Tak Tinggal Diam, Polisi Awasi Gas Tertawa dari E-Commerce hingga Klub Malam


Meskipun status hukum Nitrous Oxide (N2O) atau "Gas Tertawa" saat ini masih legal untuk keperluan medis dan kuliner, pihak Kepolisian Republik Indonesia (Polri) melalui Polda Metro Jaya mulai mengambil langkah taktis. Maraknya penyalahgunaan gas ini untuk mabuk-mabukan dinilai telah memenuhi unsur "penyalahgunaan asas manfaat" yang membahayakan nyawa publik.
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto, menegaskan bahwa polisi tidak akan membiarkan peredaran gas ini liar tanpa pengawasan, terutama setelah adanya indikasi korban jiwa akibat penggunaan berlebihan.
Berikut adalah 3 langkah konkret kepolisian dalam memberantas tren berbahaya ini:
1. Berkaca dari Kasus "Etomidate": Menuju Kriminalisasi
Polisi menggunakan pendekatan historis kasus Etomidate sebagai rujukan. Sebelumnya, Etomidate adalah obat bius legal yang kemudian disalahgunakan secara masif. Akibat dampak buruknya, zat tersebut akhirnya resmi ditetapkan sebagai narkotika golongan baru. Saat ini, kepolisian sedang menyusun kajian mendalam untuk mendorong regulator (Kementerian Kesehatan) agar N2O segera dimasukkan ke dalam daftar narkotika atau psikotropika. Tujuannya agar ada payung hukum pidana yang jelas untuk menjerat pengedar yang menjualnya demi tujuan rekreasi (mabuk).
2. Patroli Siber di E-Commerce dan Media Sosial
Fokus utama pengawasan polisi saat ini adalah jalur distribusi online. Sebelumnya, tabung gas N2O dijual bebas dan terang-terangan di berbagai marketplace dengan kata kunci "Whip Pink" atau "krim kocok". Polisi kini aktif melakukan patroli siber untuk memantau toko-toko online yang mencurigakan. Hasil pemantauan awal menunjukkan penurunan drastis penjualan terbuka di platform digital pasca-ramainya pemberitaan media, namun polisi tetap mewaspadai modus penjualan tertutup (underground) melalui pesan pribadi atau komunitas tertutup.
3. Pengawasan Tempat Hiburan Malam
Selain ranah digital, polisi juga memperketat pengawasan di tempat hiburan malam. Disinyalir ada praktik penjualan gas ini dalam bentuk balon di kelab-kelab malam sebagai menu "rahasia". Polisi akan menindak tegas manajemen tempat hiburan yang terbukti memfasilitasi penyalahgunaan zat kimia berbahaya ini kepada pengunjung, meskipun regulasi spesifiknya masih dalam proses penggodokan.
Next News

Lebih dari Sekadar Rapat, Ini Makna Mendalam Muktamar bagi Warga NU
8 days ago

Persebaya Tak Mau Sekadar Meramaikan Liga, Targetnya Kini Juara
10 days ago

Polres Tanjung Perak Bongkar Peredaran 89,81 Gram Sabu, Pelaku Ternyata Residivis
20 days ago

Tragedi Langit Kuning: Realita Musim Karhutla Kalimantan
20 days ago

Out of the Further: Rahasia di Balik Teror Ikonik Film Insidious
20 days ago

Mengapa Bantuan Bencana di Indonesia Dianggap Sering Terlambat Sampai ke Tangan Korban?
20 days ago

Olivia Rodrigo x LEGO Hadirkan Vinyl Limited Edition, Hanya 333 di Dunia
22 days ago

Paskibraka Nasional: Pengorbanan dan Kebanggaan di 17 Agustus
22 days ago

Ketika Lantai NTT Bergetar: Cerita Gempa dan Dampak Sosial
22 days ago

Ada Aroma Keputusasaan di Balik Siswa Tangsel Tertabrak KRL
a month ago




