Bahaya Silent Treatment Siksaan Bisu yang Merusak Hubungan Secara Perlahan
Nisrina - Tuesday, 10 February 2026 | 09:45 AM


Dalam sebuah pertengkaran sering kali kita mendengar teriakan atau perdebatan sengit. Meskipun menyakitkan setidaknya ada komunikasi yang terjadi di sana. Namun ada satu hal yang jauh lebih menyakitkan dan membingungkan daripada teriakan kemarahan yaitu kebisuan total.
Bayangkan pasangan Anda tiba tiba berhenti berbicara kepada Anda. Pesan singkat tidak dibalas telepon tidak diangkat dan saat bertatap muka ia bersikap seolah olah Anda tidak ada. Tatapannya dingin dan menembus tubuh Anda seakan Anda adalah hantu. Fenomena ini dikenal dengan istilah Silent Treatment atau perlakuan diam.
Banyak orang menganggap mendiamkan pasangan adalah cara yang wajar untuk menghindari konflik atau "memberi pelajaran". Namun para ahli psikologi sepakat bahwa ini adalah perilaku yang sangat berbahaya dan toxic. Ini bukanlah cara dewasa menyelesaikan masalah melainkan bentuk manipulasi emosional dan penyalahgunaan kekuasaan dalam hubungan. Artikel ini akan mengupas tuntas mengapa kebisuan bisa menjadi racun yang membunuh cinta dan bagaimana cara menghadapinya dengan bijak.
Apa Itu Silent Treatment Sebenarnya
Silent Treatment adalah penolakan untuk berkomunikasi secara verbal maupun non verbal dengan seseorang yang ingin berkomunikasi dengan kita. Pelaku sengaja menarik diri menutup akses komunikasi dan mengabaikan keberadaan pasangannya sebagai bentuk hukuman atau kontrol.
Penting untuk membedakan antara silent treatment dengan "butuh waktu sendiri" atau taking space. Mengambil jeda saat emosi sedang memuncak adalah hal yang sehat. Bedanya orang yang butuh jeda akan berkata "Aku sedang marah dan butuh waktu sebentar untuk menenangkan diri nanti kita bicara lagi". Ada komunikasi tentang kebutuhan dan kepastian kapan komunikasi akan berlanjut.
Sedangkan pada silent treatment tidak ada penjelasan. Tujuannya bukan untuk menenangkan diri melainkan untuk membuat pasangan merasa bersalah bingung dan memohon mohon pengampunan. Kebisuan ini digunakan sebagai senjata untuk menekan lawan bicara agar tunduk pada keinginan pelaku.
Dampak Psikologis Rasa Sakit yang Nyata
Penelitian neurosains menunjukkan fakta yang mengejutkan. Bagian otak yang aktif saat seseorang mengalami pengucilan sosial atau ostracism (seperti saat didiamkan) adalah bagian yang sama dengan yang memproses rasa sakit fisik yaitu anterior cingulate cortex.
Artinya bagi otak manusia didiamkan oleh orang yang dicintai rasanya sama sakitnya dengan dipukul atau terluka fisik. Silent treatment memicu respons stres yang hebat. Korban akan merasa cemas depresi dan harga dirinya hancur perlahan. Mereka mulai meragukan nilai diri mereka sendiri dan merasa tidak berharga.
Perasaan diabaikan ini merusak kebutuhan dasar manusia akan rasa memiliki atau sense of belonging. Ketika pasangan yang seharusnya menjadi tempat berlindung justru menjadi sumber penolakan dampaknya bisa menyebabkan trauma emosional jangka panjang yang sulit disembuhkan.
Mengapa Seseorang Melakukan Silent Treatment
Ada beberapa alasan psikologis mengapa seseorang memilih untuk menghukum pasangannya dengan diam.
Pertama adalah ketidakmampuan berkomunikasi atau emotional immaturity. Pelaku mungkin tidak memiliki kosakata emosional untuk mengungkapkan kemarahannya secara sehat. Mereka tidak tahu cara berargumen yang konstruktif sehingga mereka memilih "jalan pintas" dengan menutup diri.
Kedua adalah keinginan untuk mengontrol. Ini adalah ciri ciri narsistik yang umum. Dengan mendiamkan pasangan pelaku memegang kendali penuh atas situasi. Mereka yang menentukan kapan komunikasi dimulai dan kapan diakhiri. Mereka menikmati melihat pasangannya bingung dan berusaha keras untuk mendapatkan kembali perhatian mereka.
Ketiga adalah penghindaran konflik atau conflict avoidance. Beberapa orang sangat takut dengan konfrontasi. Mereka berpikir bahwa dengan diam masalah akan hilang dengan sendirinya. Padahal diam justru memperbesar masalah karena tidak ada solusi yang dicapai.
