Ceritra
Ceritra Warga

Fenomena Hilangnya Skill Dasar Akibat Kemudahan Teknologi Modern

Nisrina - Wednesday, 11 February 2026 | 12:15 PM

Background
Fenomena Hilangnya Skill Dasar Akibat Kemudahan Teknologi Modern
Jam analog (Freepik/Freepik)

Perkembangan teknologi ibarat pedang bermata dua. Di satu sisi ia menawarkan kemudahan dan efisiensi yang luar biasa namun di sisi lain ia perlahan mengikis kemampuan dasar manusia yang dulunya dianggap vital. Generasi yang tumbuh di era 80 an atau 90 an pasti merasakan perbedaan yang sangat kontras dengan generasi masa kini.

Dulu kita dipaksa oleh keadaan untuk menguasai berbagai keterampilan manual demi bertahan hidup atau menyelesaikan masalah sehari hari. Namun kini semua itu bisa diselesaikan dengan satu sentuhan jari di layar kaca atau perintah suara kepada kecerdasan buatan. Kenyamanan ini ternyata memunculkan fenomena baru yaitu hilangnya life skills atau keterampilan hidup mendasar.

Fenomena ini bukan sekadar nostalgia orang tua terhadap masa lalu. Para ahli pendidikan dan pejabat pemerintah bahkan mulai menyoroti dampak serius dari ketergantungan teknologi ini terhadap perkembangan kognitif anak anak. Berikut adalah sembilan keterampilan legendaris yang kini terancam punah di telan zaman modern.

Kesulitan Membaca Jam Analog

Salah satu keterampilan paling dasar yang mulai hilang adalah kemampuan membaca jam dinding jarum atau analog. Dulu anak anak SD diajarkan dengan teliti bagaimana membedakan jarum pendek yang menunjuk jam dan jarum panjang yang menunjuk menit. Kita diajarkan konsep "setengah" "seperempat" atau "kurang sepuluh menit" hanya dengan melihat posisi jarum.

Namun di era digital saat ini jam analog di tangan maupun di dinding mulai tergantikan oleh jam digital di ponsel pintar. Angka waktu langsung tertera jelas tanpa perlu interpretasi. Akibatnya banyak anak muda yang bingung ketika diminta membaca jam dinding biasa.

Hal ini bukan isapan jempol belaka. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah atau Mendikdasmen bahkan sempat menyoroti fakta bahwa banyak anak Indonesia saat ini tidak bisa membaca jam analog. Ini bukan sekadar soal tahu waktu tetapi juga hilangnya pemahaman spasial dan konsep pecahan matematika sederhana yang diajarkan melalui pergerakan jarum jam.

Krisis Kemampuan Hitung Dasar Tanpa Alat

Matematika dasar seperti perkalian dan pembagian dulunya adalah menu wajib yang harus dilahap di luar kepala. Kita ingat betapa kerasnya usaha menghafal tabel perkalian 1 sampai 10 atau mencoret coret kertas buram untuk membagi bilangan ribuan dengan cara porogapit.

Sayangnya kemampuan ini merosot tajam. Dengan kalkulator yang tersedia di setiap ponsel dan kini adanya AI yang bisa menjawab soal matematika hanya dengan difoto kemampuan otak untuk memproses angka menjadi tumpul.

Berita berita pendidikan belakangan ini sering kali membuat miris. Ada laporan viral di mana guru SMA membagikan kenyataan pahit bahwa siswa kelas 12 bahkan tidak menguasai perkalian dasar. Kasus siswa SMP yang belum lancar berhitung juga menjadi sorotan tajam Mendikdasmen. Ketergantungan pada alat hitung membuat logika matematika siswa melemah yang padahal sangat penting untuk melatih kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah.

Seni Menulis Tangan yang Terlupakan

Menulis halus kasar atau sekadar mencatat pelajaran di buku tulis menggunakan pena adalah rutinitas harian pelajar zaman dulu. Ada sensasi tersendiri saat tinta pena habis atau saat meraut pensil hingga runcing. Menulis tangan terbukti membantu otak mengingat informasi lebih baik daripada mengetik.

Namun kini papan tulis kapur berganti menjadi proyektor dan buku tulis berganti menjadi tablet atau laptop. Tugas sekolah dikerjakan dalam format digital dan dikirim via email. Akibatnya tulisan tangan anak zaman sekarang sering kali sulit dibaca atau kaku karena otot motorik halus mereka jarang dilatih untuk memegang alat tulis.

