Ceritra
Ceritra Cinta

Mengenal Bahaya Gaslighting Manipulasi Halus yang Membuat Korban Merasa Gila

Nisrina - Tuesday, 10 February 2026 | 09:15 AM

Background
Mengenal Bahaya Gaslighting Manipulasi Halus yang Membuat Korban Merasa Gila
Ilustrasi kata-kata gaslighting yang sering diucapkan oleh pelaku. (Instagram/@crazyheadcomics)

Dalam sebuah hubungan yang sehat kepercayaan dan komunikasi adalah dua pilar utama. Namun pernahkah Anda berada dalam situasi di mana Anda merasa yakin telah mendengar atau melihat sesuatu tetapi pasangan Anda dengan sangat meyakinkan menyangkalnya. Ia berkata bahwa itu tidak pernah terjadi atau menuduh Anda hanya berimajinasi saja.

Awalnya Anda mungkin hanya bingung. Namun jika hal ini terjadi berulang kali Anda mulai meragukan ingatan Anda sendiri. Anda mulai bertanya tanya apakah ada yang salah dengan otak Anda. Anda sering meminta maaf untuk hal yang tidak Anda lakukan dan merasa bahwa Anda selalu menjadi biang kerok dalam setiap masalah. Jika skenario ini terasa familiar waspadalah. Anda mungkin sedang menjadi korban dari manipulasi psikologis jahat yang disebut Gaslighting.

Istilah ini belakangan sering disebut di media sosial namun banyak yang belum memahami kedalaman bahayanya. Gaslighting bukan sekadar berbohong biasa. Ini adalah sebuah teknik pencucian otak perlahan yang bertujuan untuk menghancurkan persepsi realitas korban. Artikel ini akan mengupas tuntas taktik manipulatif ini tanda tanda peringatan yang harus diwaspadai dan langkah konkret untuk menyelamatkan kewarasan Anda dari jeratan hubungan beracun ini.

Asal Usul Istilah dan Definisi Psikologis

Istilah Gaslighting diambil dari sebuah drama teater tahun 1938 dan film adaptasi tahun 1944 berjudul "Gas Light". Dalam cerita tersebut seorang suami secara diam diam meredupkan lampu gas di rumah mereka setiap malam. Ketika istrinya menyadari perubahan cahaya tersebut dan bertanya sang suami dengan tegas menyangkalnya dan mengatakan bahwa itu hanya halusinasi sang istri. Tujuannya adalah untuk membuat istrinya percaya bahwa ia gila sehingga sang suami bisa menguasai hartanya.

Dalam konteks psikologi modern gaslighting didefinisikan sebagai bentuk pelecehan emosional di mana pelaku memanipulasi situasi sedemikian rupa untuk memaksa korban mempertanyakan ingatan persepsi dan kewarasan mereka sendiri.

Ini adalah bentuk kekerasan yang sangat berbahaya karena tidak meninggalkan memar fisik. Lukanya ada di dalam pikiran. Korban gaslighting sering kali kehilangan rasa percaya diri sepenuhnya dan menjadi sangat bergantung pada pelaku untuk menentukan mana yang nyata dan mana yang tidak.

Taktik Halus yang Sering Tidak Disadari

Pelaku gaslighting atau gaslighter biasanya adalah orang yang sangat pandai memutarbalikan fakta. Mereka tidak melakukan kekerasan secara terang terangan melainkan menggunakan serangkaian taktik halus yang membingungkan.

Taktik pertama adalah penyangkalan total. Meskipun Anda memiliki bukti kuat pelaku akan tetap menyangkal dengan wajah datar. Mereka akan berkata "Aku tidak pernah mengatakan itu" atau "Kamu pasti salah dengar". Kebohongan yang diucapkan dengan penuh keyakinan ini membuat korban goyah.

Taktik kedua adalah meremehkan perasaan atau trivializing. Ketika Anda mencoba mengungkapkan rasa sakit hati atau kecewa pelaku akan menuduh Anda "terlalu sensitif" atau "baperan". Kalimat seperti "Kamu berlebihan banget sih" atau "Gitu aja kok marah" adalah senjata andalan mereka. Tujuannya adalah membuat Anda merasa bahwa emosi Anda tidak valid dan masalahnya ada pada diri Anda yang terlalu lemah.

Taktik ketiga adalah pengalihan isu atau shifting blame. Pelaku sangat ahli dalam mengubah posisi dari tersangka menjadi korban. Jika Anda menangkap basah mereka berselingkuh misalnya mereka akan membalikkan fakta dengan menuduh Anda yang terlalu curiga posesif dan membuat mereka tidak nyaman sehingga wajar jika mereka mencari kenyamanan di luar. Akhirnya justru Anda yang meminta maaf.

Tiga Fase Kehancuran Mental Korban

Dr. Robin Stern seorang psikoanalis membagi proses gaslighting menjadi tiga tahapan yang menghancurkan. Memahami tahapan ini penting untuk mengetahui di posisi mana Anda berada saat ini.

