Habis Buka Puasa Langsung Lemas? Mungkin Ini Penyebabnya
Refa - Friday, 06 March 2026 | 05:30 PM


Kenapa Berbuka dengan yang Terlalu Manis Malah Bikin Kamu Jadi Zombie?
Pernah nggak sih kamu merasa, setelah seharian menahan lapar dan dahaga, momen yang paling ditunggu-tunggu adalah gelas berisi es teh manis yang gulanya sampai mengendap di bawah, atau semangkuk kolak pisang yang santan dan gulanya minta ampun kentalnya? Pas tegukan pertama, rasanya kayak nemu oase di tengah padang pasir. Segar, ada sensasi "nyess" di tenggorokan, dan mendadak energi kayak balik lagi 100 persen. Tapi anehnya, selang 30 menit kemudian, bukannya semangat buat berangkat Tarawih, kamu malah merasa lemas, ngantuk berat, dan rasanya pengen rebahan selamanya di atas sajadah. Fenomena ini nyata, dan jujur saja, kita semua sering jadi korbannya.
Slogan "Berbukalah dengan yang manis" memang sudah mendarah daging di masyarakat kita. Iklan-iklan di TV dari zaman purba sampai sekarang selalu mendengungkan hal yang sama. Tapi masalahnya, kita sering salah kaprah dalam menerjemahkan kata "manis" itu sendiri. Alih-alih mengonsumsi manis yang alami dan secukupnya, kita malah "balas dendam" dengan mengguyur tubuh kita dengan glukosa dosis tinggi secara instan. Hasilnya? Bukannya segar, tubuh malah lelah luar biasa. Mari kita bedah kenapa hal ini bisa terjadi tanpa perlu pakai bahasa laboratorium yang bikin pusing.
Drama Gula Darah: Dari Puncak ke Jurang
Bayangkan tubuh kamu itu seperti sebuah mesin. Selama belasan jam berpuasa, bahan bakar (gula darah) di dalam tangki kamu sudah mencapai batas minimal. Mesinnya tetap jalan, tapi pelan-pelan. Nah, pas azan Magrib berkumandang, kamu tiba-tiba memasukkan gula dalam jumlah banyak, misalnya dari es buah yang sirupnya melimpah atau gorengan yang dicocol sambal botol yang juga tinggi gula. Apa yang terjadi?
Secara medis, ini namanya sugar rush. Gula darah kamu melonjak drastis dalam waktu singkat. Tubuh yang kaget langsung mengirim sinyal ke pankreas: "Woi, ini ada gula masuk satu truk, cepat keluarin insulin!". Pankreas pun bekerja ekstra keras memproduksi insulin untuk menurunkan kadar gula tersebut. Karena jumlah gulanya terlalu banyak dan sifatnya karbohidrat sederhana yang sangat cepat diserap, insulin yang keluar pun jadi berlebihan.
Nah, di sinilah letak masalahnya. Karena insulin yang keluar itu jumlahnya overdosis, kadar gula darah kamu yang tadinya tinggi tadi langsung terjun bebas ke titik yang sangat rendah dalam waktu singkat. Proses ini disebut reactive hypoglycemia. Jadi, cuma dalam hitungan menit setelah kamu merasa on, tubuh kamu malah kekurangan gula lagi. Akibatnya? Kamu merasa lemas, pusing, gemetaran, dan ngantuk yang nggak ketolongan. Kamu berubah jadi zombie yang cuma bisa bengong sambil nunggu makanan berat siap.
Beban Kerja Sistem Pencernaan yang Kaget
Selain urusan insulin, ada faktor lain yang bikin kamu cepat capek, yaitu kerja berat sistem pencernaan. Selama berpuasa, lambung dan usus kamu itu lagi mode hemat energi atau istirahat. Begitu buka puasa, mereka dipaksa kerja rodi buat mengolah asupan yang sangat manis dan biasanya dibarengi dengan gorengan yang berminyak. Tubuh butuh energi besar buat mencerna itu semua. Akhirnya, aliran darah yang harusnya didistribusikan ke otak atau otot buat aktivitas, malah semuanya ditarik ke area perut untuk membantu proses pencernaan.
Inilah yang bikin kamu merasa mager alias malas gerak. Secara alami, tubuh kamu bilang, "Eh, jangan gerak dulu ya, gue lagi sibuk ngurusin gula dan lemak yang lo masukin tadi nih!" Makin manis dan makin berat makanan pembukamu, makin lama pula rasa lelah itu bertahan. Jadi jangan heran kalau pas imam lagi baca surat yang agak panjang saat Tarawih, lutut kamu rasanya mau copot atau mata udah berat banget kayak ditempelin magnet.
