Ceritra
Ceritra Kota

Mengapa Permukiman Modern Terus Berubah Mengikuti Gaya Hidup Masyarakat?

Shannon - Tuesday, 04 August 2026 | 03:00 PM

Background
Mengapa Permukiman Modern Terus Berubah Mengikuti Gaya Hidup Masyarakat?
(Luxurious Magazine/)

Rumah Bukan Lagi Sekadar Atap: Alasan Mengapa Hunian Kita Makin 'Aneh' Tapi Masuk Akal

Coba ingat-ingat lagi bentuk rumah kakek atau nenek kita dulu di desa atau di pinggiran kota. Biasanya, ada ruang tamu yang luasnya minta ampun, lengkap dengan kursi jati yang beratnya bisa bikin pinggang encok kalau digeser. Di bagian depan, ada halaman luas yang seringkali cuma jadi tempat jemur rengginang atau parkir mobil tamu setahun sekali pas Lebaran. Tapi sekarang? Coba tengok perumahan klaster baru atau apartemen di tengah kota. Bentuknya jauh beda. Ruang tamunya mengecil—bahkan ada yang nggak punya—tapi dapurnya estetik kayak di Pinterest, dan area kerjanya malah lebih diprioritaskan.

Kenapa sih permukiman modern tuh berubah terus kayak tren gaya rambut? Jawabannya sederhana tapi dalem: karena manusia yang tinggal di dalamnya juga sudah berubah total cara menjalani hidupnya. Rumah bukan lagi cuma sekadar tempat berteduh dari hujan dan panas, tapi sudah jadi "multi-purpose hub" yang harus bisa mengakomodasi segala keribetan gaya hidup kaum urban zaman sekarang.

Dulu Pamer Ruang Tamu, Sekarang Pamer Sudut Zoom

Salah satu perubahan paling mencolok adalah soal pembagian ruang. Kalau dulu status sosial diukur dari seberapa megah ruang tamu lu, sekarang ceritanya sudah beda. Anak muda zaman sekarang, atau yang sering disebut generasi "sat-set", lebih jarang nerima tamu di rumah. Kalau mau ketemu temen, ya di kafe. Kalau mau meeting, ya di ruang meeting kantor atau lewat Google Meet. Akhirnya, fungsi ruang tamu pun terpinggirkan.

Sebagai gantinya, muncul kebutuhan akan "dedicated workspace". Sejak pandemi melanda dan WFH jadi gaya hidup permanen bagi sebagian orang, sudut rumah yang tadinya cuma tempat naruh tumpukan baju, berubah jadi studio mini. Pencahayaannya harus pas, latarnya harus rapi biar nggak malu-maluin pas lagi presentasi depan bos. Inilah alasan kenapa pengembang properti sekarang lebih sering masarin fitur "compact office" atau "smart corner" ketimbang pamer luas halaman depan.

Filosofi 'Less is More' yang Terpaksa Tapi Suka

Mari jujur-jujuran, harga tanah di kota besar itu sudah nggak masuk akal. Buat beli rumah seluas istana Bogor, mungkin kita butuh sepuluh kali masa kehidupan. Keterbatasan lahan ini akhirnya melahirkan tren compact living atau rumah mikro. Tapi anehnya, orang-orang nggak merasa terlalu menderita tinggal di tempat yang lebih kecil. Kenapa? Karena gaya hidup minimalis lagi naik daun.

Orang modern lebih suka furnitur yang multifungsi. Sofa yang bisa jadi kasur, atau meja makan yang bisa dilipat ke tembok. Tren ini bukan cuma soal keterbatasan uang, tapi juga soal efisiensi. Siapa sih yang mau menghabiskan waktu akhir pekan cuma buat nyapu rumah yang luasnya kayak lapangan bola? Kita lebih milih rumah yang ringkas tapi fungsional, biar waktu sisanya bisa dipakai buat healing atau sekadar nonton Netflix tanpa rasa bersalah.

