Ceritra
Ceritra Warga

Kampanye "Ayo Naik Bus" Itu Fana, Motor Beat Tetap Abadi: Sebuah Gugatan Akal Sehat

Nisrina - Tuesday, 06 January 2026 | 08:15 AM

Background
Kampanye "Ayo Naik Bus" Itu Fana, Motor Beat Tetap Abadi: Sebuah Gugatan Akal Sehat
Slogan 'Ayo Naik Bus Biar Gak Macet' (YouTube/Bisa Indonesia)

Pernahkah kalian, wahai kaum pejuang UMR yang budiman, terjebak di tengah neraka kemacetan jam tujuh pagi, keringat bercucuran di balik helm, lalu mendongak ke atas dan melihat baliho raksasa bertuliskan: "Sayangi Bumimu, Ayo Naik Transportasi Umum Biar Nggak Macet"? Rasanya ingin sekali melempar sandal ke baliho itu, bukan? Slogan-slogan moralis semacam ini terus dipasang oleh pemerintah kota di setiap perempatan, seolah-olah kemacetan ini terjadi karena kita semua adalah pendosa lingkungan yang egois. Padahal, mari kita jujur sebentar: kampanye "ayo naik bus" dengan dalih moral itu sebenarnya adalah omong kosong paling tidak masuk akal dalam sejarah tata kota.

Mari kita bedah faktanya tanpa perlu basa-basi busuk. Hampir tidak ada manusia waras di muka bumi ini yang mau mengubah cara mereka pergi ke kantor hanya karena disuruh peduli pada lapisan ozon. Dalam urusan mobilitas, naluri purba manusia itu sederhana dan brutal: kita memuja kecepatan, kita mendewakan kenyamanan, dan kita butuh kontrol penuh atas nasib kita di jalanan. Bukan soal polusi, bukan soal beruang kutub yang kehilangan es. Coba tanya nurani kalian yang paling dalam, relakah kalian meninggalkan motor kesayangan dan beralih ke bus hanya demi stempel "warga negara yang baik"? Jawabannya pasti kompak: HAH, TIDAK!

Kenapa kampanye sok suci ini gagal total dan berakhir jadi sampah visual? Jawabannya sederhana: karena pemerintah menyerang sisi moral, padahal keputusan memilih kendaraan itu adalah murni hitung-hitungan rasional dan pragmatis. Kita naik motor bukan karena kita membenci bumi, tapi karena kita takut dipecat bos kalau telat absen fingerprint!

Tugas perencana transportasi itu bukan sekadar menggambar rute bus lalu menyuruh rakyatnya naik sambil ceramah soal emisi karbon. Mereka harusnya paham ilmu travel behavior. Apa yang bikin orang memilih moda transportasi? Jawabannya mutlak: durasi perjalanan. Siapa yang tercepat, dialah rajanya. Dan di jalanan Indonesia yang semrawut ini, motor adalah raja diraja yang tak tergoyahkan.

Coba turun ke lapangan dan tanya pada mas-mas yang sedang nyelip di antara truk kontainer. Kenapa pilih motor? Jawabannya pasti: "Lebih cepat, Mas. Bisa sat-set wat-wet." Tidak ada yang menjawab, "Oh, saya naik motor karena saya ingin menyumbang CO2." Keunggulan motor itu nyata: kemampuan manuver tingkat dewa. Motor bisa mencari celah selebar tikus untuk terus melaju, sementara bus kota yang besar dan glowing itu hanya bisa pasrah terjebak macet di jalur yang sama dengan mobil pribadi. Menyuruh orang pindah dari kendaraan yang "sat-set" ke kendaraan yang "pasrah" adalah sebuah kemunduran evolusi.

Dan inilah tantangan terbesar transportasi umum yang sering pura-pura tidak dilihat oleh pembuat kebijakan: matematika penyiksaan waktu. Durasi perjalanan bus itu bukan cuma waktu kalian duduk manis di dalam bus ber-AC. Tidak, Fergruso! Ada waktu-waktu gaib yang sering dilupakan: waktu jalan kaki dari rumah ke halte di bawah terik matahari tropis, waktu bengong menunggu bus yang jadwalnya lebih misterius dari jodoh, dan waktu jalan kaki lagi dari halte ke kantor.

Dalam dunia transportasi, ini disebut Total Travel Time. Jika naik motor dari rumah ke kantor butuh 30 menit door-to-door, sementara naik bus butuh 15 menit jalan kaki + 20 menit nunggu + 45 menit perjalanan + 10 menit jalan lagi, maka totalnya adalah 90 menit. Selisih satu jam itu adalah waktu berharga yang bisa dipakai buat tidur, sarapan bubur, atau scroll TikTok. Selama total waktu perjalanan bus masih lebih lama dari motor, orang akan tetap memilih motor, mau slogan balihonya diganti pakai tinta emas sekalipun.

Jadi, bisakah bus kita mengalahkan hegemoni motor? Bisa, tapi syaratnya berat. Bus harus menawarkan privilese yang tidak dimiliki motor: kecepatan absolut. Berikan jalur khusus yang steril dari penyerobot, pastikan bus datang setiap 3 menit sekali, dan bikin akses ke halte yang manusiawi. Sebelum bus bisa menjamin kita sampai lebih cepat daripada naik motor, tolong berhenti pasang spanduk yang menyuruh kami berkorban demi lingkungan. Kami ini butuh sampai kantor tepat waktu, bukan butuh masuk surga jalur transportasi.

Logo Radio
🔴 Radio Live