Ceritra
Ceritra Cinta

9 Tanda Pasangan Abusive dan Cara Keluar dari Jeratan Hubungan Beracun

Nisrina - Wednesday, 11 February 2026 | 12:45 PM

Background
9 Tanda Pasangan Abusive dan Cara Keluar dari Jeratan Hubungan Beracun
Ilustrasi (Shutterstock/)

Cinta seharusnya membuat kita merasa aman dihargai dan bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Namun sayangnya tidak semua hubungan berjalan seindah drama romantis di televisi. Ada kalanya hubungan asmara justru berubah menjadi penjara yang menakutkan dan mengekang kebebasan seseorang.

Sering kali kita tidak menyadari bahwa kita sedang berada dalam hubungan yang tidak sehat atau toxic relationship sampai semuanya terlambat. Kita sering memaklumi perilaku pasangan dengan dalih "dia begitu karena dia sayang" atau "dia cuma cemburu sedikit". Padahal batasan antara cinta dan obsesi sering kali sangat tipis.

Kekerasan dalam hubungan atau Intimate Partner Violence tidak melulu soal pukulan atau memar fisik. Kekerasan ini bisa berwujud serangan psikologis manipulasi ekonomi hingga pelecehan seksual. Perilaku ini dilakukan oleh pasangan atau mantan pasangan dengan tujuan utama untuk mengontrol dan mendominasi.

Artikel ini akan membedah secara tuntas tanda tanda bahaya atau red flags yang menunjukkan bahwa pasanganmu adalah sosok yang abusive. Kita juga akan membahas langkah konkret yang bisa diambil jika kamu atau sahabatmu menjadi korban. Mengenali tanda ini sedini mungkin adalah langkah pertama untuk menyelamatkan masa depanmu.

Memahami Wajah Kekerasan yang Sebenarnya

Banyak orang berpikir bahwa mereka baik baik saja selama pasangan mereka tidak memukul. Pemikiran ini sangat berbahaya. Kekerasan fisik sering kali merupakan puncak gunung es dari serangkaian kekerasan mental yang sudah terjadi jauh sebelumnya.

Kekerasan oleh pasangan intim mencakup spektrum yang luas. Mulai dari kekerasan verbal seperti hinaan kekerasan psikologis seperti ancaman kekerasan seksual pemaksaan aktivitas seksual hingga kekerasan ekonomi seperti pembatasan akses uang. Di era digital ini kekerasan pun berevolusi menjadi ranah siber yang tak kalah mengerikan.

Jika kamu merasa takut untuk berbicara jujur kepada pasanganmu atau merasa terus menerus diawasi maka alarm bahaya di kepalamu harusnya sudah berbunyi. Berikut adalah sembilan tanda nyata yang tidak boleh kamu abaikan sedikit pun.

1. Isolasi Sosial dan Pengawasan Ketat

Tanda pertama dan yang paling umum dari pasangan abusive adalah usaha mereka untuk memutus hubunganmu dengan dunia luar. Mereka tidak suka melihatmu menghabiskan waktu dengan keluarga atau teman temanmu.

Awalnya mungkin terlihat manis. Mereka bilang ingin menghabiskan waktu "hanya berdua saja" denganmu. Namun lama kelamaan ini berubah menjadi larangan. Mereka akan memonitor semua aktivitasmu bertanya secara detail ke mana kamu pergi dan dengan siapa. Tujuannya adalah membuatmu bergantung sepenuhnya pada mereka sehingga kamu kehilangan sistem pendukung atau support system yang bisa menyadarkanmu bahwa hubungan ini tidak sehat.

2. Tuntutan Akses Privasi Digital

Di era media sosial privasi sering kali menjadi sasaran empuk. Pasangan yang kasar sering kali menuntut transparansi total yang tidak masuk akal. Mereka mengharuskan kamu membalas pesan darinya segera atau dalam hitungan detik. Jika terlambat sedikit saja mereka akan marah besar atau menuduhmu berselingkuh.

Lebih parah lagi mereka menuntutmu memberikan kata sandi atau password ke semua akun media sosial email hingga kunci ponselmu. Ingatlah bahwa berbagi password bukanlah bukti cinta atau kepercayaan melainkan pelanggaran privasi. Dalam hubungan yang sehat setiap individu berhak memiliki ruang pribadinya masing masing.

3. Penghinaan dan Perusakan Barang Berharga

Pernahkah pasanganmu merendahkanmu di depan umum. Mungkin mereka membalutnya dengan kata "bercanda" tapi rasanya sangat menyakitkan. Usaha untuk merendahkanmu di depan orang lain adalah taktik untuk menghancurkan harga dirimu.

Selain serangan verbal pelaku kekerasan juga sering melampiaskan amarah pada benda mati. Mereka mungkin membanting pintu melempar barang atau secara spesifik menghancurkan barang yang sangat berharga bagimu seperti hadiah dari orang tua atau koleksi kesayanganmu. Ini adalah bentuk intimidasi fisik untuk menunjukkan apa yang bisa mereka lakukan padamu jika kamu melawan.

4. Ledakan Emosi yang Tidak Terduga

Hidup dengan pasangan abusive rasanya seperti berjalan di atas kulit telur. Kamu harus selalu berhati hati agar tidak "membangunkan macan tidur". Pasangan yang kasar cenderung memiliki temperamen yang meledak ledak dan tidak terduga atau mood swing yang ekstrem.

Satu menit mereka bisa sangat manis dan penuh cinta namun menit berikutnya mereka bisa berteriak histeris hanya karena masalah sepele. Ketidakstabilan emosi ini adalah alat manipulasi agar kamu selalu merasa bersalah dan berusaha "memperbaiki" suasana hati mereka.

