Ceritra
Ceritra Warga

Alasan Ahli Komunikasi Larang Pakai Kata Kenapa Saat Bertanya

Nisrina - Wednesday, 11 February 2026 | 09:15 AM

Background
Alasan Ahli Komunikasi Larang Pakai Kata Kenapa Saat Bertanya
Ilustrasi (istimewa/)

Dalam percakapan sehari hari kita sering kali secara otomatis melontarkan pertanyaan yang dimulai dengan kata "Kenapa". Ketika pasangan pulang terlambat kita bertanya "Kenapa kamu telat". Ketika bawahan melakukan kesalahan di kantor kita bertanya "Kenapa laporannya salah". Atau bahkan ketika kita merasa sedih kita bertanya pada diri sendiri "Kenapa aku begini".

Sekilas pertanyaan ini terdengar sangat wajar dan logis. Kita ingin tahu alasan di balik sebuah kejadian. Namun pernahkah Anda menyadari bahwa jawaban yang Anda dapatkan sering kali tidak memuaskan. Alih alih mendapatkan penjelasan yang jujur dan solutif Anda justru mendapatkan alasan yang dibuat buat sikap defensif atau bahkan kebohongan.

Seorang ahli komunikasi dan pelatih kepemimpinan mengungkapkan sebuah fakta yang mengejutkan. Ternyata pertanyaan "Kenapa" sering kali tidak berguna dan justru merusak komunikasi. Artikel Vice menyoroti bahwa pertanyaan ini cenderung memicu respons negatif di otak manusia.

Artikel ini akan mengupas tuntas mengapa satu kata sederhana ini bisa menjadi racun dalam hubungan dan pekerjaan. Kita juga akan mempelajari teknik penggantinya yang jauh lebih ampuh untuk menggali kebenaran dan membangun koneksi yang lebih dalam dengan lawan bicara.

Jebakan Psikologis di Balik Kata Kenapa

Secara psikologis kata "Kenapa" memiliki muatan emosional yang berat. Ketika seseorang mendengar kata ini otak mereka cenderung menerjemahkannya sebagai sebuah tuduhan atau penghakiman. Seolah olah ada jari telunjuk yang sedang menuding ke arah wajah mereka.

Bayangkan Anda menjatuhkan gelas hingga pecah. Jika seseorang bertanya "Kenapa kamu menjatuhkannya" reaksi instan Anda pasti adalah membela diri. Anda mungkin akan menyalahkan lantai yang licin gelas yang berminyak atau gangguan suara yang mengagetkan Anda. Fokus Anda bukan pada solusi melainkan pada pembenaran diri agar tidak terlihat salah.

Pertanyaan "Kenapa" memaksa orang untuk melihat ke masa lalu dan mencari cari alibi. Dalam konteks profesional ini sangat tidak produktif. Karyawan yang ditanya "Kenapa target tidak tercapai" akan sibuk menyusun daftar alasan eksternal seperti kondisi pasar yang buruk atau kurangnya dukungan tim alih alih memikirkan strategi perbaikan. Ini adalah jalan buntu komunikasi yang sering tidak disadari oleh para pemimpin dan orang tua.

Memicu Sikap Defensif dan Menutup Diri

Salah satu alasan utama mengapa ahli komunikasi menyarankan untuk menghindari kata ini adalah karena efeknya yang membuat orang menjadi defensif. Ketika mode pertahanan diri aktif gerbang logika dan empati sering kali tertutup.

Dalam sebuah hubungan romantis pertanyaan "Kenapa kamu tidak pernah mendengarkan aku" tidak akan membuat pasangan Anda tiba tiba menjadi pendengar yang baik. Sebaliknya itu akan memicu pertengkaran. Pasangan Anda akan merasa diserang karakternya dan akan membalas dengan mengungkit kesalahan Anda di masa lalu.

Dialog yang seharusnya menjadi jembatan pemahaman berubah menjadi arena pertempuran ego. Lawan bicara merasa tidak aman secara psikologis untuk berkata jujur. Mereka takut jika mereka memberikan alasan yang sebenarnya alasan tersebut akan digunakan untuk menyerang mereka lebih lanjut. Akhirnya mereka memilih untuk diam atau memberikan jawaban klise yang "aman" hanya untuk mengakhiri percakapan secepat mungkin.