Generasi Streaming yang Asing dengan DVD

Bagi generasi milenial menyewa atau membeli kepingan VCD dan DVD adalah sebuah ritual hiburan. Kita harus hati hati memegang piringan agar tidak tergores membersihkannya dengan kain halus jika macet dan memasukkannya ke dalam player. Ada kesabaran yang dilatih saat menunggu loading atau memilih menu.

Di era layanan streaming seperti Netflix atau YouTube konsep fisik dari sebuah film sudah hilang. Anak anak zaman sekarang terbiasa dengan kepuasan instan. Tinggal klik judul film langsung tayang. Jika Anda menyodorkan kepingan DVD kepada anak SD saat ini besar kemungkinan mereka tidak tahu benda apa itu atau bagaimana cara menggunakannya.

Pudarnya Budaya Riset Lewat Buku Fisik

Mencari informasi di zaman dulu adalah sebuah petualangan. Kita harus pergi ke perpustakaan membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia yang tebal untuk mencari satu kata atau menelusuri Ensiklopedia atau RPUL untuk tugas sekolah. Kita belajar menelusuri indeks membalik halaman dan membaca konteks secara utuh.

Sekarang "Mbah Google" dan ChatGPT mengambil alih peran tersebut. Informasi bisa didapatkan dalam hitungan milidetik. Cukup ketik kata kunci jawaban langsung tersaji. Kemudahan ini di satu sisi sangat membantu namun di sisi lain menurunkan daya juang literasi. Anak anak cenderung hanya membaca rangkuman atau jawaban instan tanpa mau mendalami materi dari sumber aslinya.

Menjahit Pakaian Dasar Bukan Lagi Prioritas

Keterampilan menjahit kancing yang lepas atau menambal celana yang robek sedikit dulunya adalah survival skill yang diajarkan ibu di rumah. Kotak kaleng biskuit yang isinya benang dan jarum adalah benda pusaka di setiap rumah tangga.

Di era modern budaya konsumtif dan fast fashion mengubah pola pikir kita. Jika baju rusak sedikit lebih mudah membeli yang baru yang harganya murah atau membawanya ke penjahit profesional. Jarang sekali ada anak muda yang masih menyimpan perlengkapan jahit di kos atau rumah mereka apalagi bisa menggunakannya dengan rapi. Keterampilan tangan yang membutuhkan ketelatenan ini perlahan punah.

Mobil Manual Dianggap Merepotkan

Belajar menyetir mobil manual adalah rite of passage atau upacara pendewasaan bagi banyak orang dulu. Mengatur kopling agar mesin tidak mati di tanjakan merasakan getaran mesin untuk oper gigi dan mengkoordinasikan tangan serta kaki adalah seni tersendiri.

Kini mobil transmisi otomatis atau matic mendominasi jalanan. Alasan kepraktisan dan kemacetan kota membuat orang enggan belajar manual. Banyak pengemudi baru yang langsung mendapatkan SIM dengan mobil matic tanpa pernah merasakan sensasi "menginjak kopling". Keterampilan mengendalikan mesin secara mekanis ini pun semakin langka.

Nostalgia Transfer File Bluetooth dan Inframerah

Generasi sekarang tidak akan pernah merasakan senam jantung saat mengirim satu lagu mp3 atau satu foto via inframerah atau Bluetooth versi lama. Kita harus mendekatkan dua ponsel tidak boleh bergerak sedikit pun dan menunggu proses transfer yang memakan waktu bermenit menit.

Sekarang teknologi transfer data sudah secepat kilat. Ada AirDrop WhatsApp Document Google Drive atau Telegram yang bisa mengirim file bergiga giga dalam sekejap. Kemudahan ini membuat kita lupa betapa mahalnya nilai sebuah data di masa lalu.

Memasak Nasi Tradisional vs Rice Cooker

Terakhir adalah kemampuan memasak nasi tanpa alat elektronik. Dulu menanak nasi adalah proses yang melibatkan teknik "aron" mengukur air dengan ruas jari di panci mengaduk agar tidak gosong di dasar dan memindahkannya ke kukusan.

Kehadiran rice cooker atau magic com telah memanjakan kita semua. Tinggal cuci beras tambah air tekan tombol dan tinggalkan. Hasilnya pasti matang sempurna. Akibatnya jika listrik padam atau alat rusak banyak orang modern yang kebingungan dan tidak bisa menyajikan nasi matang di meja makan karena tidak tahu teknik manualnya.

Perubahan adalah hal yang pasti namun menyadari apa yang hilang membuat kita bisa lebih bijak. Mungkin tidak semua keterampilan di atas harus dikuasai kembali namun melatih dasar dasarnya bisa menjadi cara untuk menjaga ketajaman otak dan kemandirian kita di tengah gempuran teknologi yang memanjakan.

Logo Radio
🔴 Radio Live