Ceritra
Ceritra Warga

Awas Terlewat! Panduan Bayar Zakat Penghasilan di Akhir Ramadan

Refa - Wednesday, 18 March 2026 | 09:00 AM

Background
Awas Terlewat! Panduan Bayar Zakat Penghasilan di Akhir Ramadan
Ilustrasi zakat (Freepik/Freepik)

Belum Afdol Lebaran Kalau Belum Beresin Zakat: Cara Hitung Zakat Penghasilan Biar Gak Bingung

Ramadan itu ibarat lari maraton yang garis finish-nya adalah hari raya Idulfitri. Di kilometer terakhir ini, biasanya fokus kita sudah terpecah belah. Ada yang sibuk memantau diskon tiket kereta, ada yang lagi pusing milih warna baju lebaran biar seragam sama keluarga besar, sampai ada yang sudah mulai sibuk riset resep rendang paling nendang. Tapi, di tengah hiruk-pikuk persiapan pesta kemenangan itu, ada satu kewajiban yang sering banget masuk kategori last minute, bayar zakat.

Kalau bicara soal zakat di akhir Ramadan, kebanyakan dari kita langsung kepikiran Zakat Fitrah yang bentuknya beras 2,5 kilogram itu. Padahal, buat kita-kita yang sudah masuk kategori pejuang rupiah alias karyawan atau profesional dengan gaji yang lumayan, ada satu lagi yang nggak boleh kelewat, namanya Zakat Penghasilan. Banyak yang masih menganggap zakat ini opsional atau nanti-nanti saja nunggu kaya banget. Padahal, secara hitungan agama, kalau sudah mencapai batas tertentu, mengeluarkan sebagian kecil harta itu hukumnya wajib, lho.

Biar nggak cuma sekadar sedekah seikhlasnya, mari kita bahas gimana cara hitung zakat penghasilan yang benar biar hati tenang dan lebaran jadi lebih afdol. Tenang, hitungannya nggak bakal serumit soal matematika waktu kita SMA dulu, kok.

Apa Sih Zakat Penghasilan Itu dan Emang Saya Wajib?

Gampangnya, zakat penghasilan atau zakat profesi adalah zakat yang dikeluarkan dari setiap pendapatan rutin yang kita terima. Mau itu gaji bulanan, bonus, honor freelancer, sampai uang lemburan yang bikin kantung mata menghitam itu, semuanya dihitung sebagai objek zakat. Logikanya sederhana, di dalam harta yang kita peras keringatnya itu, ada hak orang lain yang dititipkan Tuhan lewat rekening kita.

Pertanyaan sejuta umat biasanya, "Gaji saya kan cuma numpang lewat buat bayar cicilan dan beli kopi kekinian, emang wajib zakat juga?" Nah, di sinilah kita harus kenal sama istilah Nisab. Nisab itu ibarat paywall atau batas minimum. Kalau penghasilan kamu dalam setahun sudah setara dengan harga 85 gram emas, maka kamu sudah resmi jadi Muzakki alias orang yang wajib berzakat.

Nilai nisab zakat penghasilan dan jasa tahun 2026 senilai 85 (delapan puluh lima) gram emas atau setara dengan Rp91.681.728,00/tahun (sembilan puluh satu juta enam ratus delapan puluh satu ribu tujuh ratus dua puluh delapan rupiah per tahun), atau Rp7.640.144,00/bulan (tujuh juta enam ratus empat puluh ribu seratus empat puluh empat rupiah per bulan) jika ditunaikan setiap bulan.

Nilai nisab zakat penghasilan dan jasa tahun 2026 senilai 85 (delapan puluh lima) gram emas atau setara dengan Rp91.681.728,00/tahun atau Rp7.640.144,00/bulan (tujuh juta enam ratus empat puluh ribu seratus empat puluh empat rupiah per bulan) jika ditunaikan setiap bulan.

Dua Aliran Cara Menghitung: Gross vs Net

Dalam dunia per-zakat-an, ada dua mazhab besar soal cara menghitungnya. Kamu bisa pilih mana yang paling sesuai dengan kondisi finansial atau kemantapan hati kamu. Karena pada akhirnya, zakat itu soal keberkahan, bukan soal irit-iritan.

