Lebih Cepat dari F1, Fisika Gila di Balik Bulu Angsa pada Permainan Badminton
Refa - Monday, 15 December 2025 | 02:00 AM


Badminton, atau tepok bulu, adalah olahraga yang mendarah daging di Indonesia. Mulai dari gang sempit di kampung hingga arena megah Istora Senayan, kita semua suka memainkannya.
Namun, pernahkah kita berhenti sejenak dan memperhatikan bola yang dipukul? Berbeda dengan sepak bola, tenis, atau basket yang menggunakan bola bulat, badminton menggunakan shuttlecock (kok) berbentuk kerucut terbuka.
Bentuk aneh ini bukan sekadar hiasan. Ia adalah mahakarya aerodinamika yang membuat badminton menjadi olahraga dengan proyektil tercepat di dunia, sekaligus yang paling "melanggar" logika fisika.
Proyektil Tercepat di Muka Bumi
Banyak yang mengira bola tenis atau golf adalah yang tercepat. Anggapan itu keliru besar.
Rekor kecepatan smash dalam kompetisi badminton bisa menembus angka 493 km/jam (rekor Tan Boon Heong), dan dalam tes laboratorium bahkan pernah mencapai lebih dari 500 km/jam.
Sebagai perbandingan, mobil balap Formula 1 rata-rata melaju "hanya" di kisaran 300-370 km/jam. Artinya, saat atlet melakukan smash, kok itu meluncur lebih cepat daripada mobil balap terhebat sekalipun. Jika mata penonton sering gagal mengikuti arah smash Kevin Sanjaya, jangan sedih. Itu wajar karena kecepatannya memang di luar nalar manusia.
Sistem Pengereman Parasut
Tapi tunggu dulu. Jika kok melaju secepat itu, kenapa penerimanya tidak cedera parah saat terkena pukulan?
Di sinilah kejeniusan desain shuttlecock. Susunan 16 helai bulu angsa pada kok berfungsi sebagai rem udara atau parasut alami.
Dalam ilmu fisika, kok memiliki drag coefficient (hambatan udara) yang sangat tinggi. Sesaat setelah dipukul dengan ledakan tenaga yang dahsyat, kok akan langsung mengalami pengereman ekstrem oleh udara. Ia melesat secepat kilat di 2 meter pertama, lalu melambat drastis di meter-meter berikutnya agar bisa dipukul balik oleh lawan.
Inilah yang membuat ritme badminton sangat unik dan tidak bisa ditiru olahraga lain, yaitu meledak cepat, lalu melambat tiba-tiba.
Kenapa Harus Bulu Angsa?
Kenapa atlet profesional tidak mau memakai kok plastik?
Kok plastik (nilon) memiliki "rok" yang mulus. Saat dipukul, bentuknya berubah (gepeng) lalu kembali lagi, membuat terbangnya tidak stabil dan lajunya terlalu kencang tanpa pengereman yang akurat.
Sebaliknya, kok profesional harus terbuat dari bulu sayap angsa (biasanya sayap sebelah kiri saja agar putarannya seragam). Struktur bulu angsa memiliki pori-pori mikroskopis dan kekakuan yang sempurna. Saat dipukul, bulu-bulu ini menciptakan putaran (spin) yang membuat kok terbang stabil seperti peluru kendali, lalu "mekar" untuk mengerem saat kecepatannya turun.
Fisika dalam Genggaman
Jadi, badminton bukan sekadar adu otot dan stamina. Ia adalah pertunjukan fisika tingkat tinggi.
Setiap kali melihat atlet melakukan netting tipis yang jatuh gemulai, atau smash keras yang suaranya meledak seperti petasan, ingatlah: ada interaksi rumit antara tenaga manusia, hambatan udara, dan 16 helai bulu angsa yang bekerja dalam hitungan milidetik.
Next News

Tukar Stres dengan Endorfin! Manfaat Olahraga Malam untuk Kesehatan Mental dan Fisik
in 6 hours

Mental Baja Guardiola Saat City Tertinggal Jauh dari Arsenal
a day ago

Mengapa Lari Hanya Modal Aplikasi Strava Belum Cukup untuk Performa Maksimal
2 days ago

Lolos ke Final Thailand Masters 2026 Amallia Fadia Jaga Asa Juara Ganda Putri Indonesia di Bangkok
4 days ago

Ubed Pastikan Langkah ke Final Thailand Masters 2026 Setelah Tumbangkan Alwi Farhan
4 days ago

Berotot Tanpa Gym? Panduan Lengkap Calisthenics untuk Menambah Berat Badan
5 days ago

Pilates Reformer Tower atau Matras, Simak Panduan Lengkapnya Agar Sesuai Kebutuhan Tubuhmu
5 days ago

Megawati dan Tim Fokus Benahi Permainan Setelah Jakarta Pertamina Enduro
5 days ago

Tubuh Punya Pelatih Tak Terlihat, Begini Jam Biologis Menentukan Hasil Olahraga
6 days ago

Filosofi di Balik Kokohnya Pertahanan Persebaya Surabaya
6 days ago






