Ceritra
Ceritra Warga

Kenapa Kita Overthinking di Malam Hari? Ini Alasannya

Nisrina - Thursday, 02 April 2026 | 12:45 PM

Background
Kenapa Kita Overthinking di Malam Hari? Ini Alasannya
Ilustrasi (tanyamarlo.id/)

Pernah nggak sih, kamu sudah posisi enak di kasur, lampu sudah mati, selimut sudah ditarik sampai dagu, tinggal menunggu jemputan mimpi indah, tapi tiba-tiba otakmu malah berulah? Bukannya tidur, ingatanmu malah memutar kembali kejadian memalukan pas zaman SMP dulu. Atau yang lebih parah, kamu tiba-tiba mengkhawatirkan bagaimana nasib kariermu sepuluh tahun ke depan, padahal besok pagi bangun buat absen saja masih perjuangan.

Selamat datang di klub overthinking tengah malam. Fenomena ini unik, karena seolah-olah ada sakelar otomatis di kepala kita yang baru menyala pas dunia di sekitar kita justru sedang istirahat. Kenapa sih, malam hari sering banget jadi waktu "primetime" buat overthinking? Apakah otak kita emang punya bakat jadi sutradara film horor atau drama melankolis kalau sudah lewat jam 11 malam?

Hening di Luar, Berisik di Dalam

Alasan paling sederhana kenapa kita sering overthinking saat malam adalah hilangnya distraksi. Bayangkan begini: seharian penuh dari pagi sampai sore, kita disibukkan sama urusan kantor, kuliah, ngebalas chat WhatsApp yang nggak ada habisnya, sampai scroll TikTok yang algoritmanya tahu banget selera kita. Otak kita terus-menerus disuapi informasi dan aktivitas. Kita nggak punya waktu buat benar-benar "ngobrol" sama diri sendiri.

Nah, pas malam hari tiba dan suasana jadi hening, semua kebisingan eksternal itu hilang. Di saat itulah, pikiran-pikiran yang selama ini "antre" di belakang kepala mulai maju satu per satu ke panggung utama. Karena nggak ada suara bising dari luar, suara di dalam kepala jadi terdengar sepuluh kali lebih kencang. Ibaratnya, kalau siang hari otak kita itu seperti pasar yang ramai, malam hari dia berubah jadi gedung teater kosong yang akustiknya bagus banget. Satu saja pikiran buruk lewat, gema atau ebonya kerasa banget ke mana-mana.

Teori Jam Komanya Otak

Secara biologis, ada penjelasan kenapa kualitas pikiran kita cenderung menurun (dan jadi lebih gelap) saat malam hari. Menurut beberapa penelitian psikologi, ada yang namanya "The Mind After Midnight" hypothesis. Intinya, jam biologis atau ritme sirkadian kita memengaruhi cara kita memproses emosi. Pas malam hari, bagian otak yang berfungsi buat logika dan kontrol diri (prefrontal cortex) itu sudah capek. Dia butuh istirahat.

Masalahnya, bagian otak yang mengurus emosi dan rasa takut (amygdala) seringkali masih segar bugar. Jadi, tanpa "penjaga" yang logis, emosi kita bebas berkeliaran tanpa arah. Makanya, masalah kecil yang kalau siang hari terlihat sepele—seperti typo pas kirim email ke bos—bisa berubah jadi skenario kiamat kalau dipikirkan jam 2 pagi. Kita kehilangan kemampuan buat berkata pada diri sendiri, "Ah, itu cuma masalah kecil kok." Di malam hari, semuanya terasa seperti masalah hidup dan mati.

Skenario Fiktif dan Nostalgia yang Nggak Diundang

Salah satu hobi favorit kaum overthinker malam hari adalah menjadi sutradara skenario fiktif. Kita mulai membayangkan argumen yang seharusnya kita menangkan tadi siang, lengkap dengan kalimat-kalimat pedas yang baru terpikirkan sekarang. Atau, kita mulai melakukan "reunian" dengan kesalahan masa lalu. Mengingat kembali mantan yang sudah bahagia, atau menyesali keputusan hidup yang diambil lima tahun lalu.

Ini terjadi karena saat tubuh lelah, pertahanan mental kita melemah. Kita cenderung lebih pesimis dan sensitif. Belum lagi kalau kita mulai membandingkan hidup kita dengan orang lain lewat layar HP. Doomscrolling di media sosial sebelum tidur adalah bensin bagi api overthinking. Melihat pencapaian orang lain saat kita sendiri lagi merasa "stuck" di atas kasur cuma bakal bikin pikiran makin liar. Kita merasa tertinggal, merasa gagal, dan akhirnya terjebak dalam lingkaran setan pikiran negatif yang bikin makin susah tidur.

Lalu, Harus Gimana Biar Nggak "Digebukin" Pikiran Sendiri?

Sebenarnya, overthinking itu manusiawi. Itu tandanya kamu peduli sama hidupmu, cuma caranya saja yang agak sedikit ekstrem. Salah satu cara buat menjinakkan "monster" ini adalah dengan memindahkan isi kepala ke media lain. Istilah kerennya adalah "brain dumping". Kalau kamu merasa otakmu sudah terlalu berisik, coba ambil kertas atau buka aplikasi notes di HP (meski lebih disarankan kertas biar nggak kena blue light), lalu tulis semua yang kamu pikirkan. Apa saja. Biar otaknya merasa tugasnya buat "mengingat" masalah itu sudah selesai karena sudah dicatat.

Selain itu, kita perlu sadar kalau versi diri kita di jam 2 pagi itu bukan versi yang paling pintar. Jangan mengambil keputusan besar atau menyimpulkan nasib hidupmu saat kamu lagi ngantuk dan overthinking. Ingat saja, pikiranmu saat malam hari itu seringkali cuma "halusinasi" akibat kelelahan. Kadang solusi terbaik buat overthinking bukan dengan mencari jawaban atas pikiran itu, tapi cuma dengan merem dan membiarkan esok pagi memberikan perspektif yang lebih waras.

Malam hari memang waktu yang sunyi, tapi jangan biarkan kesunyian itu bikin kamu ngerasa sendirian dalam perang pikiran. Toh, di luar sana, mungkin ada jutaan orang lain yang juga lagi menatap langit-langit kamar, memikirkan hal yang sama konyolnya dengamu. Tidur saja, besok dunianya masih ada kok, dan biasanya masalah yang kamu takuti tadi malam nggak seseram itu pas kena sinar matahari pagi.

Logo Radio
🔴 Radio Live