Ceritra
Ceritra Update

Harga Kebutuhan Pokok: Bikin Senyum atau Kerut Kening?

- Wednesday, 29 October 2025 | 03:00 PM

Background
Harga Kebutuhan Pokok: Bikin Senyum atau Kerut Kening?

Halo, Sobat Pangan! Pernah nggak sih, pagi-pagi buta sambil ngopi atau nyiapin sarapan, tiba-tiba kepikiran, "Duh, hari ini harga cabai berapa ya? Telur naik lagi gak?" Kalau iya, berarti kita sama. Urusan perut memang nomor satu, dan harga kebutuhan pokok itu kayak pacar, kadang bikin senyum lebar, kadang bikin kening berkerut.

Nah, Rabu, 29 Oktober 2025, tepatnya pukul 09:30 WIB, ada rangkuman menarik yang dilansir dari Panel Harga Badan Pangan Nasional (Bapanas) melalui Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS). Data ini penting banget buat kita yang tiap hari berjibaku di dapur atau sekadar ingin tahu perkembangan harga sembako. Ibaratnya, ini adalah 'rapor' harga pangan strategis nasional. Mari kita bedah satu per satu, biar nggak cuma menerka-nerka di pasar.

Cabai dan Telur: Ada Angin Segar, Tapi Jangan Senang Dulu!

Mulai dari si biang kerok pedas, cabai. Cabai rawit merah, si kecil mungil yang sering bikin masakan jadi nampol, ternyata harganya sedikit kalem di angka Rp39.200 per kilogram. Jujur aja, angka ini lumayan bikin napas lega sedikit, mengingat beberapa waktu lalu dia sempat melambung tinggi sampai bikin dompet menjerit. Katanya sih, ini ada sedikit penurunan dibandingkan hari sebelumnya. Lumayan lah ya, daripada naik terus kayak roket.

Terus, ada juga telur ayam ras, yang harganya bertengger di Rp31.450 per kilogram. Nah, telur ini nih, lauk primadona sejuta umat, dari anak kos sampai ibu rumah tangga. Kabar baiknya, harganya juga ikutan turun tipis. Siapa sih yang gak seneng kalau harga telur bisa lebih bersahabat? Bisa jadi sinyal buat stok telur di kulkas lebih banyak, biar gak panik kalau tiba-tiba mau bikin telur balado atau omelet.

Tapi, jangan keburu euforia. Penurunan ini memang ada, tapi kalau kita lihat angkanya, masih di kisaran yang perlu diwaspadai. Ibaratnya, baru turun satu anak tangga dari lantai lima, perjalanan ke lantai dasar masih panjang. Tapi ya namanya juga, angin segar sekecil apa pun tetap patut disyukuri, kan?

Bawang dan Daging Ayam: Nggak Banyak Gerak, Tapi Tetap Bikin Mikir

Sekarang, mari kita beralih ke duo bawang yang jadi bumbu wajib di setiap masakan. Bawang merah, yang seringkali bikin mata berkaca-kaca saat diiris, harganya malah naik sedikit, jadi Rp39.650 per kilogram. Loh, kok kamu malah naik, Mas Bawang? Padahal temen-temenmu ada yang lagi pada turun. Ini nih yang kadang bikin kita bertanya-tanya, "Emang ada apa sih di balik kenaikan harga ini?"

Sementara itu, bawang putih bonggol, si putih bersih yang aromanya selalu menggoda, harganya masih di angka Rp44.550 per kilogram. Agak aduhai juga ya, untuk ukuran bumbu dapur. Tapi ya sudahlah, namanya juga bawang putih, dia selalu punya harga spesial.

Kemudian, ada daging ayam ras, si jagoan protein di meja makan kita. Harganya terparkir manis di angka Rp37.850 per kilogram. Nggak terlalu banyak pergerakan signifikan, alias stabil di level yang sama. Buat para pencinta ayam goreng, ayam bakar, atau sate ayam, harga ini mungkin sudah jadi patokan standar yang familiar.

