Ceritra
Ceritra Warga

Sudah Jam 11 Malam Tapi Belum Tidur? Ini Penyebabnya

Nisrina - Wednesday, 01 April 2026 | 01:15 PM

Background
Sudah Jam 11 Malam Tapi Belum Tidur? Ini Penyebabnya
Ilustrasi (Pexels/SHVETS production)

Bayangkan skenario ini: Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Lampu kamar sudah dimatikan, AC sudah diatur di suhu paling nyaman, dan tubuhmu sebenarnya sudah mengirim sinyal protes lewat punggung yang pegal. Logikanya, kamu harus segera memejamkan mata karena besok pagi ada rapat penting atau kelas pagi yang menanti. Tapi, apa yang tanganmu lakukan? Bukannya menarik selimut, jempolmu malah sibuk melakukan gerakan refleks paling adiktif di abad ke-21: scrolling media sosial.

Satu video kucing lucu lewat, lalu lanjut ke video orang masak estetik, berlanjut ke drama Twitter yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan hidupmu, sampai akhirnya tanpa sadar azan subuh sudah mulai berkumandang. Selamat, kamu baru saja melakukan ritual suci kaum urban modern yang disebut sebagai Revenge Bedtime Procrastination atau dalam bahasa kita yang lebih santai: balas dendam menunda tidur.

Kenapa sih kita hobi banget menyiksa diri sendiri dengan cara begini? Padahal kita tahu persis besok pagi kita bakal bangun dengan muka mirip zombi dan ketergantungan akut pada kafein.

Bentuk Protes Terhadap Hari yang Melelahkan

Istilah Revenge Bedtime Procrastination sebenarnya berasal dari terjemahan bahasa Mandarin, "bàofùxìng áoyè". Fenomena ini pertama kali populer di Twitter dan media sosial untuk menggambarkan orang-orang yang merasa tidak punya kontrol atas hidup mereka di siang hari. Bayangkan saja, dari jam delapan pagi sampai jam lima sore (atau bahkan lebih kalau kamu budak korporat sejati), hidupmu bukan milikmu. Waktumu dikuasai oleh bos yang hobi revisi, klien yang rewel, atau tugas kuliah yang menumpuk setinggi gunung.

Nah, saat malam tiba dan dunia mulai sunyi, di situlah kamu merasa punya otoritas penuh atas hidupmu. Di jam-jam tenang antara pukul 11 malam hingga 3 pagi, tidak ada yang akan meneleponmu untuk minta file laporan. Tidak ada dosen yang menagih tugas. Inilah "me-time" ilegal yang kita curi dari waktu istirahat kita sendiri. Menunda tidur adalah cara kita melakukan protes kecil terhadap dunia yang terlalu menuntut. Kita merasa kalau langsung tidur, itu artinya hari yang melelahkan ini selesai begitu saja tanpa ada kesenangan sedikit pun. Jadi, kita begadang hanya untuk merasa bahwa kita masih punya kendali.

Perangkap Algoritma yang Terlalu Pintar

Kalau kita mau sedikit jujur, niat awal kita seringkali cuma mau mengecek pesan masuk atau melihat satu-dua postingan saja. Tapi masalahnya, kita hidup di zaman di mana aplikasi di HP kita didesain oleh ratusan insinyur jenius yang tugasnya cuma satu: bikin kita nggak bisa lepas dari layar. Fitur "infinite scroll" dan algoritma yang tahu banget selera humor atau ketertarikan kita itu benar-benar jebakan batman.

Kita sedang mencari dopamin—hormon kebahagiaan instan—sebagai kompensasi dari stres seharian. Saat kita melihat video lucu atau konten yang menarik, otak kita dapat suntikan dopamin kecil-kecilan. Rasanya nagih. Tanpa sadar, kita terus mencari suntikan berikutnya sampai-sampai rasa kantuk kalah telak oleh rasa penasaran. Kita jadi merasa rugi kalau melewatkan apa yang sedang ramai dibahas di internet, alias kena penyakit FOMO (Fear of Missing Out) tingkat dewa.

Logika "Mendang-Mending" yang Menyesatkan

Ada semacam pemikiran bawah sadar yang sering lewat di kepala kita: "Ah, tidur jam 1 atau jam 2 kan bedanya cuma dikit. Mending nonton satu episode series lagi biar nggak penasaran." Ini adalah bentuk disonansi kognitif, di mana kita tahu perbuatan itu buruk, tapi kita mencari pembenaran agar tetap merasa nyaman melakukannya. Kita menyepelekan kesehatan jangka panjang demi kepuasan sesaat yang sebenarnya sangat semu.

Padahal, efeknya nggak main-main. Kurang tidur itu bukan cuma soal mata panda atau kulit kusam. Secara mental, orang yang sering menunda tidur cenderung lebih mudah marah, sulit konsentrasi, dan kreativitasnya terjun bebas. Kita jadi masuk ke dalam lingkaran setan: begadang karena stres, bangun pagi makin stres karena kurang tidur, lalu malamnya balas dendam lagi dengan begadang lagi. Begitu terus sampai akhirnya kita merasa burn out dan menyalahkan keadaan.

Bagaimana Cara Berhenti Jadi Zombi Malam?

Jujur saja, menyuruh orang untuk "tidur lebih awal" itu gampang diucapkan tapi setengah mati buat dijalani. Apalagi kalau kamu sudah terbiasa menjadikan malam hari sebagai satu-satunya ruang bernapas. Namun, kita harus mulai sadar bahwa mencuri waktu tidur untuk hiburan itu ibarat ngutang sama bank dengan bunga yang sangat tinggi. Cepat atau lambat, tubuhmu bakal menagih bunganya dalam bentuk penyakit atau kesehatan mental yang menurun.

Mungkin cara yang paling realistis bukan langsung tidur jam sembilan malam, tapi mulai memberikan batas yang tegas. Coba matikan Wi-Fi atau taruh HP sejauh mungkin dari jangkauan tangan 30 menit sebelum rencana tidur. Gunakan waktu itu untuk ritual lain yang nggak melibatkan layar, entah itu dengerin podcast yang membosankan (biar cepat ngantuk), pakai skincare pelan-pelan, atau sekadar melamun sambil mengatur napas.

Kita perlu sadar bahwa dunia nggak akan kiamat kalau kita ketinggalan satu tren di TikTok malam ini. Besok pagi, matahari tetap terbit, dan kamu bakal merasa jauh lebih siap menghadapi dunia kalau kepalamu nggak terasa berat seperti habis memikul beras. Jadi, buat kamu yang baca artikel ini pas tengah malam sambil rebahan: ayo tutup tab ini, letakkan HP-mu, dan berikan diri kamu hadiah terbaik berupa tidur yang nyenyak. Kamu berhak istirahat, bukan cuma berhak begadang.

Tags

Logo Radio
🔴 Radio Live