Ceritra
Ceritra Teknologi

Kenapa Sosmed Tahu Apa yang Kita Mau? Intip Rahasia Algoritma

Shannon - Monday, 06 July 2026 | 03:00 PM

Background
Kenapa Sosmed Tahu Apa yang Kita Mau? Intip Rahasia Algoritma
(Pixabay/)

Siapa Sih yang Ngatur Isi HP Kita? Berkenalan dengan Sang 'Mak Comblang' Digital Bernama Algoritma

Pernah nggak sih kalian lagi bengong, tiba-tiba kepikiran pengen makan seblak level pedas mampus, eh pas buka TikTok, video pertama yang muncul langsung review seblak lengkap dengan kerupuk mawar yang menggoda? Atau mungkin kalian baru aja curhat tipis-tipis sama temen lewat chat soal pengen liburan ke Labuan Bajo, lalu semenit kemudian iklan Open Trip tiba-tiba mejeng di Instagram Stories? Rasanya kayak HP kita punya kuping, atau minimal punya kemampuan cenayang yang bisa baca pikiran.

Banyak orang bilang ini adalah "sihir" teknologi. Tapi jujur aja, ini bukan sulap bukan sihir, apalagi kerjaan jin penunggu tower provider. Ini adalah kerjaan AI alias Kecerdasan Buatan yang bertugas sebagai pengatur algoritma media sosial. Sosok nggak kasat mata yang tahu lebih banyak soal selera kita daripada orang tua kita sendiri, atau bahkan daripada diri kita sendiri yang sering labil ini.

Algoritma: Si Koki yang Tahu Lidah Kita

Kalau kita bayangin media sosial itu sebuah prasmanan raksasa, algoritma itu ibarat koki pribadi yang berdiri di depan pintu. Dia nggak cuma nyodorin makanan secara acak. Dia udah ngintip catatan harian kita: apa yang kita suka, apa yang kita benci, dan apa yang bikin kita betah duduk lama-lama di meja makan. AI pengatur algoritma ini bekerja dengan mengumpulkan ribuan—bahkan jutaan—titik data setiap detiknya.

Setiap kali jempol kalian berhenti sejenak buat ngelihat foto mantan (ngaku aja!), atau setiap kali kalian nonton video kucing sampai habis, AI itu langsung nyatet: "Oh, anak ini lagi galau" atau "Dia suka konten hewan lucu." Nggak cuma soal like atau share, algoritma sekarang udah sejago itu sampai bisa ngitung berapa milidetik kalian berhenti di sebuah konten sebelum mutusin buat scroll lagi. Serem? Mungkin. Efisien? Banget.

Doping Dopamin dan Jebakan Doom Scrolling

Masalahnya, algoritma ini punya satu misi suci yang dikasih sama bos besar perusahaan teknologi: bikin kita nggak mau lepas dari HP. Mereka pengen kita stay selama mungkin. Caranya gimana? Dengan ngasih "hadiah" berupa konten yang memicu hormon dopamin. Kita dibuat merasa senang, terhibur, atau malah merasa marah (karena rasa marah juga bikin orang betah berdebat di kolom komentar).

Fenomena ini yang sering kita sebut sebagai doom scrolling. Niatnya cuma mau cek jam, eh tau-tau udah satu jam lewat gara-gara kejebak di lubang kelinci konten masak-masak estetik atau drama selebtwit yang nggak ada habisnya. AI ini pinter banget nyusun urutan konten. Dia tahu kapan harus ngasih video lucu, kapan harus ngasih berita viral, dan kapan harus nyempilin iklan biar kita nggak kerasa lagi jualan. Kita tuh ibarat ikan yang lagi seneng-seneng makan umpan, tanpa sadar udah nyangkut di kail perhatian digital.

Filter Bubble: Ketika Dunia Serasa Cuma Seukuran Layar

Nah, di sinilah letak bahayanya yang jarang kita sadari. Karena AI ini terus-terusan nyodorin apa yang kita suka, kita akhirnya terjebak dalam apa yang disebut Filter Bubble atau gelembung filter. Kalau kamu suka teori konspirasi, algoritma bakal terus nyuapin konten sejenis sampai kamu ngerasa seluruh dunia percaya hal yang sama. Kalau kamu pendukung politik A, layar HP-mu bakal penuh sama kebaikan si A dan keburukan si B.

Lama-kelamaan, kita jadi kurang toleransi sama perbedaan pendapat. Kita jadi ngerasa orang yang beda pandangan itu "aneh" atau "salah," padahal ya emang algoritma kita aja yang beda. Dunia yang luas banget ini jadi kelihatan sempit cuma seukuran algoritma yang udah dipersonalisasi buat kita. Kita jadi kayak hidup di dalam ruang gema (echo chamber), di mana suara kita sendiri yang terus memantul dan menguatkan keyakinan kita tanpa ada pembanding yang sehat.

Curhat Content Creator: Budak Algoritma?

Bukan cuma kita sebagai penikmat konten yang pusing, para content creator pun setali tiga uang. Mereka seringkali merasa jadi "budak" algoritma. Hari ini bikin konten dapet jutaan views, besok bikin hal yang sama persis malah sepi kayak kuburan. Kenapa? Karena algoritmanya berubah lagi. AI ini terus belajar dan berevolusi, nyari format baru yang lebih bikin orang betah.

Makanya jangan heran kalau tiba-tiba semua orang joget dengan lagu yang sama, atau pakai filter yang itu-itu aja. Itu bukan karena mereka nggak kreatif, tapi karena mereka lagi berusaha "menyenangkan" sang algoritma biar kontennya disebar luas. Di dunia digital sekarang, bukan cuma kualitas yang jadi raja, tapi juga seberapa pintar kita main mata sama AI yang ngatur lalu lintas konten tersebut.

Menjadi Tuan di Atas Jempol Sendiri

Terus, kita harus gimana? Apa kita harus hapus semua sosmed dan balik ke zaman batu? Ya nggak gitu juga sih. Media sosial itu alat, dan algoritma itu mesin. Yang perlu kita lakuin adalah sadar posisi. Kita harus tahu kalau apa yang kita lihat di feed atau FYP itu bukan representasi dunia yang sebenarnya. Itu cuma "kurasi" yang dibikin khusus buat kita.

Sekali-sekali, cobalah buat "ngerjain" algoritma kalian. Cari hal-hal yang di luar kebiasaan. Kalau biasanya nonton video gaming, coba cari video tentang berkebun atau sejarah dunia. Biar AI-nya bingung dikit dan berhenti ngasih asupan yang itu-itu aja. Dengan begitu, pandangan kita bisa lebih luas dan nggak gampang kemakan provokasi atau tren yang nggak jelas juntrungannya.

Intinya, algoritma emang canggih dan bikin hidup kita lebih praktis dalam nyari hiburan. Tapi jangan sampai kendali hidup kita, cara kita berpikir, dan cara kita ngerespons sesuatu, semuanya disetir sama barisan kode program. Tetaplah jadi manusia yang punya filter di otak, bukan cuma filter di kamera. Karena sekeren-kerennya AI pengatur algoritma, dia nggak punya nurani dan akal sehat kayak yang kita punya. Jangan mau kalah sama mesin, ya nggak?

Logo Radio
🔴 Radio Live