Hubungan Antara Berat Badan Berlebih dan Risiko Serangan Jantung Menurut Medis
Nisrina - Thursday, 12 February 2026 | 10:14 PM


Isu mengenai berat badan sering kali menjadi topik sensitif dalam percakapan sehari hari. Di satu sisi gerakan body positivity mengajak kita untuk mencintai bentuk tubuh apa adanya. Namun di sisi lain dunia medis terus memberikan peringatan keras mengenai bahaya yang mengintai di balik tumpukan lemak berlebih. Salah satu ancaman terbesar yang sering didengungkan adalah penyakit jantung koroner dan serangan jantung mendadak.
Pertanyaan besarnya adalah apakah benar orang yang memiliki berat badan berlebih atau obesitas otomatis lebih rentan terkena serangan jantung dibandingkan mereka yang berbadan kurus. Apakah ini mitos belaka atau fakta medis yang tak terbantahkan.
Merujuk pada penjelasan dokter ahli yang dilansir dari Media Indonesia Humaniora jawabannya mengarah pada satu kesimpulan yang serius. Obesitas bukan sekadar masalah estetika atau penampilan luar semata. Ini adalah kondisi medis kompleks yang menjadi "ibu" dari berbagai penyakit metabolik yang mematikan. Artikel ini akan mengupas tuntas mekanisme biologis bagaimana lemak tubuh bisa merusak jantung Anda dan langkah apa yang harus diambil sebelum terlambat.
Beban Kerja Jantung yang Semakin Berat
Secara logika sederhana jantung manusia bekerja ibarat mesin pompa air. Tugas utamanya adalah memompa darah yang kaya oksigen dan nutrisi ke seluruh sel tubuh. Semakin besar massa tubuh seseorang maka semakin banyak pula sel tubuh yang harus diberi makan.
Pada orang dengan obesitas jantung dipaksa bekerja lembur setiap detiknya. Jantung harus memompa lebih keras dan lebih cepat untuk memastikan darah mencapai jaringan tubuh yang luas tersebut. Akibatnya otot jantung akan menebal atau mengalami hipertrofi.
Penebalan otot jantung ini bukanlah hal yang baik seperti otot binaragawan. Penebalan dinding jantung justru membuat ruang jantung menjadi kaku dan sempit. Kondisi ini lama kelamaan akan menurunkan kemampuan jantung untuk memompa darah secara efisien yang berujung pada gagal jantung. Jadi kaitan antara berat badan dan beban kerja jantung adalah fakta fisiologis yang tidak bisa dibantah.
Bahaya Tersembunyi Lemak Viseral
Tidak semua lemak diciptakan sama. Ada lemak subkutan yang berada tepat di bawah kulit (yang bisa dicubit) dan ada lemak viseral. Lemak viseral inilah yang menjadi musuh utama kesehatan jantung. Lemak ini tersembunyi jauh di dalam rongga perut membungkus organ vital seperti hati pankreas dan usus.
Dokter ahli jantung sering memperingatkan bahwa lemak viseral bersifat aktif secara metabolik. Artinya lemak ini bukan sekadar cadangan energi yang pasif. Lemak ini bertindak seperti "organ" jahat yang memproduksi hormon dan zat peradangan atau inflamasi.
Zat zat peradangan ini akan masuk ke aliran darah dan merusak lapisan dinding pembuluh darah arteri. Kerusakan ini memicu pembentukan plak. Plak inilah yang nantinya akan menyumbat aliran darah ke jantung (serangan jantung) atau ke otak (stroke). Sering kali orang terlihat tidak terlalu gemuk dari luar namun memiliki perut buncit yang menandakan tumpukan lemak viseral yang tinggi.
Sindrom Metabolik dan Efek Domino
Obesitas jarang datang sendirian. Ia biasanya membawa teman teman yang berbahaya yang dikenal sebagai Sindrom Metabolik. Ini adalah sekumpulan kondisi yang terjadi bersamaan dan meningkatkan risiko penyakit jantung hingga berkali kali lipat.
