin nagih!

Ketiga, jangan lupakan faktor estetika. Lapangan Padel yang dikelilingi kaca jernih dengan lampu-lampu neon di malam hari itu sangat fotogenik. Ditambah lagi outfit Padel yang kece-kece, lengkap dengan raketnya yang colorful. Rasanya nggak sah kalau main Padel tapi nggak posting story "Sweaty but Happy" di Instagram, kan?

Antara Gaya Hidup dan Olahraga Prestasi

Sekarang, lapangan Padel bermunculan di mana-mana. Dari kawasan Senayan, PIK, sampai ke daerah BSD, peminatnya antre sampai tengah malam. Bahkan, beberapa klub Padel di Jakarta punya waiting list yang cukup panjang untuk jam-jam primetime. Harganya? Ya, jujur saja, olahraga ini belum bisa dibilang murah. Sewa lapangannya masih di angka ratusan ribu per jam, belum lagi sewa raket dan beli bolanya yang khusus.

Tapi, di balik kesan elitnya, perkembangan Padel di Indonesia mulai mengarah ke arah yang lebih serius. Sekarang sudah mulai ada turnamen-turnamen amatir hingga semi-pro. PBPI (Pengurus Besar Padel Indonesia) juga sudah mulai aktif melakukan sosialisasi. Ini bukan lagi sekadar tren sesaat kayak es kepal milo, tapi sudah mulai membentuk ekosistem olahraga yang solid.

Beberapa pengamat gaya hidup bilang kalau Padel adalah "Golf baru untuk anak muda". Kenapa? Karena di lapangan Padel-lah sekarang banyak deal-deal bisnis terjadi, atau minimal jadi tempat networking yang santai. Kamu bisa ketemu rekan kerja, gebetan, atau teman lama sambil berkeringat sehat tanpa harus merasa terintimidasi oleh teknis permainan yang sulit.

Kesimpulan: Apakah Kamu Harus Coba?

Kalau kamu tipe orang yang gampang bosan sama treadmill atau merasa main tenis itu terlalu menguras tenaga, Padel adalah jawaban yang pas. Memang sih, dompet mungkin bakal sedikit lebih tipis buat bayar sewa lapangan, tapi keseruan dan hormon endorfin yang didapat sebanding banget.

Padel membuktikan bahwa olahraga nggak harus selalu soal kompetisi yang kaku atau latihan yang menyiksa. Kadang, olahraga cuma butuh sebuah raket bolong, kotak kaca, dan tiga orang teman yang sama-sama ingin tertawa sambil berkeringat. Jadi, gimana? Sudah siap booking lapangan buat weekend ini, atau masih mau jadi penonton story orang lain saja?

Yang jelas, dari sebuah lahan sempit di Meksiko sampai jadi primadona di Jakarta, Padel mengajarkan kita satu hal: kalau kamu punya keterbatasan ruang, jangan menyerah. Bikin saja aturannya sendiri. Siapa tahu, ide isengmu itu bakal jadi tren dunia suatu saat nanti.

Logo Radio
🔴 Radio Live