Ceritra
Ceritra Warga

Fenomena Mankeeping, Saat Istri Terjebak Mengasuh Pasangan Dewasa

Nisrina - Thursday, 26 February 2026 | 07:15 AM

Background
Fenomena Mankeeping, Saat Istri Terjebak Mengasuh Pasangan Dewasa
Ilustrasi mankeeping (magdalene.co/)

Menjalani biduk rumah tangga idealnya adalah tentang membangun kerja sama tim yang solid antara dua orang dewasa. Anda dan pasangan seharusnya berbagi beban yang sama, baik dalam urusan finansial, tanggung jawab domestik, maupun dukungan emosional. Namun pada kenyataannya, banyak perempuan yang justru merasa kelelahan karena dinamika hubungan yang sangat timpang. Alih alih mendapatkan partner hidup yang setara, banyak istri yang tanpa sadar terjebak menjadi pengasuh bagi suami mereka sendiri.

Dalam dunia psikologi dan sosiologi modern, situasi melelahkan ini dikenal dengan istilah mankeeping. Ini adalah sebuah kondisi di mana seorang perempuan memikul beban dominan dalam mengatur detail kehidupan, urusan sosial, hingga menjadi penanggung jawab tunggal atas stabilitas emosi pasangannya. Mari kita kupas tuntas fenomena ini secara mendalam agar Anda bisa mengenali tanda tandanya, memahami akar masalahnya, dan menemukan solusi yang sehat untuk hubungan Anda.

Memahami Apa Itu Fenomena Mankeeping

Secara sederhana, mankeeping merujuk pada perilaku di mana perempuan dipaksa atau merasa terpaksa untuk mengambil peran sebagai pengasuh bagi pasangan laki laki dewasa. Mengutip dari laporan media internasional Times of India, peran pengasuhan tambahan ini melampaui batas kewajaran suami istri. Perempuan tidak lagi hanya berperan sebagai pendamping hidup, melainkan merangkap jabatan sebagai terapis pribadi, sekretaris sosial, pengingat jadwal medis, hingga koordinator pertemanan bagi pasangannya.

Fenomena ini bukanlah sebuah kebetulan yang dialami satu atau dua orang saja. Sebuah laporan mengejutkan dari NDTV pada Agustus 2025 yang berjudul "Am I Dating A Boyfriend Or Raising One?" mengungkapkan data yang cukup memprihatinkan. Laporan tersebut mencatat bahwa sebanyak 72 persen perempuan mengalami kondisi kelelahan mental atau burnout yang parah akibat dipaksa menjadi mentor emosional bagi pasangan mereka. Sejalan dengan hal tersebut, media Al Dia News juga menyoroti perilaku ini dan menyebutnya sebagai sebuah bentuk "tenaga kerja emosional tak berbayar" yang sangat menguras energi perempuan.

Kisah Nyata Lelahnya Menghadapi Pasangan Rasa Bayi Gede

Untuk memahami seberapa berat beban mankeeping ini, kita bisa melihat dari kisah nyata beberapa perempuan di Indonesia. Kisah pertama datang dari Fitri, seorang wanita berusia 52 tahun yang telah menjalani peran pengelola rumah tangga hampir sepanjang usia pernikahannya. Selama 25 tahun menikah, urusan domestik keseharian sepenuhnya bergantung pada pundak Fitri.

Ia bahkan harus mencatat jadwal mengajar suaminya di sebuah kalender besar. Fitri menuturkan bahwa jika keluarga mereka hendak bepergian, persiapan yang ia lakukan sangat luar biasa. Ia harus menyiapkan pakaian ganti suami, celana dalam, hingga memastikan suaminya tidak lupa membawa botol minum dan dompet. Bagi Fitri, ini bukan sekadar bantuan kecil, melainkan tanggung jawab besar yang sangat membebani.

Lebih parah lagi, ketimpangan ini merembet ke wilayah emosional. Fitri selalu menjadi pihak yang terus menerus menjaga perasaan pasangan dan harus meminta maaf lebih dulu saat terjadi konflik. Ia mengaku terpaksa selalu mengalah demi menjaga kestabilan emosi sang suami karena takut situasi akan semakin sulit dihadapi jika masalah berlarut larut. Akibat memendam kelelahan ini, Fitri sering kehilangan kendali dan meluapkan emosinya kepada anak perempuannya.

Kondisi serupa juga dialami oleh Indri yang berusia 37 tahun. Indri bahkan secara terang terangan menjuluki suaminya sebagai "Bayi Gede". Sejak awal menikah, Indri merasa tidak sekadar berbagi ruang hidup, tetapi juga memikul beban berat untuk merawat seorang manusia dewasa. Suami Indri memiliki karier yang sangat cemerlang dan disegani oleh banyak orang di luar rumah, namun urusan menjaga diri sendiri nilainya nol besar.

