Ceritra
Ceritra Warga

Bayar Zakat Pakai Sembako? Simak Penjelasan Hukum Islamnya

Refa - Wednesday, 18 March 2026 | 01:00 PM

Background
Bayar Zakat Pakai Sembako? Simak Penjelasan Hukum Islamnya
Ilustrasi zakat (arrayyan.travel/)

Bolehkah Menyalurkan Zakat dalam Bentuk Barang atau Sembako? Yuk, Simak Biar Nggak Salah Kaprah!

Ramadan tinggal menghitung hari menuju garis finish dan suasana di masjid-masjid mulai ramai. Bukan cuma soal suara tadarus yang sahut-menyahut, tapi juga antrean orang-orang yang bawa karung beras atau dompet tebal buat bayar zakat. Di momen kayak gini, sering muncul obrolan di grup WhatsApp keluarga atau tongkrongan, "Eh, kalau zakat fitrah atau zakat maal dikasih dalam bentuk paket sembako plus minyak goreng sama mi instan, boleh nggak sih? Kan lebih praktis buat yang nerima."

Pertanyaan ini receh tapi krusial. Masalahnya, urusan ibadah itu ada aturannya, nggak bisa asal yang penting niatnya baik. Apalagi di zaman serba hampers kayak sekarang, rasanya kok lebih estetik kalau ngasih paket sembako lengkap daripada cuma beras doang atau transferan saldo. Tapi, apakah secara syariat itu sah? Mari kita bedah pelan-pelan sambil ngopi santai.

Zakat Fitrah: Beras vs Mi Instan

Pertama, kita omongin soal Zakat Fitrah dulu. Ini adalah kewajiban setahun sekali yang sifatnya personal. Aturan dasarnya, zakat fitrah itu pakai makanan pokok (makanan yang mengenyangkan dan bisa disimpan lama). Di zaman Nabi Muhammad SAW, pilihannya ada gandum, kurma, atau kismis. Nah, berhubung kita tinggal di Indonesia yang kalau belum makan nasi namanya baru ngemil, maka mayoritas ulama di sini sepakat makanan pokoknya adalah beras.

Banyak ulama dari mazhab Syafi'i yang paling banyak dianut orang Indonesia, tegas bilang kalau zakat fitrah itu harus berupa makanan pokok mentah. Jadi, kalau kamu niatnya bayar zakat fitrah tapi yang dikasih malah satu dus mi instan atau satu liter minyak goreng, secara hitung-hitungan mazhab ini, itu nggak sah sebagai zakat fitrah. Kenapa? Karena mi instan bukan makanan pokok primer, melainkan makanan olahan. Minyak goreng? Apalagi, itu pelengkap.

Tapi, tunggu dulu. Ada mazhab Hanafi yang lebih fleksibel. Mereka membolehkan zakat fitrah dibayarkan dalam bentuk nilai atau harga dari makanan pokok tersebut alias uang tunai. Dari sini, sebagian orang beranggapan kalau boleh pakai uang, berarti boleh dong dibelikan barang lain yang bermanfaat? Nah, di sinilah letak perdebatannya. Secara umum, kalau konteksnya Zakat Fitrah, tetap disarankan kembali ke beras atau uang senilai beras sesuai ketetapan BAZNAS daerah masing-masing supaya aman dan ibadahnya tenang.

Bagaimana dengan Zakat Maal?

Beda cerita kalau kita ngomongin Zakat Maal atau zakat harta. Ini biasanya zakat dari penghasilan, tabungan, atau emas yang sudah mencapai haul dan nishab. Secara asal, zakat maal itu dikeluarkan dari jenis hartanya. Kalau punya emas, ya bayar pakai emas (atau uang senilai itu). Kalau zakat profesi, ya pakai uang.

Muncul pertanyaan, "Boleh nggak uang zakat maal saya beliin sembako terus dibagikan?"

