3 Hidden Gem di Pantura yang Wajib Kamu Kunjungi
Refa - Friday, 13 February 2026 | 01:00 PM


Jalur Pantura (Pantai Utara) sering kali dianggap membosankan karena identik dengan truk besar, debu, dan jalan lurus yang tak berujung. Namun, jika kamu mau sedikit menepi dari jalan utama, terdapat beberapa titik tersembunyi (hidden gem) yang menawarkan ketenangan dan keindahan yang kontras dengan hiruk-pikuk jalur utama.
Berikut adalah 3 destinasi yang jarang diketahui di sepanjang Jalur Pantura yang layak masuk dalam itinerary perjalananmu:
1. Pantai Karang Jahe, Rembang
Terletak sedikit masuk dari jalan raya Rembang-Lasem, pantai ini menawarkan suasana yang sangat berbeda dari tipikal pantai utara yang biasanya gersang.
- Keunikan: Sesuai namanya, pantai ini memiliki hamparan karang yang bentuknya menyerupai jahe. Namun, daya tarik utamanya adalah ribuan pohon cemara udang yang rimbun di sepanjang garis pantai, menciptakan lorong hijau yang sejuk.
- Aktivitas: Sangat cocok untuk piknik gelar tikar di bawah pohon cemara atau menyewa perahu nelayan untuk melihat terumbu karang. Pasirnya yang putih kecokelatan dan ombaknya yang sangat tenang membuatnya aman untuk bermain air.
2. Hutan Mangrove Pandansari, Brebes
Brebes bukan hanya tentang telur asin dan bawang merah. Di pesisir utaranya, terdapat kawasan konservasi yang luas dan sangat Instagrammable.
- Keunikan: Untuk mencapai hutan mangrove ini, kamu harus naik perahu kecil menyusuri muara selama sekitar 10 menit. Kamu akan disuguhi pemandangan hutan bakau yang sangat luas dengan jembatan kayu panjang yang membelah hutan.
- Aktivitas: Menjelajahi track kayu sepanjang kurang lebih 2 km, naik ke menara pandang untuk melihat garis pantai dari ketinggian, dan berfoto di spot-spot estetik di tengah rimbunnya bakau. Udaranya jauh lebih segar dibanding jalan raya Pantura.
3. Desa Wisata Kebanggan (Lasem), Jawa Tengah
Jika kamu melewati Lasem, jangan hanya lewat di jalan besarnya. Masuklah ke gang-gang kecil di desa wisatanya yang sering dijuluki sebagai "Tiongkok Kecil".
- Keunikan: Destinasi ini menawarkan perpaduan arsitektur Tiongkok kuno, Hindia Belanda, dan Jawa yang sangat kental. Kamu bisa menemukan rumah-rumah tua dengan tembok tinggi dan pintu kayu besar yang masih sangat asli.
- Aktivitas: Mengunjungi Liem Pool (kolam kuno), melihat proses pembuatan Batik Lasem yang khas dengan warna merah "darah ayam", atau sekadar street photography di antara bangunan-bangunan tua yang tampak berhenti di masa lalu. Ini adalah tempat terbaik untuk merasakan slow living di tengah perjalanan Pantura.
Tips Singgah di Jalur Pantura:
- Gunakan Google Maps dengan Teliti: Pintu masuk ke destinasi ini biasanya berupa gang kecil atau jalan desa yang tidak terlalu mencolok.
- Waktu Terbaik: Datanglah saat pagi hari (pukul 07.00 - 09.00) untuk menghindari panas terik Pantura yang menyengat di siang hari.
- Siapkan Uang Tunai: Beberapa tempat ini dikelola oleh kelompok sadar wisata (Pokdarwis) setempat yang mungkin belum menyediakan pembayaran digital secara merata.
Next News

Menolak Lupa di Jembatan Merah: Tempat Merdeka Dipertaruhkan dengan Nyawa
3 days ago

Rekomendasi Restoran Fine Dining di Surabaya untuk Pengalaman Kuliner Berkelas
4 days ago

Throwback Ke Citayam Fashion Week di 2022
3 days ago

Bukan Sekadar Panas dan Kemacetan, Intip Lima Cara Menikmati Kota Surabaya
7 days ago

Menemukan Nyawa Flores di Tengah Kabut, Kopi, dan Tradisi Megalitikum Bajawa
7 days ago

Sidoarjo Pride! Melipir Sejenak dari Macetnya Gedangan Demi Surga Kuliner yang Gak Ada Lawan
7 days ago

Bosan Jadi Budak Korporat Metropolitan? Intip Kota-Kota Ramah Kantong yang Cocok buat "Kabur" Sejenak
9 days ago

Kesempatan Emas! Pemutihan Pajak Kendaraan April 2026 Kembali Dibuka, Cek Lokasi Terdekat
10 days ago

Polri Tegaskan Rekrutmen Akpol 2026 Bersih: "Jangan Percaya Jalur Belakang!"
10 days ago

Menikmati Sisi Lain Surabaya yang Religius di Momen Lebaran
a month ago





