Kenali Doomscrolling: Kebiasaan Sepele yang Mencuri Waktu Istirahat
Nisrina - Thursday, 26 March 2026 | 06:15 PM


Bayangkan skenario ini: Kamu baru saja merebahkan badan di kasur setelah seharian lelah bekerja atau kuliah. Niatnya sih cuma mau ngecek jam atau melihat satu-dua pesan WhatsApp yang masuk. Tapi entah kenapa, jempol kamu seolah punya nyawa sendiri. Secara otomatis, aplikasi berlogo warna-warni itu terbuka. Satu video pendek lewat, lucu. Geser lagi, ada teman yang lagi makan cantik di Bali. Geser lagi, ada perdebatan panas soal politik yang sebenarnya nggak ada hubungannya sama hidup kamu. Tahu-tahu, jendela kamar sudah mulai terang dan burung-burung berkicau. Selamat, kamu baru saja terjebak dalam ritual "doomscrolling" semalam suntuk.
Fenomena ketagihan media sosial ini bukan lagi rahasia umum. Kita semua merasakannya. Tapi pertanyaannya, kok bisa ya aplikasi di layar sekecil itu punya kekuatan sihir yang lebih hebat daripada perintah tidur dari otak kita sendiri? Ternyata, jawabannya bukan cuma karena kita "kurang niat" atau malas, tapi ada pertempuran sains dan psikologi yang terjadi di balik layar smartphone kita.
Jebakan Batman Bernama Dopamin
Kalau kita bicara soal kecanduan, musuh utamanya adalah zat kimia di otak bernama dopamin. Di dunia medis, dopamin itu kayak "hadiah" yang dikasih otak setiap kali kita melakukan sesuatu yang menyenangkan. Makan enak? Dopamin cair. Menang main game? Dopamin tumpah. Nah, media sosial itu ibarat pabrik dopamin instan yang nggak pernah tutup alias buka 24 jam.
Setiap kali ada notifikasi masuk—bunyi "ting" yang khas atau getaran di saku celana—otak kita langsung bereaksi. "Wah, ada apa nih? Ada yang nge-like foto gue? Atau ada gosip baru?" Rasa penasaran ini memicu dopamin. Masalahnya, dopamin ini sifatnya nagih. Begitu kita dapat satu like, kita mau sepuluh. Begitu dapat sepuluh, kita mau seratus. Kita kayak tikus di laboratorium yang terus-menerus memencet tombol demi mendapatkan butiran makanan. Bedanya, makanan kita adalah validasi digital.
FOMO: Penyakit Takut Ketinggalan Kereta
Pernah merasa cemas pas HP ketinggalan di rumah? Atau merasa gelisah kalau nggak buka Twitter (X) sejam aja? Itu namanya FOMO, alias Fear of Missing Out. Secara naluriah, manusia itu makhluk sosial yang takut banget dibuang dari kelompoknya. Zaman dulu, kalau kita nggak tahu ada info soal wilayah berburu, kita bisa mati kelaparan. Sekarang, kalau kita nggak tahu ada meme terbaru atau drama influencer yang lagi viral, kita merasa "mati gaya".
Media sosial mengeksploitasi rasa takut ini dengan sangat rapi. Algoritma mereka memastikan kita selalu merasa ada sesuatu yang besar sedang terjadi di luar sana. Kita takut kalau nggak buka Instagram, kita nggak bakal nyambung pas diajak ngobrol sama teman di tongkrongan. Padahal ya, kalau dipikir-pikir lagi, nggak tahu soal drama selebgram yang putus cinta juga nggak bakal bikin hidup kita hancur, kan? Tapi ya itu tadi, otak purba kita nggak bisa bedain mana info penting buat bertahan hidup dan mana info sampah.
Desain yang Emang "Jahat" tapi Jenius