Pertama adalah hipertensi atau tekanan darah tinggi. Tumpukan lemak menekan pembuluh darah dan meningkatkan resistensi aliran darah. Kedua adalah dislipidemia atau kekacauan kolesterol. Orang gemuk cenderung memiliki kadar trigliserida tinggi kolesterol jahat (LDL) tinggi namun kolesterol baik (HDL) yang rendah. Ketiga adalah resistensi insulin. Sel sel lemak yang berlebihan membuat tubuh menjadi tidak peka terhadap insulin. Akibatnya gula darah menumpuk di dalam darah dan memicu Diabetes Tipe 2.
Gula darah yang tinggi ibarat pecahan kaca yang mengalir di dalam pembuluh darah. Ia melukai dinding arteri dan mempercepat proses penyumbatan. Kombinasi dari darah tinggi kolesterol tinggi dan gula darah tinggi adalah resep sempurna untuk terjadinya serangan jantung fatal di usia muda.
Mitos Orang Kurus Pasti Bebas Sakit Jantung
Penting untuk meluruskan satu hal. Meskipun orang gemuk memiliki risiko lebih tinggi bukan berarti orang kurus otomatis kebal terhadap serangan jantung. Ada fenomena yang disebut TOFI atau Thin Outside Fat Inside.
Orang dengan tipe ini terlihat kurus secara fisik namun memiliki persentase lemak tubuh yang tinggi dan massa otot yang rendah. Mereka mungkin memiliki lemak viseral yang menumpuk di organ dalam karena pola makan buruk dan kurang olahraga meskipun berat badannya ideal di timbangan.
Oleh karena itu dokter selalu menyarankan pemeriksaan kesehatan menyeluruh atau Medical Check Up. Jangan hanya berpatokan pada angka timbangan atau Indeks Massa Tubuh (IMT) saja. Lingkar pinggang dan kadar profil lemak dalam darah adalah indikator yang jauh lebih akurat untuk memprediksi risiko serangan jantung.
Penurunan Berat Badan Sedikit Memberi Dampak Besar
Kabar baiknya adalah Anda tidak perlu langsung berubah menjadi model kebugaran untuk menyelamatkan jantung Anda. Penelitian medis menunjukkan bahwa menurunkan berat badan sebanyak 5 hingga 10 persen dari berat badan awal saja sudah memberikan dampak drastis pada kesehatan jantung.
Misalnya jika berat Anda 100 kg menurunkan 5 kg hingga 10 kg sudah cukup untuk menurunkan tekanan darah memperbaiki kadar kolesterol dan meningkatkan sensitivitas insulin secara signifikan. Jantung Anda akan berterima kasih karena bebannya berkurang.
Perubahan gaya hidup tidak harus ekstrem. Mulailah dengan berjalan kaki rutin selama 30 menit setiap hari mengurangi konsumsi gula dan tepung serta memperbanyak sayuran hijau. Konsistensi adalah kunci.
Kesimpulan Medis yang Tegas
Kembali ke pertanyaan awal benarkah orang gemuk lebih rentan terkena serangan jantung. Jawabannya adalah ya sangat benar. Risiko tersebut datang dari beban mekanis pada jantung peradangan kronis akibat lemak viseral dan komplikasi penyakit penyerta seperti diabetes dan hipertensi.
Namun nasib kesehatan Anda ada di tangan Anda sendiri. Obesitas adalah faktor risiko yang bisa diubah atau modifiable risk factor. Berbeda dengan faktor genetik atau usia yang tidak bisa dilawan berat badan bisa dikelola. Jangan menunggu sampai nyeri dada datang. Mulailah sayangi jantung Anda hari ini dengan mengelola berat badan yan
Next News

Cara Mencuci dan Menyetrika agar Serat Linen Tidak Pecah & Berbulu
in 5 hours

Mengenal Tech Neck dan Cara Menghentikan Kerusakan Leher Akibat HP
in 4 hours

Hanya Modal 10 Baju! Mengenal Tren Capsule Wardrobe yang Ramah Kantong dan Lingkungan
in 3 hours

Fenomena Career Minimalism, Saat Gen Z Tolak Jabatan Tinggi Demi Ketenangan Hidup
in an hour

6 Aturan Feng Shui Rumah Pembawa Hoki di Tahun Kuda Api 2026
12 minutes ago

Sepatu Kehujanan? Lakukan 4 Langkah Darurat Ini Agar Tidak Bau Apek
in 33 minutes

Mengapa Silica Gel Wajib Ada di Dalam Kotak Sepatu?
27 minutes ago

Melindungi Sepatu dari Hujan dengan Teknologi Water Repellent Nano
an hour ago

4 Trik Bahan Dapur untuk Restorasi Sneakers Tanpa Kimia Mahal
2 hours ago

Intip 5 Ide Beban Kreatif untuk Rucking di Sekitar Rumah
3 hours ago