Dan jangan lupakan saudara-saudara cabai lainnya: cabai merah keriting dan cabai merah besar. Keduanya masih kompak di angka empat puluhan ribu. Cabai merah keriting Rp43.850 per kilogram, dan cabai merah besar Rp43.600 per kilogram. Jadi, kalau mau bikin sambal yang mantap dengan kedua cabai ini, siap-siap merogoh kocek sedikit lebih dalam ya!

Fluktuasi Minor: Roller Coaster Mini di Dapur Kita

Secara umum, dari data ini, kita bisa melihat bahwa harga komoditas pangan strategis memang mengalami fluktuasi minor. Kayak naik turun tangga, tapi cuma satu dua anak tangga aja. Bukan drama besar yang bikin harga langsung anjlok atau melesat tinggi, tapi juga bukan berarti semua sudah aman terkendali.

Ada beberapa yang sedikit menurun, memberi sedikit harapan. Tapi ada juga yang naik tipis, bikin kita harus tetap waspada. Rasanya, harga-harga ini tuh kayak lagi tarik ulur, mencoba menyeimbangkan diri di tengah berbagai faktor yang memengaruhinya, mulai dari cuaca, musim panen, sampai distribusi. Bagi kita sebagai konsumen, ini artinya harus lebih cermat dalam merencanakan belanja. Bisa jadi, hari ini si A murah, besok si B yang lagi turun harga.

Kondisi seperti ini memang sudah jadi rahasia umum di negeri kita. Harga pangan itu dinamis, selalu bergerak. Tapi yang paling penting adalah bagaimana pergerakan itu tetap dalam batas kewajaran, tidak sampai mencekik leher masyarakat, apalagi yang berpenghasilan pas-pasan. Angka-angka ini, meskipun terlihat cuma deretan digit, tapi punya dampak nyata lho ke meja makan kita setiap hari. Bahkan beda seribu dua ribu rupiah aja, sudah bisa bikin ibu-ibu di pasar mikir keras.

PIHPS: Polisi Harga yang Penting Banget!

Di sinilah peran Badan Pangan Nasional (Bapanas) melalui Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) jadi sangat krusial. Mereka ini seperti polisi lalu lintas harga, yang terus memantau dan memberikan informasi transparan kepada masyarakat. Bayangkan kalau tidak ada data seperti ini, kita semua pasti bakal buta harga dan gampang banget dipermainkan di pasar. Informasi harga yang valid dan ter-update itu adalah hak kita sebagai konsumen.

Dengan adanya PIHPS, kita jadi punya pegangan. Kita bisa membandingkan, merencanakan, dan bahkan kalau perlu, menunda pembelian kalau harganya dirasa masih terlalu mahal. Setidaknya, kita tidak lagi membeli kucing dalam karung alias cuma bisa pasrah dengan harga yang ada. Ini adalah langkah bagus menuju pasar yang lebih adil dan transparan.

Melihat ke Depan: Harapan untuk Harga Pangan yang Lebih Bersahabat

Jadi, meskipun ada sedikit kabar baik dari cabai rawit merah dan telur ayam ras, perjalanan harga pangan kita masih panjang. Fluktuasi minor adalah hal yang wajar, tapi harapan kita sebagai masyarakat tentu adalah stabilitas dan penurunan harga yang berkelanjutan. Bukan cuma turun tipis sesaat, tapi benar-benar bisa bertahan di level yang ramah di kantong.

Semoga saja, ke depan, dengan kerja keras semua pihak, mulai dari petani, distributor, sampai pemerintah, kita bisa melihat harga pangan yang lebih bersahabat. Biar belanja gak lagi jadi ajang deg-degan, tapi bisa jadi momen menyenangkan dan tenang. Mari kita berharap drama harga ini segera menemukan titik terang yang bikin kita semua bisa senyum lebar saat belanja kebutuhan dapur!

Logo Radio
🔴 Radio Live