Kerja Larut Malam demi Pujian? Ini Dampaknya bagi Mental
Nisrina - Friday, 27 March 2026 | 10:15 AM


Bayangkan skenario ini: Jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Tubuhmu sudah meringkuk manis di balik selimut, siap menjemput mimpi. Tiba-tiba, sebuah notifikasi muncul di layar ponsel. Bukan dari gebetan yang menanyakan "sudah makan belum", melainkan pesan dari bos atau rekan kerja di grup kantor yang membahas revisi mendadak untuk besok pagi. Alih-alih merasa kesal, ada sebagian kecil dari diri kita yang justru merasa "bangga" karena masih sibuk di jam segitu. Ada perasaan seolah-olah semakin sibuk kita, semakin berharga pula nilai diri kita di mata dunia.
Selamat datang di dunia hustle culture, sebuah gaya hidup yang mendewakan produktivitas di atas segalanya. Dulu, orang yang bekerja sampai tipes dianggap pahlawan. Sekarang? Orang-orang mulai memicingkan mata dan bertanya, "Buat apa sih kerja keras banget kalau ujung-ujungnya cuma buat bayar tagihan rumah sakit?"
Romantisasi Kerja Sampai Tipus
Beberapa tahun lalu, media sosial kita penuh dengan kutipan-kutipan inspiratif dari para miliarder teknologi. Kita dicekoki narasi bahwa kalau mau sukses, kita harus bangun jam empat pagi, mandi air es, baca tiga buku sehari, dan bekerja 18 jam tanpa henti. Istilah "Rise and Grind" atau "Sleep is for the Weak" jadi semacam mantra suci bagi anak muda urban. Kita merasa kalau nggak sibuk, berarti kita malas. Kalau nggak punya side hustle atau proyek sampingan, berarti kita tertinggal.
Namun, lama-kelamaan, romantisasi ini mulai terasa basi. Masalahnya, hustle culture menciptakan standar kesuksesan yang nggak masuk akal. Kita dipaksa untuk terus berlari di atas treadmill yang kecepatannya terus ditambah, tapi kita nggak pernah benar-benar sampai ke tujuan. Yang ada malah napas tersengal-sengal dan mental yang perlahan ambruk. Fenomena ini yang kemudian bikin banyak orang mulai berpikir ulang: apakah benar ini cara hidup yang kita inginkan?
Ketika "Self-Reward" Nggak Lagi Mempan
Salah satu alasan kuat kenapa hustle culture mulai dipertanyakan adalah karena dampaknya terhadap kesehatan mental yang nggak main-main. Kita sering mendengar istilah burnout. Dulu, istilah ini terdengar elit, tapi sekarang sudah jadi makanan sehari-hari budak korporat. Rasa lelah yang nggak kunjung hilang meskipun sudah tidur seharian di hari Minggu, atau perasaan hampa saat melihat pencapaian sendiri, adalah tanda-tanda nyata bahwa mesin di dalam kepala kita sudah kepanasan.
Kita mencoba mengobati rasa lelah itu dengan apa yang disebut sebagai self-reward. Beli kopi mahal setiap pagi, belanja barang-barang yang nggak terlalu butuh saat gajian, atau staycation singkat di akhir pekan. Tapi jujur saja, itu semua cuma perban kecil untuk luka yang menganga lebar. Kita cuma berusaha menambal kebahagiaan sesaat demi bisa kembali disiksa oleh beban kerja di hari Senin. Pola ini terus berulang sampai akhirnya kita sadar bahwa nggak ada jumlah kopi atau liburan singkat yang bisa menggantikan ketenangan batin.
Pandemi Sebagai Titik Balik
Kalau ada satu hal yang bisa kita "syukuri" dari pandemi COVID-19 beberapa tahun lalu, itu adalah momen jeda paksa yang diberikannya kepada dunia. Saat kantor-kantor tutup dan kita terpaksa bekerja dari rumah, batas antara ruang privat dan ruang kerja jadi kabur. Tapi di saat yang sama, banyak dari kita yang tersadar bahwa dunia ternyata nggak kiamat kalau kita berhenti sejenak.
