Ceritra
Ceritra Update

Darurat Kekerasan Digital: Mengenal Modus Online Grooming dan Cara Mencegahnya

Nisrina - Tuesday, 13 January 2026 | 12:45 PM

Background
Darurat Kekerasan Digital: Mengenal Modus Online Grooming dan Cara Mencegahnya
Ilustrasi online grooming (childsafenet.org/)

Di era digital yang serba terbuka ini, internet telah menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, ia membuka jendela informasi dan koneksi tanpa batas, namun di sisi lain, ia menyimpan lorong-lorong gelap yang mengancam keselamatan kelompok rentan, terutama perempuan dan anak-anak. Data statistik menunjukkan fakta yang meresahkan. Berdasarkan studi Plan International pada tahun 2022, ditemukan bahwa 58 persen anak perempuan dan perempuan muda pernah mengalami kekerasan di ranah daring.

Kondisi di Indonesia pun tidak kalah mengkhawatirkan. Dalam rentang tahun 2020 hingga 2021, tercatat sekitar 500.000 anak pernah menjadi korban eksploitasi seksual dan perlakuan salah di ranah digital. Angka setengah juta ini hanyalah puncak gunung es karena data tersebut hanya mencakup korban yang berani melapor. Jumlah kasus yang sebenarnya di lapangan diyakini jauh lebih tinggi karena banyaknya korban yang memilih diam akibat rasa takut, malu, atau ketidaktahuan. Salah satu bentuk kejahatan yang paling sering terjadi namun sulit dideteksi sejak dini adalah online grooming.

Memahami Apa Itu Online Grooming

Secara definisi, online grooming adalah sebuah proses terencana di mana seorang pelaku membangun hubungan emosional dengan korban melalui penggunaan internet atau teknologi digital. Tujuan utama dari hubungan ini bukan untuk pertemanan yang tulus, melainkan untuk memfasilitasi kontak seksual, baik yang dilakukan secara daring (seperti meminta foto atau video tidak senonoh) maupun luring (pertemuan fisik). Pelaku kejahatan ini sering kali adalah orang dewasa yang memanipulasi anak-anak atau remaja dengan memanfaatkan kepolosan dan kebutuhan emosional mereka.

Bahaya utama dari online grooming terletak pada sifatnya yang manipulatif dan bertahap. Pelaku tidak langsung menyerang, melainkan menyusup perlahan ke dalam kehidupan korban, membuat korban merasa nyaman, diperhatikan, dan dipahami, sebelum akhirnya menjebak mereka dalam situasi eksploitatif.

Mengenali Tanda Bahaya dari "Teman" Online

Penting bagi pengguna internet, khususnya remaja dan orang tua, untuk peka terhadap pola komunikasi yang tidak wajar di media sosial. Waspadalah jika menemukan seseorang yang baru dikenal di dunia maya menunjukkan perilaku-perilaku mencurigakan. Tanda pertama biasanya dimulai dengan pertanyaan yang bersifat invasif mengenai informasi pribadi, seperti usia, domisili, nama sekolah, atau rutinitas harian. Informasi ini digunakan pelaku untuk memetakan profil korban dan mencari celah untuk masuk.

Tanda kedua adalah manipulasi emosional. Pelaku sering kali menghujani korban dengan pujian berlebihan, perhatian yang intens, dan berpura-pura memiliki kesamaan hobi atau masalah hidup. Taktik ini bertujuan untuk membangun kepercayaan dan menciptakan ilusi bahwa mereka adalah "belahan jiwa" atau satu-satunya orang yang mengerti perasaan korban.

Ketika kepercayaan sudah terbangun, pelaku akan mulai mengarahkan percakapan ke topik-topik yang menjurus ke arah seksual. Ini adalah tanda ketiga yang sangat krusial. Mereka mungkin memulainya dengan candaan jorok atau mengirimkan konten berbau pornografi untuk melihat respons korban dan menormalisasi pembicaraan seksual. Tahap selanjutnya adalah membujuk atau memaksa korban untuk mengirimkan foto atau video pribadi (sering disebut PAP) atau mengajak bertemu secara offline. Dalam tahap ini, pelaku kerap menggunakan iming-iming uang, pulsa, top-up game, atau hadiah barang mewah sebagai alat tukar.

Panduan Aman Berinteraksi di Media Sosial

Menciptakan ruang digital yang aman dimulai dari kesadaran diri sendiri dalam mengelola privasi. Pikirkanlah secara seksama sebelum memutuskan apakah akun media sosial Anda akan dibuat publik atau privat. Jika memilih akun publik, Anda harus menerapkan kehati-hatian ekstra, khususnya terkait jumlah dan jenis informasi pribadi yang ditampilkan. Hindari mencantumkan lokasi sekolah, alamat rumah, atau nomor telepon secara terbuka yang bisa menjadi petunjuk bagi predator online.

Selain itu, literasi digital mengenai fitur keamanan platform juga sangat penting. Setiap pengguna wajib mengenali mekanisme pelaporan kekerasan dan pelecehan di aplikasi yang mereka gunakan. Fitur blokir dan lapor (report) diciptakan untuk melindungi pengguna, jadi jangan ragu untuk menggunakannya jika merasa tidak nyaman dengan interaksi seseorang.

Langkah Pemulihan dan Dukungan

Jika Anda atau orang terdekat sudah terlanjur terjebak dalam situasi online grooming, hal pertama dan terpenting yang harus ditanamkan adalah jangan menyalahkan diri sendiri. Grooming adalah tindakan manipulasi psikologis yang canggih, dan korban berada dalam posisi yang dimanfaatkan. Rasa bersalah hanya akan membuat korban semakin terpuruk dan takut mencari bantuan.

Segeralah mencari dukungan dari lingkungan terdekat. Berbicaralah kepada teman, keluarga, atau orang dewasa yang dapat dipercaya. Jika situasi terasa terlalu berat atau sudah melibatkan ancaman penyebaran konten pribadi, hubungi organisasi atau lembaga layanan yang bekerja khusus untuk merespons Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO). Mereka memiliki protokol penanganan yang tepat untuk mendampingi korban secara hukum dan psikologis. Kita semua memiliki tanggung jawab kolektif untuk menciptakan ruang aman bagi perempuan dan anak, memastikan bahwa kemajuan teknologi tidak menjadi celah bagi predator untuk merusak masa depan generasi penerus.

Logo Radio
🔴 Radio Live