Coba perhatikan fitur "infinite scroll" atau gulir tanpa batas di TikTok atau Instagram Reels. Itu bukan fitur yang dibuat secara kebetulan. Desain itu dibuat supaya otak kita nggak punya titik henti. Kalau kita baca buku, ada akhir bab. Kalau kita nonton film, ada credit title. Tapi di media sosial? Nggak ada habisnya. Kamu bisa scrolling sampai ujung dunia pun kontennya bakal tetap ada.
Para pengembang aplikasi ini mempekerjakan ahli psikologi perilaku untuk memastikan kita betah berlama-lama. Mereka menggunakan sistem yang mirip dengan mesin judi slot di kasino. Kamu nggak pernah tahu apa yang bakal muncul di postingan selanjutnya. Bisa jadi video kucing lucu, bisa jadi berita sedih, atau mungkin foto mantan yang udah nikah. Ketidakpastian inilah yang bikin kita penasaran buat terus nge-scroll. "Satu video lagi deh, siapa tahu yang berikutnya lebih seru," begitu terus sampai subuh.
Tempat Pelarian Paling Murah dan Mudah
Mari jujur-jujuran, hidup di dunia nyata itu kadang capek banget. Macet di jalan, kerjaan numpuk, tagihan listrik datang, atau mungkin merasa kesepian di tengah keramaian. Media sosial menawarkan pelarian atau "escaping" yang paling murah dan instan. Nggak perlu beli tiket pesawat buat lihat pemandangan bagus, tinggal buka explore Instagram. Nggak perlu ikut kursus masak buat lihat resep enak, tinggal buka TikTok.
Media sosial jadi semacam "jajan batin" buat kita yang lagi mumet. Sayangnya, pelarian ini seringkali semu. Bukannya bikin pikiran segar, yang ada malah bikin makin insecure. Kita melihat potongan-potongan hidup orang lain yang cuma ditampilkan indahnya saja, lalu tanpa sadar membandingkannya dengan hidup kita yang lagi berantakan. Di situ ironinya: kita cari hiburan buat kabur dari stres, tapi malah dapat stres baru karena merasa hidup kita nggak sekeren orang lain.
Lantas, Harus Gimana?
Menyalahkan diri sendiri karena kecanduan media sosial itu nggak akan menyelesaikan masalah. Kita lagi melawan ribuan insinyur jenius di Silicon Valley yang dibayar mahal buat bikin kita tetap menatap layar. Yang bisa kita lakukan adalah mulai sadar diri atau "mindful".
Mungkin kita bisa mulai dengan langkah kecil: matikan notifikasi yang nggak penting, kasih batas waktu pakai aplikasi, atau jangan bawa HP ke tempat tidur. Media sosial itu ibarat garam dalam masakan; kalau pas ya bikin enak, tapi kalau kebanyakan malah bikin darah tinggi. Dunia nyata mungkin nggak seestetik filter Instagram, tapi di sinilah hidup kita yang sebenarnya terjadi. Jadi, setelah baca artikel ini, coba deh taruh HP-nya sebentar, ambil napas dalam-dalam, dan lihat sekitar. Ternyata dunia masih luas, nggak cuma seukuran lima inci.
Next News

Hati-hati Silent Killer! Turunkan Darah Tinggi dengan DASH Diet
in 7 hours

Kamar Sering Pengap? Yuk Kenali Bahaya Kelembapan Tinggi
in 6 hours

Rahasia Humidifier Awet dan Udara Kamar Tetap Sehat
in 5 hours

Bye-bye Kolesterol! 5 Trik Masak Rendah Minyak yang Bikin Masakan Tetap Medok
in 3 hours

Tensi Naik Gara-Gara Micin? Coba 5 Rempah Dapur Ini
in 2 hours

Kantor Kotor Ganggu Konsentrasi? Yuk Mulai Beres-Beres
in an hour

Deteksi Dini Kerusakan Shockbreaker Mobil Pasca Mudik Jauh
4 hours ago

Apa Itu Kluwak? Mengenal Bahan Utama di Balik Lezatnya Rawon
44 minutes ago

Air Purifier Alami dengan Pelihara 5 Tanaman Indoor Ini!
5 hours ago

Tips Bersihkan Karpet Kantor Tanpa Merusak Serat Kain
3 hours ago