Banyak orang mulai melihat bahwa mereka selama ini terlalu banyak memberikan waktu untuk perusahaan yang sebenarnya bisa mencari pengganti mereka dalam hitungan hari jika mereka tiba-tiba jatuh sakit. Pandemi menyadarkan kita bahwa keluarga, kesehatan, dan waktu luang untuk sekadar melamun adalah kemewahan yang selama ini kita korbankan demi mengejar target yang nggak pernah ada habisnya. Dari sinilah muncul gerakan-gerakan perlawanan halus seperti "Quiet Quitting" atau sekadar bekerja sesuai porsi tanpa harus memberikan jiwa dan raga sepenuhnya.
Masalah Ekonomi yang Nggak Sinkron
Selain soal kesehatan mental, ada alasan pragmatis kenapa orang-orang mulai skeptis sama hustle culture: realita ekonomi. Dulu, narasinya adalah "kerja keras maka kamu akan kaya". Sekarang? Banyak anak muda yang sudah bekerja banting tulang, ambil lembur sana-sini, tapi tetap saja nggak sanggup beli rumah karena harga properti yang naiknya nggak masuk akal dibanding kenaikan gaji.
Ada perasaan dikhianati oleh sistem. Kalau kerja keras nggak menjamin stabilitas finansial, lalu buat apa kita mengorbankan masa muda dan kesehatan? Orang mulai sadar bahwa hustle culture seringkali hanyalah cara bagi para pemilik modal untuk memeras tenaga karyawan sebanyak-banyaknya dengan iming-iming kesuksesan semu. Alhasil, daripada mengejar mimpi yang terasa makin jauh, banyak yang memilih untuk hidup secukupnya saja, asal bahagia dan nggak gila.
Mencari Jalan Tengah: Slow Living dan Batasan
Kini, tren mulai bergeser. Orang-orang mulai membicarakan work-life balance, atau yang lebih ekstrem lagi, slow living. Fokusnya bukan lagi soal seberapa banyak yang bisa kita hasilkan dalam sehari, tapi seberapa berkualitas hidup yang kita jalani. Kita mulai belajar untuk berani bilang "tidak" pada tugas tambahan yang masuk di luar jam kerja. Kita mulai menghargai hobi yang nggak menghasilkan uang, cuma karena itu bikin kita senang.
Tentu saja, ini bukan berarti kita jadi malas atau nggak punya ambisi. Ambisi itu bagus, tapi ambisi tanpa batasan adalah racun. Kita butuh produktivitas yang sehat, bukan produktivitas yang toksik. Pada akhirnya, manusia bukan robot yang didesain untuk terus beroperasi 24/7. Kita butuh jeda, butuh bosan, dan butuh untuk tidak melakukan apa-apa tanpa merasa bersalah.
Jadi, kalau hari ini kamu merasa lelah dan memilih untuk mematikan notifikasi kantor tepat jam lima sore, jangan merasa berdosa. Dunia nggak akan berhenti berputar cuma karena kamu memutuskan untuk beristirahat. Justru dengan beristirahat, kamu sedang merawat satu-satunya aset paling berharga yang kamu punya: dirimu sendiri.
Next News

Mengapa Tenggorokan Kering di Tengah Panas Terik? Ini Faktanya
in 6 hours

Mengapa Jam 11 Siang Sering Bikin Ngantuk? Simak Solusinya
in 4 hours

Pernah Tanya Kenapa Langit Biru? Temukan Jawabannya di Sini!
in 5 hours

Misteri Kaki Enteng di Hari Jumat Meski Kerja Menumpuk
an hour ago

Menyingkap Misteri Pembangunan Piramida Mesir yang Super Megah
in 3 hours

Bukan Sekadar Rasa, Inilah Penyebab Cabai Terasa Sangat Pedas
in 4 hours

Bukan Pakai Google Maps Ini Rahasia Sains di Balik Migrasi Burung
in 5 hours

Lebih dari Sekadar Cantik Ini Fakta Unik Gerakan Bunga Matahari
in 4 hours

Sering Alami Short Term Memory Loss? Simak Cara Mengatasinya
in 4 hours

Kembalikan Fungsi Rumah Sebagai Surga Istirahat Bukan Gudang Barang
in 3 hours