Tahap pertama adalah Disbelief atau ketidakpercayaan. Ini terjadi di awal hubungan. Saat pasangan melakukan manipulasi Anda masih merasa bingung dan aneh. Anda mungkin berpikir "Kok dia ngomong begitu ya. Aneh banget padahal tadi kejadiannya tidak begitu". Di tahap ini Anda masih memiliki kesadaran diri yang cukup kuat.

Tahap kedua adalah Defense atau pertahanan. Di sini Anda mulai merasa tersudut. Anda menghabiskan banyak energi untuk membela diri mencari bukti dan berdebat dengan pelaku untuk membuktikan bahwa Anda benar. Anda sangat ingin pelaku memahami sudut pandang Anda namun usaha ini selalu sia sia.

Tahap ketiga adalah Depression atau depresi. Ini adalah tahap yang paling berbahaya. Anda sudah lelah bertengkar dan mulai percaya bahwa pelaku benar. Anda berpikir mungkin Anda memang gila pelupa atau terlalu sensitif. Di titik ini korban biasanya menarik diri dari lingkungan sosial kehilangan jati diri dan pasrah sepenuhnya pada kendali pelaku.

Tanda Tanda Anda Sedang Dipermainkan

Sering kali korban sulit mendeteksi manipulasi ini karena terjadi perlahan lahan atau slow burn. Namun ada beberapa sinyal internal atau red flags yang bisa Anda rasakan.

Pertama Anda selalu merasa harus meminta maaf sepanjang waktu. Kata "maaf" menjadi kata yang paling sering keluar dari mulut Anda bahkan untuk hal hal yang bukan kesalahan Anda.

Kedua Anda sering merasa bingung dan "gila". Anda sulit membuat keputusan sederhana karena takut salah. Anda tidak lagi mempercayai intuisi Anda sendiri.

Ketiga Anda mulai menyembunyikan kebenaran dari teman atau keluarga. Anda tahu bahwa perilaku pasangan Anda buruk jadi Anda berbohong kepada orang lain untuk menutupi kesalahannya atau menghindari konflik. Anda sering membuat alasan seperti "Dia sebenarnya baik kok cuma lagi stres aja".

Keempat Anda merasa tidak menjadi diri sendiri lagi. Anda merindukan sosok Anda yang dulu yang lebih ceria percaya diri dan santai. Sekarang Anda merasa redup cemas dan selalu waspada.

Mengapa Seseorang Menjadi Gaslighter

Pertanyaan besar yang sering muncul adalah mengapa seseorang tega melakukan hal ini pada orang yang katanya mereka cintai. Jawabannya sering kali berakar pada gangguan kepribadian narsistik atau kebutuhan patologis untuk mengontrol.

Seorang gaslighter biasanya memiliki rasa tidak aman atau insecurity yang sangat dalam. Untuk menutupi ketidakamanan tersebut mereka perlu merasa lebih hebat dan berkuasa dari orang lain. Dengan membuat pasangannya merasa kecil bodoh dan gila mereka mendapatkan kepuasan dan rasa kendali.

Mereka tidak mampu bertanggung jawab atas kesalahan mereka sendiri. Bagi mereka mengakui kesalahan adalah tanda kelemahan yang fatal. Oleh karena itu mereka memproyeksikan kesalahan tersebut kepada pasangannya. Dalam pikiran mereka realitas adalah apa yang mereka katakan bukan apa yang sebenarnya terjadi.

Langkah Konkret Melepaskan Diri

Keluar dari jeratan gaslighting bukanlah hal mudah tetapi sangat mungkin dilakukan. Langkah pertama dan terpenting adalah menyadari pola tersebut. Berhenti berdebat dengan pelaku tentang mana yang benar dan mana yang salah. Anda tidak akan pernah memenangkan argumen melawan orang yang menciptakan realitasnya sendiri.

Mulai dokumentasikan segalanya. Simpan tangkapan layar percakapan rekam pembicaraan jika perlu atau tulis jurnal harian. Bukti fisik ini bukan untuk ditunjukkan kepada pelaku melainkan untuk mengingatkan diri Anda sendiri saat keraguan muncul bahwa ingatan Anda valid.

Cari validasi eksternal. Bicaralah dengan sahabat terpercaya atau keluarga yang objektif. Ceritakan apa yang terjadi secara jujur. Sering kali orang luar bisa melihat manipulasi tersebut dengan lebih jelas daripada Anda yang berada di dalamnya. Perspektif mereka akan menjadi jangkar realitas bagi Anda.

Terakhir tetapkan batasan tegas. Jika pelaku mulai memanipulasi katakan "Aku tidak mau melanjutkan pembicaraan ini jika kamu terus menyangkal fakta". Jika situasi sudah membahayakan kesehatan mental pertimbangkan untuk mengakhiri hubungan dan mencari bantuan profesional seperti psikolog.

Ingatlah Anda tidak gila dan Anda tidak terlalu sensitif. Perasaan Anda valid. Gaslighting adalah bentuk kekerasan serius dan tidak ada seorang pun yang pantas hidup dalam keraguan dan ketakutan terus menerus. Kembalikan kendali atas hidup Anda dan percayalah kembali pada diri sendiri.

Logo Radio
🔴 Radio Live