5. Ancaman Fisik dan Penggunaan Senjata

Ini adalah tanda yang paling jelas dan berbahaya. Jika pasanganmu sudah mulai melakukan kekerasan fisik seperti mendorong menampar mencekik atau memukul maka nyawamu sedang terancam. Tidak ada alasan apa pun yang membenarkan kekerasan fisik.

Dalam tahap yang lebih ekstrem mereka mungkin mengancammu dengan senjata tajam atau benda tumpul untuk menakut nakuti. Jika ini terjadi segera cari bantuan profesional. Jangan menunggu sampai serangan berikutnya terjadi karena statistik menunjukkan bahwa kekerasan fisik cenderung meningkat eskalasinya seiring waktu.

6. Manipulasi Hukum dan Ancaman Lapor Balik

Pelaku kekerasan sering kali pandai memutarbalikkan fakta atau gaslighting. Mereka tahu bahwa korban sering kali takut atau malu untuk melapor. Oleh karena itu mereka sering mengancam akan melaporkanmu ke pihak berwenang jika kamu berani buka suara.

Mereka mungkin akan bilang bahwa tidak ada yang akan mempercayaimu atau mereka akan menuduhmu yang melakukan kekerasan. Taktik ini digunakan untuk membungkam korban dan membuat korban merasa tidak berdaya di mata hukum.

7. Ancaman Revenge Porn atau Penyebaran Konten Intim

Salah satu bentuk kekerasan paling keji di era digital adalah Kekerasan Berbasis Gender Online atau KBGO. Pasangan yang abusive sering kali menggunakan foto atau video intim yang diambil (baik dengan persetujuan atau tanpa persetujuan) sebagai senjata.

Mereka mengancam akan menyebarkan konten tersebut ke media sosial teman kantor atau keluargamu untuk mempermalukan memeras atau memaksa kamu tetap dalam hubungan tersebut. Ini adalah tindak pidana serius dan pelanggaran hak asasi manusia yang berat.

8. Penggunaan Teknologi untuk Menguntit

Teknologi rumah pintar atau smart home dan aplikasi pelacak kini disalahgunakan untuk mengontrol pasangan. Pelaku bisa saja memasang spyware di ponselmu tanpa sepengetahuanmu untuk membaca pesan dan melihat log panggilan.

Mereka juga mungkin menggunakan alat pelacak lokasi (GPS tracker) di mobil atau tasmu. Bahkan teknologi seperti kamera pengawas rumah atau kunci pintu pintar yang bisa diakses jarak jauh digunakan untuk memantau gerak gerikmu atau mengurungmu. Ini adalah bentuk penguntitan modern atau cyberstalking.

9. Peretasan dan Impersonasi Digital

Tanda terakhir adalah sabotase digital. Pasanganmu mungkin meretas akun media sosialmu untuk menghapus teman temanmu atau memposting sesuatu yang memalukan.

Mereka bahkan bisa membuat akun palsu menggunakan identitasmu untuk melecehkan orang lain atau merusak reputasimu. Tujuannya adalah untuk mengisolasi kamu lebih jauh lagi dari lingkungan sosial dan menghancurkan kredibilitasmu di dunia maya.

Langkah Penyelamatan Diri Bagi Korban

Jika kamu menyadari bahwa kamu sedang mengalami hal hal di atas ketahuilah bahwa ini bukan salahmu. Kamu tidak sendirian dan bantuan selalu tersedia. Berikut adalah langkah taktis yang bisa kamu lakukan.

Pertama beritahu orang yang benar benar kamu percaya. Bisa teman dekat keluarga atau tetangga. Jangan memendamnya sendirian karena isolasi adalah senjata utama pelaku.

Kedua coba identifikasi pola kekerasan. Kapan biasanya dia marah. Apa pemicunya. Dengan memahami pola ini kamu bisa memprediksi kapan eskalasi kekerasan akan terjadi dan bisa menghindar sebelum situasi memanas.

Ketiga buatlah strategi melarikan diri atau exit strategy. Siapkan tas darurat yang berisi dokumen penting uang tunai dan baju ganti yang disimpan di tempat aman atau di rumah teman.

Keempat pastikan ponsel selalu aktif. Usahakan baterai ponsel selalu terisi penuh agar kamu dapat menelpon orang kepercayaan atau hotline layanan darurat kapan saja saat bahaya mengancam.

Cara Menjadi Teman yang Suportif

Jika kamu curiga temanmu menjadi korban peranmu sangat vital. Sering kali korban sulit keluar karena takut atau dimanipulasi.

Usahakan tetap terhubung dengan mereka meskipun pasangannya berusaha memisahkan kalian. Buatlah kode rahasia yang hanya diketahui kamu dan temanmu. Kode ini bisa berupa emoji tertentu atau kalimat biasa yang sebenarnya berarti "Aku dalam bahaya tolong panggil bantuan".

Jadilah pendengar yang baik tanpa menghakimi. Percayai cerita mereka. Korban sering kali ragu pada ingatan mereka sendiri karena sering dimanipulasi atau di-gaslight. Validasi perasaan mereka sangatlah penting.

Bantu mereka membuat rencana keamanan atau safety plan. Namun ingat hargai hak mereka untuk mengambil keputusan. Jangan memaksa mereka melapor atau putus jika mereka belum siap karena hal itu bisa membahayakan nyawa mereka. Tawarkan bantuan praktis seperti tumpangan transportasi tempat menginap sementara atau sekadar menemani ke psikolog.

Mengenali tanda tanda kekerasan dalam hubungan adalah kunci untuk memutus rantai abusive. Cinta tidak menyakiti. Cinta tidak mengekang. Kamu berhak atas hubungan yang aman sehat dan membebaskan.

Logo Radio
🔴 Radio Live