Ceritra
Ceritra Uang

Kenikmatan Sesaat Paylater yang Bisa Bikin Sengsara di Awal Tahun

Refa - Thursday, 11 December 2025 | 09:00 AM

Background
Kenikmatan Sesaat Paylater yang Bisa Bikin Sengsara di Awal Tahun
Shopee Paylater (Pinterest/)

Desember selalu menjadi bulan ujian terberat bagi kesehatan dompet. Kombinasi antara diskon tanggal kembar 12.12, euforia Natal, hingga persiapan pesta Tahun Baru sering kali membuat logika finansial menjadi tumpul. Di tengah keinginan belanja yang menggebu namun saldo rekening mulai menipis, fitur Paylater atau "Beli Sekarang Bayar Nanti" muncul bak pahlawan kesiangan.


Paylater menawarkan solusi instan. Barang impian bisa langsung dikirim ke rumah tanpa perlu mengeluarkan uang sepeser pun saat itu juga. Namun, di balik kemudahannya, fitur ini menyimpan potensi jebakan psikologis yang bisa membuat kondisi keuangan di awal tahun 2026 menjadi berantakan.


Ilusi Kekayaan Semu

Masalah utama dari Paylater bukanlah pada fiturnya, melainkan pada efek psikologis yang ditimbulkannya pada otak manusia. Saat berbelanja menggunakan uang tunai atau debit, ada rasa "sakit" yang timbul karena melihat saldo berkurang secara real-time. Rasa sakit inilah yang menjadi rem alami untuk mengerem nafsu belanja.


Sebaliknya, Paylater memutus hubungan antara kenikmatan berbelanja dengan rasa sakit membayar. Pengguna merasa seolah-olah memiliki daya beli lebih besar dari kemampuan aslinya. Ilusi "dompet tebal" ini membuat seseorang cenderung lebih impulsif memasukkan barang-barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan ke dalam keranjang belanja. Akibatnya, total belanjaan sering kali membengkak jauh melebihi anggaran yang seharusnya.


Mimpi Buruk di Bulan Januari

Euforia belanja di bulan Desember biasanya akan berakhir tragis saat tagihan datang di bulan Januari. Awal tahun yang seharusnya disambut dengan semangat baru dan resolusi finansial yang lebih baik, justru diawali dengan beban utang menumpuk.


Gaji bulan Januari sering kali hanya "numpang lewat" karena harus dialokasikan untuk membayar cicilan barang-barang yang dibeli bulan sebelumnya. Lebih parah lagi jika barang yang dibeli adalah barang konsumtif yang nilainya cepat habis, seperti makanan mahal atau pakaian tren sesaat. Rasa senangnya sudah hilang, tapi cicilannya masih harus dibayar berbulan-bulan ke depan. Siklus ini bisa menjebak seseorang dalam lingkaran "gali lubang tutup lubang" yang sulit diputus.


Biaya Tersembunyi yang Menggerogoti

Selain dampak psikologis, aspek teknis dari Paylater juga perlu diwaspadai. Banyak pengguna yang tergiur dengan promosi bunga 0% atau cicilan ringan, namun lupa memperhitungkan biaya layanan dan biaya administrasi yang dikenakan setiap kali transaksi.


Jika diakumulasikan, total biaya tambahan ini bisa membuat harga barang menjadi jauh lebih mahal daripada harga aslinya. Belum lagi risiko denda keterlambatan yang nilainya cukup besar jika lupa membayar tepat waktu. Satu kali saja telat membayar, skor kredit (SLIK OJK) bisa tercoreng, yang nantinya akan menyulitkan jika ingin mengajukan KPR atau pinjaman produktif di masa depan.


Bijak Sebelum Klik

Menggunakan Paylater sebenarnya sah-sah saja asalkan difungsikan sebagai alat bantu arus kas (cashflow), bukan sebagai sumber dana tambahan. Sebelum menekan tombol bayar, cobalah terapkan aturan "tunggu 24 jam". Jika setelah satu hari keinginan untuk membeli barang tersebut masih ada, berarti itu kebutuhan. Namun jika keinginan itu hilang, berarti itu hanyalah impuls sesaat.


Ingatlah bahwa tagihan Paylater adalah utang yang wajib dibayar. Jangan sampai kebahagiaan sesaat di akhir tahun harus ditebus dengan penderitaan finansial sepanjang tahun depan.

Logo Radio
🔴 Radio Live