Ceritra
Ceritra Warga

5 Tanda Gaslighting yang Bisa Kamu Amati

Elsa - Tuesday, 23 December 2025 | 03:00 PM

Background
5 Tanda Gaslighting yang Bisa Kamu Amati
Ilustrasi Seseorang terkena gaslighting (Pinterest/)

Gaslighting: Mengapa Kita Terjebak di Mimpi Palsu dan Bagaimana Cara Keluar

Bayangin deh, kamu lagi ngeliat kaca, tapi ada suara ga jelas bilang, "Eh, kok kaca itu keliatan nggak bagus? Kamu cuma mau liat." Itu bukan sekadar komentar santai, tapi contoh klasik gaslighting. Kalau belum ngerti, tenang, artikel ini akan ngulik fenomena yang kerap jadi bahan pembicaraan di kafe, grup Facebook, bahkan di kamar mandi pribadi. Kita akan ngobrol santai, dengan sentuhan humor, dan tentu saja, diwarnai kisah nyata yang bisa bikin kamu ngelirik balik ke hubunganmu sendiri.

1. Apa Siapapun Gaslighting Itu?

Gaslighting berasal dari drama klasik "Gas Light" tahun 1938. Cerita ini tentang suami yang berusaha membuat istri meragukan ingatannya dengan menurunkan lampu gas, lalu bilang "nggak, lampunya masih terang". Di zaman digital, gaslighting tidak hanya tentang lampu. Itu lebih luas: manipulasi emosional, penyebaran informasi palsu, dan penciptaan realitas alternatif yang membuat korban merasa "gila" atau "terlalu sensitif".

Intinya, gaslighting itu: memanipulasi pandangan orang lain supaya mereka meragukan kebenaran atau kesehatan mentalnya sendiri.

2. Tanda-tanda Gaslighting yang Mungkin Kamu Abaikan

  • "Semuanya salah karena kamu" – Ketika pasangan atau teman selalu menganggap semua kritikmu salah, tanpa alasan konkret.
  • "Aku cuma bilang, ini saja" – Membatasi diskusi dengan menyebutkan hanya satu sisi cerita.
  • "Jangan pernah bilang hal ini" – Menetapkan batasan topik pembicaraan dan menutupi fakta yang penting.
  • "Kamu selalu ingatnya salah" – Menyalahkan ingatan orang lain sebagai ketidaktahuan atau kurangnya otak.
  • "Aku punya bukti yang lebih kuat" – Menyalahkan fakta sebagai "salah" dan memprioritaskan bukti yang dibuat-buat.

Kalau kamu sering merasa "terdepresi karena salah memikirkan hal kecil", "keputusannya tak masuk akal", atau "tidak ada konsistensi dalam cerita mereka", itu pertanda gaslighting bisa jadi ada di dalam hubunganmu.

3. Contoh Nyata: Cerita Riko dan Sari

Riko, seorang graphic designer, dan Sari, seorang barista, sudah bersama dua tahun. Pada awalnya, mereka saling baper dan bahagia. Namun, Sari mulai menyuruh Riko "tidak perlu bawa pulang cerita kerja, kamu terlalu sensitif". Riko tetap bilang, "Aku harus bisa keluar dari stres."

Sari menjawab, "Kamu selalu terlalu banyak pikirkan. Aku nggak pernah bilang apa-apa." Riko mulai meragukan ingatannya. "Bisa jadi aku salah ingat," pikirnya. Sari mengulangi kalimat yang sama berulang kali, membuat Riko merasa kebingungan. Akhirnya, Riko memutuskan untuk memesan "cafe escape" dan mencari tahu tentang gaslighting. Dengan temuan ini, Riko akhirnya membuka mata: Sari memang memanipulasi pandangannya.

Keputusan Riko? Ia memilih untuk tetap bersama Sari, tapi dengan batasan. Ia mulai mencatat peristiwa penting di buku catatan, dan menyatakan batasan "bicarakan saja kalau ada yang salah". Sari akhirnya menghargai keberadaan Riko sebagai individu yang berhak mengutarakan perasaannya.

4. Mengapa Gaslighting Sulit Dideteksi?

Gaslighting sering terjadi secara bertahap. Pada tahap awal, korban merasa seolah dia "terlalu emosional" atau "memiliki masalah mental". Karena gaslighting menipu perasaan, korban mudah terjebak dalam keraguan diri. Di media sosial, "like" dan "share" yang positif bisa menjadi bukti palsu. Tanpa kejelasan tentang fakta, gaslighting berakar pada ketidakpastian.

Selain itu, gaslighting sering diselipkan dalam bahasa yang sopan, jadi orang lain mungkin tidak langsung menangkap. Misalnya, "Kalau kamu nggak setuju, mungkin kamu lupa." Seolah-olah kalimatnya cuma kata santai, padahal ada manipulasi.

5. Bagaimana Cara Melawan Gaslighting?

  1. Dokumentasikan peristiwa penting. Catat tanggal, kata-kata, dan situasi. Ini akan membantu kamu punya bukti konkret.
  2. Jangan biarkan satu orang mendominasi narasi. Mintalah pendapat dari teman terdekat yang bisa dipercaya.
  3. Perkuat self-esteem. Lakukan aktivitas yang membuatmu bangga: olahraga, menulis, atau belajar hobi baru.
  4. Pertimbangkan terapi. Psikolog bisa membantu memisahkan fakta dari manipulasi.
  5. Buat batasan. Jangan takut untuk mengatakan "Aku tidak nyaman dengan apa yang kamu katakan."

Singkatnya, melawan gaslighting itu bukan tentang "menang" melawan seseorang, tapi tentang menjaga integritas mental dan rasa percaya diri.

6. Gaslighting di Dunia Digital

Di era Instagram, TikTok, dan WhatsApp, gaslighting tidak lagi terbatas pada hubungan pribadi. Influencer bisa memanipulasi persepsi followers lewat filter dan caption. Misalnya, seorang vlogger yang "menyebutkan" hanya satu sisi cerita tentang produk tertentu, lalu menyembunyikan review negatif yang sebenarnya. Followersnya, yang sudah terpaku pada gambar, akan terjebak dalam realitas palsu.

Selain itu, "online harassment" bisa menjadi bentuk gaslighting. Ketika seseorang memposting komentar yang memanipulasi perasaan, menyalahkan korban atas reaksi emosionalnya, itu adalah gaslighting digital. Jadi, hati-hati saat scrolling feed, jangan langsung terjebak pada narasi yang menyesatkan.

7. Kesimpulan: Siapakah yang Bertanggung Jawab?

Gaslighting bukan hanya tentang satu orang. Ini tentang pola hubungan yang menyesatkan. Jika kamu merasa kerap meragukan ingatanmu, atau takut memanggil "salah", mungkin waktunya untuk mengevaluasi kembali dinamika hubunganmu.

Berhenti menjadi "sisi yang keliru" dalam pikiran sendiri. Kenali fakta, temukan dukungan, dan jika perlu, cari bantuan profesional. Karena, sejatinya, kita semua butuh "realitas" yang adil dan jujur.

Jangan biarkan gaslighting mengendalikan pikiran dan perasaanmu. Berani bertanya, berbagi, dan bertahan. Karena di balik setiap bayangan, masih ada cahaya yang menunggu untuk dipelajari.

Logo Radio
🔴 Radio Live