Kekuatan Ajaib Kata Apa dan Bagaimana

Lantas jika kita tidak boleh bertanya "Kenapa" bagaimana cara kita mengetahui alasan di balik sesuatu. Ahli komunikasi menyarankan sebuah trik sederhana namun sangat powerful yaitu mengganti kata "Kenapa" dengan "Apa" atau "Bagaimana".

Pergeseran kata ini mungkin terlihat sepele namun dampaknya pada psikologi lawan bicara sangat besar. Pertanyaan "Apa" dan "Bagaimana" cenderung bersifat objektif membumi dan berorientasi pada fakta serta masa depan.

Alih alih bertanya "Kenapa kamu telat" cobalah bertanya "Apa yang membuatmu datang terlambat hari ini". Nuansanya berubah drastis. Pertanyaan kedua terdengar lebih ingin tahu dan penuh empati daripada menuduh. Lawan bicara akan lebih nyaman menceritakan hambatan yang mereka temui di jalan tanpa merasa dihakimi sebagai orang yang tidak disiplin.

Dalam konteks pekerjaan ganti "Kenapa proyek ini gagal" dengan "Apa tantangan terbesar yang tim hadapi dalam proyek ini" atau "Bagaimana kita bisa mencegah kesalahan yang sama di masa depan". Pertanyaan ini mengajak otak untuk berpikir konstruktif dan mencari solusi bukan mencari kambing hitam.

Penerapan dalam Menilai Diri Sendiri

Larangan menggunakan kata "Kenapa" tidak hanya berlaku saat berbicara dengan orang lain tetapi juga saat berbicara dengan diri sendiri atau self talk.

Banyak orang terjebak dalam lingkaran setan depresi karena terus menerus bertanya "Kenapa aku selalu gagal" atau "Kenapa tidak ada yang menyukaiku". Pertanyaan ini disebut ruminasi. Otak Anda akan bekerja keras mencari bukti bukti di masa lalu yang memvalidasi bahwa Anda memang gagal dan tidak disukai. Ini sangat merusak kesehatan mental.

Cobalah ganti narasinya. Tanyakan pada diri sendiri "Apa yang bisa aku pelajari dari kegagalan ini" atau "Bagaimana cara aku memperbaiki kemampuan sosialku". Dengan mengubah pertanyaan Anda mengubah fokus dari mengasihani diri sendiri menjadi memberdayakan diri sendiri. Anda beralih dari posisi korban menjadi posisi pengendali nasib.

Kapan Kata Kenapa Masih Boleh Digunakan

Tentu saja tidak semua kata "Kenapa" itu haram. Ada konteks tertentu di mana kata ini justru sangat diperlukan. Salah satunya adalah ketika kita ingin memahami tujuan nilai atau motivasi positif seseorang.

Misalnya bertanya "Kenapa nilai ini sangat penting bagimu" atau "Kenapa kamu sangat bersemangat dengan hobi barumu". Dalam konteks ini "Kenapa" digunakan untuk menggali kedalaman passion dan makna bukan untuk menginterogasi kesalahan.

Selain itu dalam dunia analisis masalah teknis seperti metode 5 Whys di manajemen pabrik kata ini berguna untuk mencari akar penyebab kerusakan mesin atau sistem. Namun perlu diingat mesin tidak punya perasaan. Manusia punya. Jadi ketika berhadapan dengan manusia gunakanlah pendekatan yang lebih lembut dan strategis.

Menjadi Komunikator yang Lebih Cerdas

Mengubah kebiasaan bertanya memang butuh latihan. Mulut kita sudah terprogram puluhan tahun untuk melontarkan kata "Kenapa" secara otomatis. Namun dengan sedikit kesadaran dan latihan Anda akan melihat perubahan besar dalam kualitas hubungan Anda.

Anda akan menyadari bahwa orang orang di sekitar Anda menjadi lebih terbuka. Pasangan lebih sering bercerita jujur karyawan lebih berani menyampaikan ide perbaikan dan anak anak tidak lagi takut mengakui kesalahan.

Komunikasi yang efektif bukanlah tentang seberapa pintar kita berbicara tetapi seberapa cerdas kita membuat orang lain merasa aman untuk berbicara. Dengan membuang satu kata yang tidak berguna dan menggantinya dengan pertanyaan yang lebih memberdayakan Anda membuka pintu menuju pemahaman yang sesungguhnya. Jadi mulai hari ini berhentilah bertanya "Kenapa" dan mulailah bertanya "Apa" demi hubungan yang lebih harmonis.

Logo Radio
🔴 Radio Live