1. Menghitung dari Pendapatan Bruto (Gross)

Cara ini yang paling simpel dan banyak disarankan oleh para ulama masa kini agar lebih hati-hati (ikhtiyat). Caranya? Langsung saja potong 2,5% dari total gaji yang kamu terima sebelum dipotong bayar kosan, cicilan motor, atau jajan boba. Misal: Gaji kamu Rp10.000.000. Zakatnya: 10.000.000 x 2,5% = Rp250.000. Cuma seharga sekali nongkrong di kafe cantik, kan? Tapi efeknya ke jiwa dan harta jauh lebih dahsyat daripada sekadar latte art.

2. Menghitung dari Pendapatan Bersih (Net)

Kalau kamu merasa kebutuhan pokok kamu sangat tinggi (misal menanggung banyak anggota keluarga), ada pendapat yang memperbolehkan zakat dihitung dari sisa pendapatan setelah dikurangi kebutuhan pokok yang mendesak. Misal: Gaji Rp10.000.000, kebutuhan pokok buat makan, transportasi, dan kontrakan adalah Rp6.000.000. Maka sisanya Rp4.000.000 itulah yang dikali 2,5%, yaitu Rp100.000. Namun, perlu diingat, kebutuhan pokok di sini bukan termasuk biaya langganan streaming film atau beli skin game terbaru ya!

Kenapa Harus Dibayar Sebelum Ramadan Berakhir?

Membayar zakat penghasilan sebenarnya bisa dilakukan setiap bulan saat gajian (zakat bulanan) atau dikumpulkan setahun sekali (zakat tahunan). Namun, momen Ramadan sering dijadikan momentum bebenah diri. Membereskan kewajiban finansial spiritual di akhir Ramadan itu rasanya seperti melakukan deep cleaning buat rumah. Pas Idulfitri nanti, kita bener-bener merasa bersih dari dalam maupun luar.

Selain itu, membayar zakat sebelum Ramadan berakhir membantu lembaga amil zakat untuk menyalurkan dana tersebut lebih cepat kepada mereka yang membutuhkan. Bayangkan, uang yang kamu keluarkan bisa jadi santapan sahur terakhir atau baju baru buat anak yatim yang belum pernah merasakan indahnya lebaran. Rasanya jauh lebih bermakna daripada sekadar angka di mutasi rekening.

Teknologi Adalah Koentji, Gak Ada Alasan Ribet

Zaman sekarang, alasan "malas ke masjid" atau "nggak tau mustahik (penerima zakat) di mana" itu sudah nggak relevan lagi. Kita hidup di era di mana pesan martabak saja bisa lewat aplikasi, masa bayar zakat nggak bisa? Lembaga resmi seperti BAZNAS atau lembaga amil zakat swasta terpercaya lainnya sudah punya fitur pembayaran digital yang super sat-set.

Kamu tinggal buka aplikasi, masukkan nominal, pilih metode pembayaran (bisa pakai QRIS atau transfer bank), klik bayar, dan... boom! Kewajiban selesai. Kamu bakal dapat bukti setor zakat yang bisa digunakan sebagai pengurang pajak penghasilan tahunan. Jadi, zakat itu nggak cuma bikin tenang di akhirat, tapi juga bikin "senang" di laporan pajak duniawi.

Penutup: Sedikit Bagi Kita, Banyak Bagi Mereka

Seringkali kita merasa sayang mengeluarkan 2,5%. Padahal kalau dipikir-pikir, kita seringkali buang-buang uang buat hal yang jauh lebih besar tapi nggak ada nilai ibadahnya. Zakat itu bukan soal mengurangi harta, tapi soal menyucikan apa yang kita punya. Harta yang tidak dizakati itu ibarat air yang mengalir tapi nggak pernah dibersihkan, lama-lama jadi keruh dan bawa penyakit.

Jadi, sebelum kamu benar-benar tenggelam dalam euforia takbiran dan sibuk membalas pesan WhatsApp "Mohon Maaf Lahir Batin", sempatkan waktu lima menit saja. Cek saldo, hitung 2,5%-nya, dan transfer. Mari kita akhiri Ramadan ini dengan keren dengan nggak cuma keren bajunya, tapi juga bersih hartanya. Karena percayalah, nggak ada yang lebih melegakan daripada merayakan lebaran tanpa punya utang sama Tuhan dan sesama.

Selamat berzakat dan selamat menjemput hari kemenangan!

Logo Radio
🔴 Radio Live