

Tangisan pertama bayi setelah dilahirkan sering kali menjadi momen yang ditunggu-tunggu oleh tenaga medis maupun orang tua. Bukan sekadar ekspresi emosi, tangisan ini memiliki peran yang sangat penting dalam menandai bahwa bayi telah berhasil beradaptasi dengan kehidupan di luar rahim. Secara medis, tangisan pertama berkaitan erat dengan proses pernapasan. Selama berada di dalam kandungan, bayi tidak menggunakan paru-parunya untuk bernapas, melainkan mendapatkan oksigen melalui plasenta. Saat lahir, paru-paru bayi harus mulai bekerja secara mandiri. Tangisan membantu membuka alveoli (kantung udara kecil di paru-paru) yang sebelumnya masih tertutup, sehingga udara dapat masuk dan pertukaran oksigen berlangsung dengan baik.
Selain itu, tangisan juga membantu mengeluarkan cairan yang masih tersisa di saluran pernapasan bayi. Ketika bayi menangis, tekanan yang dihasilkan dari napas kuat akan mendorong cairan tersebut keluar, sehingga jalur napas menjadi lebih bersih dan optimal untuk bernapas. Dari sisi fisiologis, tangisan pertama juga menjadi indikator penting bahwa sistem saraf bayi berfungsi dengan baik. Bayi yang langsung menangis biasanya menunjukkan respons refleks yang normal terhadap rangsangan lingkungan baru, seperti perubahan suhu, cahaya, dan sentuhan.
Namun, perlu diluruskan bahwa bayi tidak selalu harus "dibuat" menangis secara sengaja. Dalam praktik medis modern, tenaga kesehatan akan memastikan bayi mendapatkan stimulasi yang lembut, seperti mengeringkan tubuh atau menepuk ringan, untuk merangsang pernapasan jika bayi belum langsung menangis. Tindakan ini dilakukan dengan hati-hati dan sesuai prosedur, bukan dengan cara yang kasar atau menyakitkan. Dalam beberapa kasus, bayi mungkin tidak langsung menangis karena kondisi tertentu, seperti prematuritas atau gangguan pernapasan. Oleh karena itu, tenaga medis akan melakukan penilaian melalui skor Apgar untuk memastikan kondisi bayi secara keseluruhan, bukan hanya berdasarkan tangisan semata.
Kesimpulannya, tangisan pertama bayi bukan hanya sekadar suara, melainkan tanda penting bahwa bayi mulai bernapas, beradaptasi, dan memiliki respons tubuh yang baik. Meski demikian, tujuan utamanya bukan membuat bayi menangis, melainkan memastikan ia dapat bernapas dengan optimal sejak detik pertama kehidupannya.
Next News

Usut Dugaan Aliran Dana Sel Mewah Cibinong: Kemenimipas Buka Celah Pelimpahan ke APH
11 days ago

Ditjenpas Uji Keabsahan Foto Terpidana Jimmy Masrin di Area Fasilitas Khusus Lapas Cibinong
11 days ago

Kehadiran Shandy Aulia di Agenda Resmi Kepolisian Bersama Irjen Suyudi Ario Seto Jadi Sorotan Publik
11 days ago

Kunci Pembuktian Kasus Lapas Cibinong: DPR Desak Buka Rekaman CCTV dan Logbook Pintu Masuk
12 days ago

DPR dan Kemenimipas Robohkan 10 Bangunan Ilegal di Lapas Cibinong Gunakan Alat Berat
12 days ago

Mencegah Penyelundupan Lewat Barang Titipan: Rutan Depok Perjelas SOP Pemeriksaan Fisik
11 days ago

Video Viral Pria Diduga Pesta Narkoba di Lapas Depok, Pihak Rutan Lakukan Penyelidikan
11 days ago

Tak Ada Toleransi Pelanggaran di Sel, Rutan Depok Siapkan Sanksi Pencabutan Hak Remisi
11 days ago

Kehadiran Shandy Aulia di Agenda Resmi Kepolisian Bersama Irjen Suyudi Ario Seto Jadi Sorotan Publik
14 days ago

Terungkap! Ombudsman Konfirmasi Koruptor Jimmy Masrin Tempati Hunian Mewah di Lapas Cibinong
16 days ago