Budaya Takjil dan Jebakan Self-Reward
Jujur saja, berbuka puasa di Indonesia itu lebih dari sekadar membatalkan puasa, ini sudah jadi budaya festival makanan. Kita sering merasa bahwa setelah berjuang menahan lapar, kita berhak mendapatkan hadiah atau self-reward berupa makanan apa pun yang kita inginkan. Sayangnya, otak kita biasanya lebih menginginkan sesuatu yang manis dan gurih secara ekstrem saat lapar.
Coba perhatikan meja makan pas buka. Ada es campur, ada kue-kue basah yang isinya gula semua, ada kolak, belum lagi teh manisnya. Tanpa sadar, kita mengonsumsi gula lebih banyak dari kebutuhan harian hanya dalam satu kali duduk. Observasi sederhananya begini: kalau kamu makan buah kurma tiga butir dengan air putih, kamu mungkin merasa cukup. Tapi kalau kamu mulai dengan es sirup, lidah kamu bakal terus minta makanan manis lainnya. Gula itu bikin nagih, dan rasa manis buatan malah menutup rasa kenyang yang sebenarnya.
Lalu, Harus Gimana Biar Nggak Gampang Capek?
Bukan berarti kamu nggak boleh makan yang manis sama sekali. Manis itu perlu untuk mengembalikan energi, tapi kuncinya ada pada jenis dan porsinya. Para ahli kesehatan (dan juga anjuran agama) sebenarnya sudah memberikan kisi-kisi yang pas. Cobalah beralih ke manis yang "lambat".
- Pilih Kurma: Kurma mengandung serat. Serat inilah yang berfungsi sebagai rem supaya gula darah nggak melonjak terlalu cepat. Energinya dilepaskan pelan-pelan, jadi nggak ada drama sugar crash di akhir.
- Air Putih adalah Koentji: Sebelum hajar es teh atau es campur, minum air putih dulu. Seringkali rasa haus yang luar biasa itu kita terjemahkan sebagai keinginan makan manis, padahal tubuh cuma butuh hidrasi.
- Bertahap: Berikan jeda. Minum air, makan satu atau dua camilan ringan (yang nggak terlalu manis), shalat Maghrib dulu, baru makan yang agak berat. Cara ini memberikan waktu buat sistem pencernaan "pemanasan" dulu sebelum tancap gas.
- Buah Segar vs Sirup: Kalau pengen yang segar-segar, buah potong jauh lebih baik daripada jus buah yang ditambah kental manis dan sirup. Serat di buah utuh itu penyelamat kamu dari rasa lemas setelah makan.
Kesimpulan: Jangan Zalim sama Tubuh Sendiri
Intinya, merasa lelah setelah berbuka itu bukan karena puasanya yang salah, tapi cara kita mengakhirinya yang kurang tepat. Kita sering terlalu fokus pada "kenikmatan di lidah" sampai lupa kalau tubuh kita punya batasan dalam mengolah glukosa. Menghindari makanan yang terlalu manis bukan berarti kita pelit sama diri sendiri, tapi justru itu bentuk kasih sayang kita ke organ tubuh yang sudah bekerja keras menemani kita beraktivitas seharian tanpa asupan.
Jadi, nanti pas beduk Maghrib bunyi, coba deh dikontrol sedikit nafsunya. Jangan sampai momen kemenangan setelah berpuasa malah berakhir dengan kamu terkapar lemas di sofa gara-gara kebanyakan gula. Sayang kan, energinya mending dipakai buat ibadah atau ngobrol berkualitas bareng keluarga. Yuk, jadi pembuka puasa yang lebih bijak, biar nggak jadi zombie di malam hari!
Next News

5 Cara Elegan Tolak Halal Bihalal Tanpa Dicap Sombong
in 2 hours

Kekuatan Meme Sebagai Bahasa Universal dan Alat Kritik Sosial Ampuh
in 6 hours

Alasan Ilmiah Air Laut Sangat Asin yang Perlu Kamu Tahu
in 5 hours

Mengapa Kita Takut Bicara di Depan Umum? Ini Penjelasannya
in 4 hours

Kenapa Beranda Sosmed Selalu Tahu Isi Hati? Simak Faktanya
in 3 hours

Alasan Ilmiah Kenapa Rambut dan Kuku Manusia Tidak Pernah Berhenti Tumbuh
in 2 hours

Pensiun Nyetrika! Kenali 6 Jenis Bahan Baju Anti-Lecek
2 hours ago

Mimpi Terasa Nyata Tapi Aneh? Simak Fakta Psikologis Ini
in an hour

Mengapa Lampion Identik dengan Budaya Tionghoa? Ini Jawabannya
in 28 minutes

Benarkah Madu Bisa Kedaluwarsa? Cek Faktanya di Sini!
32 minutes ago