Beberapa ulama kontemporer berpendapat bahwa mengubah zakat uang menjadi barang (sembako) itu diperbolehkan asal ada unsur maslahah atau manfaat yang jelas buat si penerima (mustahik). Misalnya, kamu tahu di suatu daerah pelosok lagi susah banget dapet akses bahan pangan, atau harganya lagi melonjak gila-gilaan. Memberi mereka paket sembako lengkap mungkin jauh lebih menolong daripada ngasih duit yang ujung-ujungnya habis buat beli pulsa atau rokok.

Namun, ada catatan penting bahwa kamu nggak boleh memotong nilai zakat itu buat biaya operasional atau keuntungan pribadi. Kalau zakatmu harusnya 1 juta rupiah, ya paket sembakonya harus bernilai total 1 juta rupiah di pasar. Jangan sampai karena beli grosiran terus harganya jadi 800 ribu, tapi kamu klaim sudah zakat 1 juta. Itu namanya kurang takaran, Bos!

Mana yang Lebih Dibutuhkan Si Penerima?

Kadang kita sebagai pemberi sering merasa paling tahu apa yang orang butuhkan. Kita mikir, "Ah, kasih sembako aja biar mereka bisa makan enak pas Lebaran." Padahal, realitanya mungkin beda. Si penerima zakat mungkin lebih butuh uang buat bayar kontrakan yang nunggak, bayar SPP anak, atau beli obat. Kalau kita kasih sembako terus, bisa-bisa mereka malah menjual kembali sembako itu dengan harga murah demi dapet uang tunai. Kan malah kasihan, mereka jadi rugi dua kali.

Itulah kenapa banyak lembaga zakat profesional lebih menyarankan zakat diberikan dalam bentuk uang tunai (untuk zakat maal) atau beras (untuk zakat fitrah). Uang memberikan kedaulatan bagi si penerima untuk menentukan sendiri apa yang paling mendesak buat hidup mereka. Menghargai martabat mereka dengan memberi pilihan itu juga bagian dari adab berzakat, lho.

Jangan Sampai "Gaya-gayaan" Ngalahin Syariat

Jujur saja, sekarang banyak orang yang pengen terlihat "wah" saat berbagi. Bikin paket sembako lengkap dengan stiker nama atau foto keluarga, terus dibagikan sambil bikin konten. Sebenarnya nggak masalah selama ikhlas, tapi jangan sampai demi konten sembako, kita malah melanggar aturan dasar zakat yang sudah ditetapkan agama.

Kalau kamu memang punya rezeki lebih dan pengen ngasih sembako plus minyak goreng dan sirup, jadikan itu sebagai sedekah tambahan atau infaq saja. Zakat fitrahnya tetap bayar pakai beras atau uang sesuai aturan lewat amil masjid, lalu paket sembakonya dibagikan sebagai hadiah Lebaran. Dengan begitu, kewajiban zakatmu gugur secara sah, dan pahala sedekahmu makin melimpah. Win-win solution, kan?

Kesimpulan

Jadi, boleh nggak zakat selain beras? Untuk zakat fitrah, mayoritas ulama tetap mewajibkan makanan pokok (beras) atau uang senilai itu. Memberi sembako lain seperti mi instan atau minyak sebagai pengganti beras zakat fitrah sangat berisiko membuat zakatmu nggak sah secara fikih Syafi'i.

Untuk zakat maal, ada ruang diskusi yang lebih lebar, tapi tetap harus mengutamakan kebutuhan mustahik di atas keinginan kita untuk terlihat dermawan. Intinya, zakat itu bukan cuma soal menggugurkan kewajiban atau bersih-bersih harta, tapi soal memastikan saudara-saudara kita yang kurang beruntung bisa tersenyum tanpa bingung besok mau makan apa atau mau bayar tagihan pakai apa.

Yuk, jadi muzakki yang cerdas! Jangan sampai niat baik kita malah jadi ribet karena nggak mau belajar aturannya. Selamat berzakat, semoga harta kita makin berkah dan hati makin tenang!

Logo Radio
🔴 Radio Live