Siklus Beracun Tuntut dan Menarik Diri
Dalam psikologi hubungan dikenal pola demand withdraw atau tuntut tarik diri. Biasanya satu pihak (korban) akan menuntut penjelasan atau penyelesaian masalah sementara pihak lain (pelaku) akan menarik diri dan diam.
Semakin pelaku diam semakin korban panik dan menuntut jawaban. Semakin korban menuntut semakin pelaku merasa terdesak dan menutup diri lebih rapat. Siklus lingkaran setan ini sangat merusak.
Lama kelamaan korban akan mengalami kelelahan emosional. Mereka akan berhenti berusaha berkomunikasi bukan karena masalah selesai tetapi karena sudah putus asa. Di titik inilah hubungan sebenarnya sudah berada di ambang kehancuran. Kepercayaan dan keintiman emosional telah terkikis habis oleh tembok kebisuan.
Tanda Tanda Hubungan Anda Sudah Tidak Sehat
Waspadalah jika pola ini terjadi berulang kali. Silent treatment yang kronis adalah bentuk kekerasan emosional atau emotional abuse. Berikut adalah tanda tandanya.
Anda merasa takut untuk berbicara jujur karena takut didiamkan lagi. Anda selalu merasa bersalah padahal tidak tahu letak kesalahan Anda. Anda merasa seperti berjalan di atas kulit telur atau walking on eggshells di sekitar pasangan. Pasangan hanya mau berbicara jika Anda sudah meminta maaf dan memohon mohon meskipun Anda tidak salah.
Jika tanda tanda ini muncul Anda sedang berada dalam hubungan yang manipulatif. Ingatlah bahwa dalam hubungan yang sehat konflik diselesaikan dengan diskusi bukan dengan isolasi.
Cara Menghadapi Pasangan yang Suka Mendiamkan
Menghadapi pasangan yang melakukan silent treatment membutuhkan ketenangan dan batasan yang tegas. Jangan terpancing emosi.
Jangan memohon atau mengejar. Semakin Anda mengejar semakin mereka merasa berkuasa. Berikan mereka ruang tetapi sampaikan dengan tegas. Katakan "Aku lihat kamu sedang tidak mau bicara. Aku akan memberi kamu waktu tapi aku tidak bisa menyelesaikan masalah dengan cara didiamkan seperti ini. Kabari aku kalau kamu sudah siap bicara dewasa".
Fokuslah pada diri sendiri. Jangan biarkan kebisuan mereka merusak hari Anda. Lakukan aktivitas yang membuat Anda bahagia. Tunjukkan bahwa kebahagiaan Anda tidak bergantung pada suasana hati mereka. Hal ini akan mematahkan kendali manipulasi mereka.
Ajak bicara saat suasana tenang. Jangan membahasnya saat sedang bertengkar. Saat hubungan sedang baik katakan bahwa silent treatment menyakiti Anda dan tidak efektif. Tawarkan solusi alternatif seperti waktu jeda yang disepakati bersama.
Kapan Harus Pergi Meninggalkan Hubungan
Jika pasangan Anda terus menerus menggunakan kebisuan sebagai senjata meskipun Anda sudah mencoba berkomunikasi mungkin sudah saatnya mempertimbangkan kelanjutan hubungan tersebut.
Kekerasan emosional sering kali meningkat seiring waktu. Seseorang yang tidak mau belajar cara berkomunikasi yang sehat dan terus menerus menyakiti Anda dengan sengaja bukanlah pasangan yang tepat untuk masa depan.
Kesehatan mental Anda adalah prioritas utama. Anda berhak berada dalam hubungan di mana suara Anda didengar perasaan Anda divalidasi dan kehadiran Anda dihargai. Jangan biarkan siapa pun membuat Anda merasa tidak terlihat dan tidak berharga melalui kebisuan mereka.
Next News

Mengenal Bahaya Gaslighting Manipulasi Halus yang Membuat Korban Merasa Gila
15 hours ago

6 Cara Ampuh Move On dari Cinta Tak Berbalas Agar Hati Kembali Bahagia
a day ago

Cara Mendukung Pasangan yang Sedang Burnout
a day ago

Mengapa Cinta Saja Tidak Cukup untuk Menikah di Era Modern
3 days ago

Alasan Pacaran Lama Tidak Menjamin Siap ke Pelaminan
3 days ago

Cara Menghadapi Pasangan yang Insecure pada Teman Lawan Jenis
5 days ago

Teman atau Lebih? Inilah Cara Menetapkan Batasan Agar Hubungan Bebas Drama
5 days ago

Canggung Setelah Nembak? Inilah Cara Menjaga Batasan Agar Hubungan Tetap Baik
5 days ago

Ingin Hubungan Awet? Lakukan 5 Ritual Ini untuk Memperkuat Ikatan Batin
6 days ago

Dia Acts of Service, Kamu Physical Touch? Lakukan 5 Hal Ini Agar Hubungan Tetap Harmonis
6 days ago





