Ceritra
Ceritra Teknologi

Jebakan Maut di Balik Mitos Minyak Goreng: Ilusi Hemat yang Berujung Turun Mesin

Nisrina - Wednesday, 24 December 2025 | 01:48 PM

Background
Jebakan Maut di Balik Mitos Minyak Goreng: Ilusi Hemat yang Berujung Turun Mesin
Oli kendaraan dituang ke dalam mesin (Freepik/)

Fenomena penggunaan minyak goreng sebagai pelumas alternatif sering kali bermula dari rasa penasaran atau testimoni sesat yang beredar di komunitas otomotif pinggiran. Banyak orang terbuai oleh video viral yang memperlihatkan motor bisa menyala dan berjalan normal meski diisi dengan minyak sawit dari dapur. Memang benar bahwa pada saat pertama kali dituang dan mesin dinyalakan, kendaraan akan terdengar halus dan roda bisa berputar seolah tidak ada masalah. Namun inilah letak jebakan utamanya karena kemampuan minyak goreng untuk melumasi hanyalah bersifat sementara dan menipu. Sifat licin dari asam lemak dalam minyak goreng memang mampu memisahkan logam untuk jangka waktu yang sangat pendek, namun ia tidak memiliki kemampuan bertahan hidup di dalam neraka ruang bakar yang sesungguhnya.

Perbedaan paling mendasar yang sering luput dari perhatian adalah paket aditif kimia yang terkandung di dalam oli mesin pabrikan. Oli mesin bukan sekadar cairan licin, melainkan sebuah formula kimia canggih yang dilengkapi dengan deterjen untuk membersihkan kerak sisa pembakaran, zat anti-busa untuk mencegah kavitasi, dan agen anti-korosi untuk melindungi logam dari karat. Selain itu oli mesin memiliki Total Base Number atau TBN yang berfungsi untuk menetralkan asam jahat hasil sampingan pembakaran bahan bakar. Minyak goreng sama sekali tidak memiliki perisai kimia ini. Tanpa adanya zat deterjen dan penetral asam, mesin yang dipaksa minum minyak goreng akan mengalami penumpukan kotoran yang sangat cepat dan komponen logam di dalamnya akan perlahan tergerus oleh korosi asam yang tidak ternetralisir.

Malapetaka yang sesungguhnya terjadi ketika minyak goreng mengalami proses kimia bernama polimerisasi akibat paparan panas ekstrem mesin. Berbeda dengan oli mesin yang dirancang untuk tetap stabil, struktur kimia minyak nabati akan berubah drastis saat dipanaskan terus-menerus. Minyak tersebut tidak hanya menguap, tetapi akan mengeras dan berubah wujud menjadi lapisan lengket seperti lem atau vernis yang menempel kuat pada dinding silinder, ring piston, dan bantalan kruk as. Lapisan lengket ini lama-kelamaan akan mengeras menjadi kerak karbon yang sangat bandel dan sulit dibersihkan. Bayangkan jantung pacu kendaraan Anda bukan lagi dilumasi oleh cairan yang mengalir, melainkan disumbat oleh adonan lengket yang mirip dengan kerak di wajan penggorengan yang hangus.

Dampak finansial dari eksperimen coba-coba ini sungguh tidak sebanding dengan penghematan yang didapat. Mungkin Anda bisa menghemat beberapa puluh ribu rupiah dengan tidak membeli oli resmi, namun risiko kerusakan yang ditimbulkan bersifat katastropik dan permanen. Ketika jalur oli tersumbat oleh gel minyak goreng, komponen vital mesin akan saling bergesekan tanpa pelindung hingga macet total, piston bisa terkunci, dan setang seher bisa bengkok atau patah. Biaya untuk melakukan overhaul atau turun mesin total guna mengganti komponen yang hancur tersebut bisa mencapai jutaan rupiah. Oleh karena itu sangatlah bijak untuk menyerahkan urusan dapur pada minyak goreng dan urusan mesin pada pelumas yang memang didesain oleh para insinyur untuk melindungi investasi kendaraan Anda.

Logo Radio
🔴 Radio Live