Indri harus memastikan suaminya makan teratur, istirahat cukup, hingga mengurus kebutuhan medisnya karena sang suami memiliki riwayat tekanan darah tinggi. Indri yang bertugas menjadwalkan kontrol dokter dan memastikan obat diminum tepat waktu. Pernah suatu ketika, tekanan darah suaminya melonjak drastis setelah tiga hari bertugas di luar kota. Sang suami sama sekali tidak menjaga pola makan dan lupa meminum obat yang padahal sudah disiapkan dengan rapi oleh Indri. Situasi tersebut membuat Indri kehabisan kesabaran dan merasa sedang memelihara bayi yang tidak bisa melakukan apa apa secara mandiri.

Akar Psikologis dan Budaya di Balik Mankeeping

Mengapa fenomena ini bisa terjadi begitu masif di tengah masyarakat. Psikolog klinis Nirmala Ika menjelaskan bahwa mankeeping berakar sangat kuat pada konstruksi gender yang sudah lama membudaya dalam kehidupan sehari hari. Sistem patriarki secara turun temurun menempatkan perempuan sebagai sosok pengasuh alami.

Menurut penjelasan Nirmala, memori pengasuhan ini bahkan mulai dibentuk secara tidak sadar sejak masa kehamilan. Saat seorang perempuan hamil, ia tetap dituntut oleh lingkungan untuk menjalankan peran domestik secara penuh, mulai dari mengurus keluarga, melayani suami, hingga mengurus mertua. Residu emosional berupa rasa frustrasi, kebingungan, dan kesedihan sering kali ikut terbawa ke dalam tubuh ibu dan bahkan dirasakan oleh janin yang sedang dikandungnya.

Kondisi sosiologis ini akhirnya membentuk sebuah pola pikir yang merugikan. Pemenuhan nilai diri seorang perempuan kerap kali dilekatkan pada seberapa mampu ia mengayomi dan merawat orang lain, terutama pasangannya. Di sisi lain, laki laki sejak kecil sering disosialisasikan untuk bergantung pada kerja kerja perawatan dari seorang perempuan, mulai dari ibu hingga berpindah ke istri. Nirmala menegaskan bahwa situasi ini bukan sekadar urusan memanjakan pasangan, tetapi merupakan kegagalan sistem sosial yang tidak memberikan ruang bagi laki laki untuk mengembangkan kemandirian domestik dan kecerdasan emosionalnya sendiri.

Jebakan Misogini Internal pada Diri Perempuan

Fakta medis dan psikologis lain yang tidak kalah mengejutkan adalah bahwa mankeeping sering kali lahir dari internalisasi misogini perempuan itu sendiri. Banyak perempuan yang secara tidak sadar merasa perlu melakukan segala urusan rumah tangga agar mereka merasa berguna dan bernilai di mata pasangannya. Dorongan inilah yang akhirnya menutup rapat ruang bagi laki laki untuk belajar, bertumbuh, dan memikul tanggung jawab.

Pola tidak sehat ini sangat mudah ditemukan dalam praktik kehidupan sehari hari. Contohnya adalah sikap istri yang melarang keras suami mencuci piring karena menganggap itu bukan pekerjaan laki laki. Contoh lainnya adalah istri yang enggan berbagi tanggung jawab domestik karena merasa hasil kerja suaminya selalu berantakan dan tidak becus. Padahal, tidak sedikit laki laki yang sebenarnya memiliki niat baik dan ingin terlibat aktif. Namun karena terus menerus dikritik secara tajam atau pekerjaannya selalu diambil alih di tengah jalan, mereka akhirnya merasa tidak dipercaya dan memilih untuk berhenti mencoba sama sekali.

Cara Memutus Rantai dan Mulai Berbagi Peran Sehat

Memutus siklus mankeeping membutuhkan kerja keras, komitmen, dan komunikasi yang terbuka dari kedua belah pihak. Perubahan tentu tidak bisa hanya dibebankan kepada pihak perempuan saja. Laki laki juga harus segera mengambil langkah nyata, berhenti mengambil posisi pasif, dan mulai bertanggung jawab penuh atas kebutuhan domestik serta emosionalnya sendiri.

Bagi para istri, langkah pertama yang paling penting adalah belajar untuk melepaskan kendali. Berhentilah bersikap layaknya seorang ibu bagi suami Anda. Biarkan pasangan Anda menghadapi konsekuensi dari ketidakmampuannya sendiri. Jika ia lupa membawa dompet atau botol minum, biarkan ia mencari solusinya sendiri. Selama Anda terus menerus menyelamatkan pasangan dari kesalahan kecilnya, pola mankeeping ini akan terus berputar tanpa henti.

Mulailah melakukan pembagian tugas rumah tangga secara adil dan tertulis jika perlu. Berikan kepercayaan penuh kepada pasangan saat ia sedang melakukan tugas domestiknya. Hindari mengkritik cara kerjanya meskipun hasilnya tidak sesempurna ekspektasi Anda. Pernikahan adalah tentang kemitraan yang setara, bukan tentang siapa yang paling pintar mengasuh siapa.

Logo Radio
🔴 Radio Live