Teknologi yang Bikin Kita Jadi 'Manja' (Tapi Efisien)

Gaya hidup masyarakat modern itu sangat lekat dengan teknologi. Kalau dulu kita harus bangun buat matiin lampu, sekarang tinggal bilang, "Hey Siri, matiin lampu kamar," sambil merem. Permukiman modern sekarang mulai mengadopsi konsep smart home system secara massal. Bukan cuma buat gaya-gayaan, tapi memang gaya hidup kita menuntut itu.

Misalnya, fitur smart lock yang bikin kita nggak perlu panik kalau lupa bawa kunci atau takut rumah dibobol pas lagi ditinggal liburan. Atau soal pengelolaan energi yang lebih hijau. Karena sekarang isu lingkungan lagi kenceng-kencengnya, rumah modern mulai banyak pakai panel surya atau sistem sirkulasi udara alami yang lebih baik. Jadi, perubahan fisik bangunan ini sebenarnya adalah respons terhadap kesadaran baru kita soal teknologi dan lingkungan.

Fasilitas Bersama yang Menggantikan Halaman Pribadi

Kalau kita liat perumahan modern atau apartemen, halaman pribadi emang makin ciut. Tapi, fasilitas bersamanya makin gila-gilaan. Ada co-working space di dalam lobi, pusat kebugaran yang alatnya lebih lengkap dari gym komersial, sampai taman komunal yang ada Wi-Fi kencengnya. Ini terjadi karena gaya hidup kita yang makin komunal secara sosial tapi privat secara personal.

Kita nggak butuh halaman sendiri kalau di depan rumah ada taman publik yang dirawat sama manajemen lingkungan. Kita nggak butuh ruang olahraga sendiri kalau tinggal jalan kaki lima menit sudah bisa angkat beban. Pergeseran ini menunjukkan bahwa masyarakat modern lebih menghargai "akses" daripada "kepemilikan". Kita lebih senang punya akses ke kolam renang yang bagus daripada punya kolam renang sendiri tapi repot ngurusin lumutnya tiap minggu.

Rumah Sebagai Ekspresi Identitas

Terakhir, permukiman berubah karena sekarang rumah dipandang sebagai cerminan diri. Dulu, model rumah itu template banget, paling pilihannya cuma gaya Mediterania atau minimalis standar. Sekarang? Ada gaya industrial yang temboknya sengaja nggak dipleset, ada gaya Skandinavia yang serba putih dan kayu, sampai gaya "japandi" yang estetik abis.

Perubahan ini mengikuti bagaimana kita mengonsumsi konten visual setiap hari. Media sosial bikin kita ingin punya rumah yang "Instagrammable". Sudut rumah bukan lagi cuma tempat naruh barang, tapi jadi panggung buat konten. Jadi, jangan heran kalau desain rumah modern itu makin unik-unik, karena setiap orang pengen huniannya punya cerita dan karakter yang beda dari tetangganya.

Pada akhirnya, permukiman akan terus berubah seiring dengan berubahnya cara kita kerja, cara kita sosialisasi, dan cara kita mandang dunia. Rumah adalah saksi bisu sejarah manusia. Dan kalau di masa depan kita mulai tinggal di rumah yang bisa terbang atau bisa pindah-pindah tempat, ya jangan kaget. Itu cuma berarti gaya hidup kita sudah berubah lagi ke level berikutnya. Jadi, rumah lu sekarang sudah sesuai belum sama gaya hidup lu, atau malah lu yang masih nyesuain diri sama sisa-sisa desain masa lalu?


Pembahasan ini merupakan salah satu bagian dari perjalanan perkembangan sebuah kota. Untuk melihat gambaran yang lebih utuh, kunjungi artikel utama "Kenapa Kota Terus Berubah? Memahami Perkembangan Perkotaan dari Dulu hingga Sekarang", yang merangkum berbagai perubahan perkotaan dari masa ke masa.

https://ceritra.com/article/mengapa-kota-terus-berkembang-memahami-perubahan-wajah-perkotaan-dari-masa-ke-masa


Baca juga: Gedung Pencakar Langit: Mengapa Kota-Kota Besar Terus Membangun ke Atas? untuk mengetahui mengapa keterbatasan lahan membuat pembangunan kota kini lebih banyak dilakukan secara vertikal.

Logo Radio
🔴 Radio Live