Ceritra
Ceritra Warga

Cara Mengatur Kembali Rutinitas Kerja Setelah Libur Lebaran

Refa - Tuesday, 24 March 2026 | 10:00 PM

Background
Cara Mengatur Kembali Rutinitas Kerja Setelah Libur Lebaran
Ilustrasi bekerja (pexels.com/Burst)

Ketika Opor Habis dan Laptop Menyala: Menghadapi Post-Lebaran Blues yang Gak Ada Obat

Bayangkan, seminggu yang lalu, hidup terasa begitu penuh, hangat, dan bebas dari notifikasi Slack atau WhatsApp grup kantor. Tapi kemudian, waktu seolah berjalan sepuluh kali lebih cepat. Tiba-tiba saja, kamu sudah duduk lagi di depan meja kerja, menatap layar laptop yang cahayanya terasa menyakitkan mata, sambil menyadari kalau saldo rekening sudah kembali ke setelan pabrik.

Selamat datang di fase Post-Lebaran Blues. Sebuah fenomena yang dialami hampir semua orang, tapi entah kenapa jarang dibahas secara serius di tongkrongan. Kita lebih sering mengeluh soal kolesterol naik atau berat badan yang bertambah, padahal ada sesuatu yang lebih berat lagi yang sedang terjadi di dalam kepala kita: transisi mental yang brutal dari mode liburan ke mode bertahan hidup di dunia nyata.

Apa Sih Sebenarnya Post-Lebaran Blues Itu?

Secara sederhana, Post-Lebaran Blues adalah kondisi psikologis di mana seseorang merasa sedih, cemas, atau kehilangan motivasi setelah perayaan Idulfitri usai. Ini bukan cuma soal malas kerja, lho. Ini adalah reaksi alami otak kita yang kaget karena kadar dopamin yang biasanya melonjak drastis selama kumpul keluarga dan makan enak, tiba-tiba anjlok saat harus kembali menghadapi rutinitas yang membosankan.

Jujurly, transisi ini emang seberat itu. Selama Lebaran, kita berada dalam "gelembung" kenyamanan. Kita merasa dicintai, diperhatikan, dan punya tujuan sosial yang jelas. Begitu gelembung itu pecah dan kita harus balik ke kosan atau apartemen sempit di Jakarta, rasa sepi itu datang tanpa permisi. Suara riuh keponakan yang tadinya bikin pusing, tiba-tiba jadi suara yang paling kita rindukan saat kita cuma ditemani suara kipas angin atau AC yang berderit.

Sindrom Saldo Ambyar dan Realita Dompet

Salah satu pemicu terbesar Post-Lebaran Blues di Indonesia jelas adalah masalah finansial. Mari kita bicara blak-blakan, Lebaran itu mahal. Antara uang transport mudik yang harganya gak masuk akal, bagi-bagi amplop ke saudara, sampai pengeluaran buat self-reward yang berlebihan, THR biasanya cuma numpang lewat.

Melihat saldo ATM yang tinggal beberapa digit setelah seminggu merasa jadi sultan di kampung halaman itu bisa memicu depresi ringan. Ada perasaan bersalah sekaligus cemas tentang bagaimana caranya bertahan hidup sampai tanggal gajian berikutnya. Fenomena ini bikin semangat kerja bukannya naik karena habis liburan, malah makin loyo karena kita merasa cuma kerja buat bayar cicilan atau sekadar menyambung napas setelah pesta usai.

Efek Social Hangover yang Bikin Mager

Bagi kaum introvert, Lebaran mungkin terasa melelahkan karena harus bersosialisasi secara maraton. Tapi uniknya, setelah semua itu selesai, mereka juga tetap kena blues ini. Ada semacam social hangover. Kita sudah terbiasa dengan stimulasi sosial yang tinggi selama seminggu, lalu mendadak harus kembali ke meja kerja yang sunyi. Perubahan ritme ini bikin otak kita merasa ada yang hilang.

Belum lagi urusan fisik. Mabuk perjalanan selama arus balik, pola makan yang berantakan (hampir semua makanan mengandung santan dan gula tinggi), dan kurang tidur karena asyik ngobrol sampai subuh, semuanya berkontribusi pada penurunan stamina. Ketika badan capek, mental pun jadi gampang kena serangan baper alias bawa perasaan.

Gimana Caranya Biar Gak Berlarut-larut?

Terus, harus gimana dong? Apa kita harus resign aja biar gak perlu kerja? Ya jangan, nanti malah makin blues karena gak ada pemasukan. Ada beberapa tips receh tapi ampuh yang bisa dicoba buat meringankan beban mental pasca-Lebaran ini:

  • Jangan Langsung Gaspol: Di hari pertama masuk kerja, jangan langsung pasang target tinggi. Izinkan dirimu buat sekadar pemanasan. Rapikan meja, cek email pelan-pelan, dan banyakin ngobrol ringan sama rekan kerja soal pengalaman mudik mereka.
  • Atur Ulang Jadwal Tidur: Ini krusial. Begadang pas Lebaran itu wajar, tapi begitu balik ke rutinitas, usahakan tidur lebih awal. Tidur yang cukup adalah obat paling murah buat memperbaiki mood yang berantakan.
  • Cari Kesibukan Kecil yang Menyenangkan: Kalau biasanya liburan berikutnya masih lama, coba buat rencana kecil di akhir pekan. Nonton film di bioskop atau sekadar jajan kopi favorit bisa jadi hadiah kecil buat dirimu yang sudah berjuang melewati transisi ini.
  • Berhenti Membandingkan Diri di Media Sosial: Kalau melihat postingan teman yang masih liburan di luar negeri bikin kamu makin sedih, mending tutup dulu Instagram-nya. Fokus sama apa yang ada di depan matamu sekarang.

Kesimpulan: Gak Apa-Apa Kalau Kamu Merasa "Meh"

Pada akhirnya, merasa sedih atau gak bersemangat setelah momen besar seperti Lebaran adalah hal yang sangat manusiawi. Kita bukan robot yang bisa langsung ganti mode dari holiday mode ke productivity mode dalam sekejap. Kita butuh waktu untuk beradaptasi, untuk berduka sedikit karena masa-masa indah sudah lewat, dan untuk mengumpulkan tenaga kembali.

Jadi, kalau hari ini kamu merasa kerjaanmu berat banget padahal cuma balas satu email, atau kamu mendadak pengen nangis karena kangen masakan ibu di rumah, ya gak apa-apa. Nikmati aja proses sedih-sedih tipis ini. Nanti juga bakal biasa lagi. Ingat, Lebaran tahun depan masih ada (meskipun masih lama banget), dan itulah yang biasanya jadi motivasi tersembunyi kita buat tetap semangat cari cuan. Semangat, para pejuang post-lebaran blues! Kita semua di kapal yang sama.

Logo Radio
🔴 Radio Live