Ceritra
Ceritra Teknologi

Lagu "MBG" Viral, Muncul Pertanyaan Besar: Apakah AI Sedang Membunuh Seni?

Shannon - Wednesday, 17 June 2026 | 07:00 PM

Background
Lagu "MBG" Viral, Muncul Pertanyaan Besar: Apakah AI Sedang Membunuh Seni?
Bahlil Lahadalia (Kumparan.com/)

Fenomena MBG dan Masa Depan Musisi: Apakah Kita Sedang Menuju Kiamat Kreativitas?

Beberapa hari terakhir, linimasa media sosial kita nggak henti-hentinya digempur oleh sebuah lagu yang terdengar sangat familiar namun di saat yang sama terasa sangat janggal. Judulnya singkat, padat, dan bikin dahi mengernyit: MBG alias Mas Bahlil Ganteng. Lagunya punya vibe lucu, menghibur, ala lagu anak-anak. Liriknya? Ya, memuja sosok Bahlil Lahadalia dengan nada yang entah serius atau sekadar sarkasme tingkat dewa.

Tapi yang bikin publik heboh bukan cuma soal siapa yang dipuja di lagu itu, melainkan proses di balik pembuatannya. Lagu MBG dikonfirmasi merupakan hasil olahan Artificial Intelligence (AI). Tanpa perlu sewa studio mahal, tanpa perlu jago main alat musik, dan tanpa perlu tahu apa itu progresi akord II-V-I, seseorang di balik layar cukup memasukkan perintah atau prompt, lalu bim-salabim, jadilah lagu yang cukup earworm untuk nempel di otak seharian. Kejadian ini lantas memicu diskusi lama yang mendadak jadi panas lagi: apakah seniman, khususnya musisi, bakal segera dipensiunkan oleh algoritma?

Jujurly, kalau kita dengarkan lagu MBG itu, kualitas audionya sudah seperti nyanyian anak kecil yang direkam dalam studio secara nyata, terasa pas dengan selera pasar receh masa kini. Ini yang bikin ngeri-ngeri sedap. Dulu, bikin lagu itu butuh keringat. Kamu harus cari inspirasi, coret-coret kertas, trial-error nada, sampai berantem sama personel band lainnya. Sekarang? Sambil rebahan dan nunggu pesanan ojol datang, kamu bisa bikin album full berisi 10 lagu bertema politik, cinta monyet, sampai lagu tentang susahnya cari kerja, semuanya lewat platform macam Suno atau Udio.

Lantas, apakah ini tanda-tada kiamat bagi para seniman? Mari kita bedah pelan-pelan sambil menyeruput kopi sachet-an kita masing-masing. Di satu sisi, AI adalah alat demokratisasi. Sekarang, semua orang bisa jadi "pencipta". Batas antara mereka yang berbakat secara teknis dan mereka yang hanya punya ide kreatif jadi makin tipis. Ini kabar baik buat mereka yang punya visi tapi nggak punya akses ke alat musik. Tapi di sisi lain, ini adalah mimpi buruk bagi musisi komersial yang hidup dari jasa pembuatan jingle, backsound konten, atau lagu-lagu pesanan pendek.

Coba bayangkan nasib produser musik yang biasanya dibayar dua atau tiga juta untuk bikin jingle iklan UMKM. Kalau pemilik UMKM-nya tahu ada AI yang bisa bikin lagu serupa dalam 30 detik dengan modal langganan 10 dolar sebulan, ya wassalam. Logika ekonomi pasti akan menang: cari yang paling murah, paling cepat, dan hasilnya "lumayan". Di titik inilah AI benar-benar menjadi ancaman nyata yang bisa menggerus lahan nafkah banyak orang di industri kreatif.

Namun, kalau kita bicara soal "seni" dalam arti yang lebih dalam, ceritanya mungkin bakal sedikit berbeda. Lagu seperti MBG viral karena momentum, karena konteks politiknya yang lucu, dan karena keanehan teknologi yang sedang hangat. Tapi apakah kita akan memutar lagu AI itu sepuluh tahun lagi dengan perasaan emosional yang sama seperti saat kita mendengar lagu Chrisye atau Sheila on 7? Rasanya kok sangsi ya.

Seni itu bukan cuma soal susunan frekuensi suara yang enak didengar. Seni adalah manifestasi dari pengalaman hidup manusia, rasa sakit, patah hati, dan keringat yang dituangkan ke dalam karya. AI nggak punya perasaan. AI cuma mesin prediksi raksasa yang menebak bahwa setelah nada A, biasanya orang suka dengar nada B. Dia nggak tahu rasanya diputusin pacar di depan gerbang kampus, atau rasanya lapar di akhir bulan. Hal-hal yang disebut "soul" atau jiwa inilah yang sejauh ini belum bisa dikloning oleh barisan kode pemrograman.

Fenomena lagu Bahlil ini sebenarnya adalah alarm pengingat. Seniman nggak akan tergantikan kalau mereka menawarkan sesuatu yang nggak dimiliki AI: otentisitas dan narasi personal. Kalau karya seorang seniman hanya sekadar mengikuti formula pasar yang template-nya sudah hafal di luar kepala, ya jangan salahkan kalau nantinya posisi mereka digeser oleh bot. Di masa depan, nilai sebuah karya seni mungkin bukan lagi diukur dari seberapa bagus hasilnya, tapi dari "siapa" yang membuatnya dan "mengapa" karya itu dibuat.

Kita sedang masuk ke era di mana "kemanusiaan" dalam sebuah karya jadi barang mewah. Nanti, mungkin akan ada label "100% Made by Human" di platform streaming, sama halnya seperti kita lebih menghargai nasi goreng buatan abang-abang pinggir jalan yang gerobaknya sudah legendaris daripada nasi goreng instan dalam kemasan. Ada sentuhan personal, ada kesalahan-kesalahan kecil yang manusiawi, dan ada cerita di baliknya.

Jadi, akankah seniman tergantikan? Jawabannya adalah: ya dan tidak. Musisi yang cuma jadi "tukang jahit" nada tanpa karakter mungkin akan kesulitan bertahan. Tapi musisi yang mampu menyentuh sisi terdalam emosi manusia akan tetap punya tempat. AI mungkin bisa bikin lagu tentang Mas Bahlil yang ganteng, tapi AI nggak akan pernah bisa menulis lagu yang membuat kita merasa dipahami saat sedang merasa sendirian di tengah kota yang bising. Pada akhirnya, teknologi cuma alat. Yang jadi pemenang adalah mereka yang tahu cara menjinakkan teknologi itu, bukan mereka yang malah ketakutan dan sembunyi di bawah meja.

Lagu MBG mungkin bakal segera terlupakan seiring munculnya tren baru minggu depan. Tapi diskusi yang dipicunya akan tetap relevan untuk waktu yang lama. Kita nggak perlu anti-teknologi, tapi kita juga nggak boleh kehilangan sisi manusiawi kita. Jadi, buat para musisi di luar sana, jangan dulu patah arang. Teruslah berkarya, teruslah curhat lewat lagu, dan pastikan karya kalian punya sesuatu yang nggak bisa dihasilkan oleh sekadar prompt "generate music".

Logo Radio
🔴 Radio Live