Ceritra
Ceritra Uang

Dinamika Harga Cabai dan Telur yang Menjadi Barometer Ekonomi Dapur Rumah Tangga

Nisrina - Thursday, 08 January 2026 | 01:45 PM

Background
Dinamika Harga Cabai dan Telur yang Menjadi Barometer Ekonomi Dapur Rumah Tangga
Ilustrasi cabai rawit merah di pasar tradisional. (Antara Foto/Asep Fathulrahman)

Isu mengenai fluktuasi harga bahan pangan pokok selalu menjadi topik yang sensitif dan menyita perhatian masyarakat luas di Indonesia. Data terbaru dari Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional atau PIHPS yang mencatat harga cabai rawit menyentuh angka Rp53.900 per kilogram dan telur ayam ras di kisaran Rp32.750 per kilogram menjadi pengingat nyata akan volatilitas pasar yang harus dihadapi konsumen. Angka-angka ini bukan sekadar statistik ekonomi yang dingin melainkan representasi langsung dari daya beli masyarakat yang sedang tertekan. Kenaikan harga pada dua komoditas vital ini sering kali menjadi sinyal awal adanya gangguan dalam rantai pasok nasional yang jika tidak segera ditangani dapat memicu inflasi yang lebih luas di sektor kebutuhan sehari-hari.

Cabai rawit merah memiliki posisi yang unik dalam budaya kuliner nusantara karena dianggap sebagai kebutuhan primer yang sulit disubstitusi. Ketika harganya melambung hingga menembus angka psikologis lima puluh ribu rupiah, dampaknya langsung terasa mulai dari dapur rumah tangga hingga pengusaha warung makan kecil. Tingginya harga cabai sering kali disebabkan oleh faktor cuaca ekstrem yang mengganggu masa panen petani di sentra produksi utama. Sifat tanaman cabai yang mudah membusuk dan tidak tahan lama membuat manajemen stok menjadi tantangan tersendiri sehingga sedikit saja gangguan pada distribusi akan langsung mengerek harga jual di pasar tradisional maupun ritel modern secara signifikan.

Sementara itu kenaikan harga telur ayam ras yang menembus angka tiga puluh ribu rupiah per kilogram membawa kekhawatiran tersendiri dari sisi pemenuhan gizi masyarakat. Telur selama ini dikenal sebagai sumber protein hewani yang paling terjangkau bagi rakyat banyak dibandingkan daging sapi atau ayam. Ketika harganya merangkak naik, maka akses masyarakat kelas menengah ke bawah terhadap asupan protein berkualitas menjadi terancam. Fenomena mahalnya harga telur biasanya dipicu oleh kenaikan harga pakan ternak jagung atau konsentrat impor yang membebani biaya produksi para peternak ayam petelur. Hal ini memaksa peternak untuk menaikkan harga jual di tingkat kandang demi menghindari kerugian yang lebih dalam.

Keberadaan PIHPS sebagai instrumen pemantau harga harian memegang peranan krusial dalam memberikan transparansi data kepada publik dan pemerintah. Melalui data yang tersaji secara real time tersebut pemerintah dapat memetakan daerah mana yang mengalami lonjakan harga tidak wajar dan segera melakukan intervensi pasar. Langkah stabilisasi harga sangat diperlukan untuk menjaga keseimbangan antara keuntungan yang layak bagi petani dan peternak sebagai produsen dengan harga yang wajar bagi konsumen. Keseimbangan ini adalah kunci agar roda ekonomi tetap berputar tanpa ada satu pihak yang merasa dirugikan secara berlebihan dalam ekosistem pangan nasional.

Bagi masyarakat selaku konsumen akhir, fenomena naik turunnya harga pangan ini menuntut kecerdasan dalam mengelola anggaran belanja dapur. Menyiasati lonjakan harga bisa dilakukan dengan mencari alternatif menu masakan atau membeli kebutuhan secara kolektif untuk mendapatkan harga yang lebih murah. Di sisi lain situasi ini juga menjadi alarm bagi pemangku kebijakan untuk terus membenahi tata niaga pangan dan infrastruktur distribusi logistik antar pulau. Stabilitas harga pangan seperti cabai dan telur adalah indikator sederhana namun fundamental dari kesejahteraan rakyat yang harus terus diperjuangkan keberlanjutannya sepanjang tahun.

Logo Radio
🔴 Radio Live