Ceritra
Ceritra Teknologi

Jujurly, Polaroid Lebih Nyeni! Membedah Ritual "Menunggu" yang Bikin Hobi Mahal Ini Makin Digilai

Nizar - Tuesday, 14 April 2026 | 12:20 PM

Background
Jujurly, Polaroid Lebih Nyeni! Membedah Ritual "Menunggu" yang Bikin Hobi Mahal Ini Makin Digilai
Ilustrasi (global.techradar/)

Kenapa Sih Hari Gini Masih Banyak yang Hobi Nyiksa Dompet Buat Beli Film Polaroid?

Bayangkan situasinya begini: Kamu lagi nongkrong di kafe yang estetik parah bareng temen-temen. Cahayanya pas, outfit kamu lagi on point, dan suasananya mendukung buat pamer di media sosial. Di tangan kamu ada smartphone flagship terbaru yang kameranya bisa nge-zoom sampai ke kawah bulan. Tapi, alih-alih buka aplikasi kamera bawaan yang super jernih itu, kamu malah ngerogoh tas dan ngeluarin sebuah kamera kotak berbahan plastik yang bentuknya mirip mainan anak-anak. Kamu bidik, bunyi "cekrek" yang khas terdengar, lalu keluar selembar kertas putih kecil dari atasnya.

Selamat, kamu baru saja menghabiskan sekitar lima belas ribu rupiah buat satu jepretan yang hasilnya mungkin agak blur, warnanya sedikit aneh, dan nggak bisa diedit pakai filter apapun. Aneh, kan? Di zaman serba digital yang apa-apa pengennya instan dan sempurna, kamera instan atau yang akrab kita sebut Polaroid justru makin naik daun. Padahal kalau dipikir-pikir pakai logika ekonomi, hobi ini nggak masuk akal banget. Udah harga kameranya lumayan, harga refill filmnya bisa bikin dompet nangis kalau kita asal jepret sana-sini.

Jadi, kenapa sih barang yang teknologinya "kuno" ini malah makin digilai, terutama sama anak muda zaman sekarang? Mari kita bedah pelan-pelan sambil nunggu gambarnya muncul di kertas film.

Seni dari Ketidaksempurnaan yang Jujur

Jujurly, kita semua udah capek sama yang namanya kesempurnaan di layar HP. Di Instagram, semuanya harus kinclong. Kulit harus mulus lewat filter, warna langit harus biru banget lewat aplikasi editing, sampai bentuk muka pun bisa berubah drastis. Nah, kamera Polaroid menawarkan sesuatu yang berlawanan: ketidaksempurnaan. Justru karena hasilnya nggak bisa diprediksi, di situlah letak seninya.

Kadang cahayanya terlalu terang (overexposed), kadang malah gelap banget kalau flash-nya nggak nyampe. Tapi justru itu yang bikin tiap foto Polaroid itu unik. Nggak ada dua foto yang bener-bener sama di dunia ini. Setiap jepretan adalah satu-satunya versi yang ada. Ada kesan "jujur" yang nggak bisa kita dapetin dari foto digital yang bisa kita hapus dan ulang sampai ratusan kali kalau pose kita kelihatan aneh. Di Polaroid, sekali jepret ya udah, itulah kamu saat itu. Jelek atau bagus, itu adalah memori yang asli.

Ritual Menunggu yang Bikin Nagih

Kita hidup di era yang apa-apa harus cepat. Pesan makanan tinggal klik, nyari informasi tinggal tanya AI. Semuanya instan. Tapi kamera instan justru kasih kita pengalaman "menunggu" yang seru. Momen setelah film keluar dari kamera dan warnanya masih abu-abu polos itu adalah momen paling mendebarkan. Ada ritual kecil di situ; entah itu dikibas-kibaskan (meskipun sebenarnya produsen bilang jangan dikibas-kibas), atau ditaruh di tempat yang gelap sebentar.

Proses perubahan dari kertas kosong jadi sebuah gambar utuh itu kayak sulap yang nggak pernah ngebosenin. Sensasi nunggu itu bikin kita lebih menghargai hasil fotonya. Kita nggak cuma sekadar dapet gambar, tapi dapet pengalaman visual yang prosesnya kita saksikan sendiri di depan mata. Rasanya beda banget sama ngelihat angka "processing" di layar HP yang cuma butuh waktu sekian milidetik.

Benda Fisik yang Bisa Dipegang, Bukan Cuma Disimpan di Cloud

Pernah nggak kamu ngerasa kalau foto-foto di galeri HP itu cuma jadi "sampah digital"? Ribuan foto menumpuk, jarang dilihat lagi, dan kalaupun mau dicari lagi susahnya minta ampun. Begitu HP hilang atau memori penuh, ya udah, kenangan itu hilang gitu aja. Di sinilah kamera Polaroid menang telak secara emosional.

Ada kepuasan tersendiri pas kita pegang fisik fotonya. Kita bisa naruh foto itu di dompet, ditempel di dinding kamar, atau dijadiin pembatas buku. Foto fisik itu punya "nyawa". Dia bisa rusak, bisa pudar dimakan usia, dan justru proses penuaan kertas foto itu yang bikin dia makin bernilai seiring berjalannya waktu. Pas kita ngasih foto Polaroid ke temen atau pasangan, rasanya kayak kita lagi ngasih potongan memori yang nyata, bukan cuma kirim file lewat WhatsApp yang besok-besok mungkin udah tenggelam sama chat grup kantor.

Alat Socializing yang Paling Ampuh

Coba deh bawa kamera Polaroid ke acara kumpul-kumpul atau pesta pernikahan. Dijamin, orang-orang bakal ngerumunin kamu. Kamera ini punya daya tarik magnetis buat orang-orang di sekitar. Dia bukan cuma alat buat ambil gambar, tapi juga alat buat berinteraksi. Biasanya orang bakal antusias nanya, "Boleh coba nggak?" atau "Wah, langsung jadi ya?".

Ada kehangatan sosial saat kita motret orang lain pakai Polaroid terus langsung ngasihin hasilnya ke mereka sebagai kenang-kenangan. Itu adalah gestur yang manis dan jauh lebih personal. Di tengah dunia yang makin individualis karena orang asyik main HP masing-masing, kamera Polaroid seolah jadi jembatan buat kita bener-bener terhubung dengan orang lain di dunia nyata.

Kesimpulan: Melawan Lupa dengan Gaya

Pada akhirnya, tren Polaroid ini bukan cuma soal gaya-gayaan atau sekadar pengen kelihatan retro. Ini adalah bentuk perlawanan kecil terhadap dunia yang terlalu cepat dan serba terukur. Kita butuh sesuatu yang bisa kita sentuh, kita butuh momen yang nggak bisa kita manipulasi berlebihan, dan kita butuh alasan untuk berhenti sejenak dan menikmati proses.

Meskipun harga satu pak filmnya setara sama dua porsi nasi ayam geprek plus es teh manis, bagi banyak orang, itu harga yang pantas buat sebuah kenangan yang abadi dalam bentuk fisik. Polaroid mengingatkan kita bahwa hidup itu nggak harus selalu sempurna dan instan buat bisa dinikmati. Jadi, buat kamu yang masih setia nenteng kamera kotak ini di tas: lanjutin aja. Karena di setiap bunyi motor kameranya yang berisik itu, ada satu memori yang bener-bener "hidup" dan siap kamu simpan selamanya.

Logo Radio
🔴 Radio Live