Ceritra
Ceritra Update

Mengapa Retinol Jadi Skincare Wajib untuk Usia 20-an ke Atas?

Elsa - Thursday, 30 April 2026 | 06:00 PM

Background
Mengapa Retinol Jadi Skincare Wajib untuk Usia 20-an ke Atas?
Ilustrasi Penggunaan Retinol (Pinterest/)

Retinol: Antara Obsesi Awet Muda dan Drama Kulit Mengelupas

Pernah nggak sih kamu lagi asyik ngaca, terus tiba-tiba nemu garis halus tipis di bawah mata yang sebelumnya nggak ada? Atau mungkin pas lagi kumpul bareng temen, tiba-tiba ada yang nyeletuk, "Eh, muka lu kok kusam banget, kurang tidur ya?" Di saat itulah, biasanya kepanikan melanda. Kita langsung buka TikTok atau Instagram, nyari solusi instan buat menyelamatkan wajah dari ancaman penuaan dini. Dan di sanalah, sebuah kata ajaib muncul berulang kali di kolom komentar para influencer: Retinol.

Retinol itu ibarat "anak emas" di dunia skincare. Dia dipuja-puja sebagai bahan ajaib yang bisa bikin kulit auto-glowing, menghilangkan jerawat, sampai menyamarkan kerutan seolah-olah kita punya mesin waktu sendiri. Tapi, jujur aja, pakai retinol itu nggak semudah pakai pelembap biasa yang tinggal sat-set langsung beres. Ada drama, ada air mata, dan ada fase "muka kayak kepiting rebus" yang harus dilewati kalau kita nggak hati-hati.

Sebenarnya, apa sih retinol itu? Singkatnya, dia adalah turunan dari Vitamin A. Tugas utamanya adalah mempercepat regenerasi sel kulit. Jadi, sel kulit mati yang numpuk dan bikin muka kusam bakal dipaksa minggir lebih cepat buat digantikan sama sel baru yang lebih segar. Masalahnya, kadang si retinol ini kerjanya terlalu semangat. Dia kayak bos yang ambisius banget; mau semuanya beres dalam semalam, padahal mental (baca: skin barrier) kita belum tentu siap.

Banyak dari kita, terutama kaum FOMO, langsung beli retinol dengan konsentrasi tinggi karena pengen hasil instan. Padahal, buat yang baru mau nyoba, ini adalah kesalahan fatal. Alih-alih dapet wajah ala artis Korea, yang ada malah kulit jadi kering, mengelupas, sampai perih pas kena air. Fenomena ini sering disebut "purging". Di fase ini, rasanya pengen nangis sambil buang itu botol serum ke tempat sampah. Tapi kata para suhu skincare, "Sabar, itu tandanya dia lagi kerja." Ya, kerja sih kerja, tapi kalau muka jadi merah kayak habis ditabok, siapa yang nggak panik?

Makanya, ada semacam kode etik atau "aturan main" kalau mau masuk ke sirkel pengguna retinol. Pertama, jangan pernah pakai di pagi hari. Retinol itu sifatnya sensitif banget sama sinar matahari. Pakai retinol di bawah terik matahari itu ibarat sengaja nantangin maut buat kulitmu. Bukannya jadi cakep, yang ada malah kena hiperpigmentasi. Jadi, retinol itu ritual khusus malam hari, saat kamu sudah siap rebahan dan nggak bakal kena polusi lagi.

Kedua, mulailah dengan metode "Sandwich". Bukan, ini bukan soal makanan. Metode sandwich dalam skincare artinya kamu pakai pelembap dulu, terus retinol, terus ditutup lagi pakai pelembap. Tujuannya buat ngasih bantalan supaya kulit nggak kaget-kaget banget pas kena bahan aktifnya. Ibaratnya kayak mau kenalan sama calon mertua, harus ada perantaranya dulu biar nggak canggung. Dan jangan serakah! Cukup pakai sebesar biji jagung buat seluruh wajah. Pakai lebih banyak nggak bakal bikin kamu jadi sepuluh tahun lebih muda dalam semalam, yang ada malah bikin iritasi parah.

Selain itu, satu hal yang sering banget dilupain sama anak muda zaman sekarang adalah sunscreen. Pakai retinol tapi nggak pakai sunscreen pas siangnya itu adalah dosa besar dalam dunia per-skincare-an. Kulit yang lagi diproses sama retinol itu jadi lebih tipis dan sensitif. Tanpa perlindungan sunscreen, usaha kamu pakai skincare mahal-mahal bakal sia-sia belaka. Jadi, kalau kamu tipe orang yang malas pakai sunscreen tiap dua jam sekali, mending pikir-pikir lagi deh sebelum mulai pakai retinol.

Ada satu observasi menarik: sekarang banyak banget remaja umur belasan tahun yang sudah mulai tanya-tanya soal retinol. Padahal, menurut para ahli, produksi kolagen kita baru mulai menurun di usia pertengahan 20-an. Rasanya agak miris melihat anak sekolah sudah pusing mikirin kerutan. Mungkin ini efek media sosial yang standarnya makin nggak masuk akal. Padahal, di usia segitu, fokusnya cukup di basic skincare saja: bersihin muka, pakai pelembap, dan lindungi pakai sunscreen. Jangan sampai kulit yang masih sehat-sehatnya malah rusak gara-gara "over-skincare".

Tapi ya gitu, namanya juga tren. Kita sering kali merasa tertinggal kalau nggak nyobain apa yang lagi viral. Padahal, setiap kulit itu punya ceritanya sendiri. Ada yang pakai retinol tiga hari sekali langsung glowing, ada yang butuh waktu berbulan-bulan cuma buat nyesuaiin diri. Kuncinya cuma satu: dengerin kulit kamu sendiri, bukan dengerin omongan sales atau influencer yang kulitnya memang sudah bagus dari sananya.

Kesimpulannya, retinol memang bisa jadi sahabat terbaik buat kulitmu kalau kamu tahu caranya memperlakukan dia dengan hormat. Jangan terburu-buru, jangan kemakan iklan, dan yang paling penting, jangan bereksperimen sembarangan kalau nggak mau muka jadi korban. Anggap aja perjalanan pakai retinol ini sebagai maraton, bukan lari sprint. Pelan-pelan asal konsisten, nanti juga hasilnya bakal kelihatan pas kamu reuni sekolah sepuluh tahun lagi, di saat temen-temenmu mulai keriput tapi kamu tetap kelihatan segar kayak mahasiswa baru.

Jadi, gimana? Sudah siap menghadapi drama purging demi masa depan kulit yang cerah? Ingat, skincare itu investasi jangka panjang, dan retinol adalah salah satu aset yang paling menjanjikan, asalkan kamu nggak main hantam kromo aja dalam memakainya. Stay glowing, tapi tetap masuk akal ya!

Logo Radio
🔴 Radio Live