Laut Surut Mendadak Bukan Rezeki Nomplok! Awas, Ini Tanda Tsunami Paling Mematikan
Refa - Monday, 26 January 2026 | 03:30 PM


Salah satu fenomena alam paling menipu sesaat sebelum tsunami menerjang adalah surutnya air laut secara drastis dalam waktu singkat. Bagi masyarakat awam, pemandangan dasar laut yang kering dan ikan-ikan yang menggelepar sering dianggap sebagai keajaiban atau rezeki.
Sejarah mencatat, banyak korban jiwa, seperti pada Tsunami Aceh 2004 jatuh justru karena mereka turun ke pantai untuk mengambil ikan saat air surut. Padahal, ini adalah sinyal bahaya terakhir yang diberikan alam sebelum gelombang penghancur datang.
Berikut adalah 3 fakta krusial tentang fenomena "Air Surut Palsu" ini:
1. Mekanisme Drawback (Penarikan Air)
Fenomena ini dalam istilah geologi disebut drawback. Saat patahan lempeng di dasar laut bergerak, ia menciptakan ruang kosong atau cekungan besar secara tiba-tiba.
Air laut di pesisir akan tersedot mundur dengan cepat untuk mengisi ruang kosong tersebut dan membentuk dinding gelombang raksasa di tengah laut. Semakin jauh air surut, biasanya semakin besar dan tinggi gelombang tsunami yang akan menghantam balik.
2. Jebakan "Ikan Terdampar"
Efek visual dari drawback sangat menggoda. Karang-karang indah terlihat, dan ribuan ikan besar terdampar di pasir karena tidak sempat berenang mengikuti air yang surut secepat kilat.
Inilah momen paling kritis. Keingintahuan warga untuk melihat atau mengambil ikan sering kali membuat mereka lupa diri. Padahal, air yang surut itu sedang mengumpulkan energi potensial yang sangat besar untuk kembali menghempas daratan.
3. Hitungan Menit, Bukan Jam
Jeda waktu antara air surut hingga gelombang pertama datang sangatlah singkat. Biasanya hanya berkisar antara 5 hingga 10 menit, tergantung jarak pusat gempa.
Jika melihat air laut surut tidak wajar (bukan jadwal pasang surut biasa), apalagi didahului gempa, jangan berpikir dua kali. Tinggalkan pantai, teriakkan peringatan pada orang sekitar, dan lari ke tempat tinggi secepat mungkin. Sering kali fenomena ini juga disertai suara gemuruh keras dari arah laut seperti suara kereta api atau pesawat jet.
Next News

Sengkarut Hukum Roy Suryo dan Teka-Teki Ijazah Jokowi yang Memasuki Babak Baru Penuh Ketegangan
in 16 minutes

Spider-Noir dan Perang Estetika Antara Hitam Putih Klasik Lawan Warna Modern
7 days ago

Met Gala: Arisan Sosialita Level Dewa atau Sekadar Karnaval Baju Aneh?
7 days ago

Rahasia di Balik Guling: Dari "Istri Belanda" Hingga Jadi Teman Tidur Wajib Orang Indonesia
8 days ago

Dinamika Reshuffle: Antara Raport Merah, Catur Politik, dan Kebutuhan Zaman
8 days ago

Skena Lari Surabaya: Kenapa Harus Terbelah Jadi Banyak Komunitas? Kok Nggak Satu Saja?
19 days ago

Dollar, Militer, dan Big Mac: Alasan Kenapa Kita Semua Masih Hidup di 'Dunia Amerika
20 days ago

Bukan Cuma Modal Pede! Kenapa Kamu Wajib Jadi 'Bunglon' Saat Public Speaking
20 days ago

Jangan Sampai Perut Kenyang Tapi Otak "Busung Lapar": Membedah Prioritas Pendidikan Selain MBG
22 days ago

Soft saving vs YOLO spending: nabung pelan atau nikmatin hidup sekarang?
24 days ago





