Ceritra
Ceritra Warga

Kenapa Jempol Hobi Skrol TikTok Saat Harusnya Tidur? Simak Faktanya

Nisrina - Wednesday, 01 April 2026 | 07:15 AM

Background
Kenapa Jempol Hobi Skrol TikTok Saat Harusnya Tidur? Simak Faktanya
Ilustrasi (Pexels/cottonbro studio)

Pernah nggak sih lu ngerasa rencana awal masuk kamar jam 10 malam itu mau langsung tidur, tapi ujung-ujungnya jam 1 pagi lu masih melek gara-gara asyik nonton video kucing takut sama timun atau kompilasi orang kepeleset di TikTok? Padahal di rak buku ada novel berat atau laporan kerjaan yang harusnya dibaca, tapi jempol lu kayak punya nyawa sendiri buat terus skrol ke bawah. Kalau lu pernah ngerasa kayak gitu, tenang, lu nggak sendirian dan lu nggak otomatis jadi bodoh karena itu.

Fenomena ini bukan sekadar soal malas. Ada alasan psikologis dan sosiologis yang cukup masuk akal kenapa kita, manusia modern yang katanya paling pintar ini, malah makin cinta sama konten-konten yang sifatnya ringan, "receh", dan nggak butuh banyak mikir. Mari kita bedah kenapa otak kita lebih milih asupan yang ringan-ringan aja di tengah dunia yang makin berat ini.

Dunia Sudah Terlalu Berisik dan Melelahkan

Bayangin, dari bangun tidur sampai mau merem lagi, kita sudah dihantam sama rentetan informasi yang sifatnya menuntut perhatian penuh. Berita soal inflasi, debat politik yang nggak ada ujungnya, sampai drama di media sosial yang bikin dahi mengkerut. Otak kita itu punya kapasitas yang namanya "decision fatigue" atau kelelahan mengambil keputusan. Setelah seharian mikirin gimana cara dapet cuan, gimana ngadepin bos yang rewel, atau milih rute jalan yang nggak macet, stok energi mental kita itu habis bis.

Di titik inilah konten ringan masuk sebagai penyelamat. Menonton video orang lagi masak nasi goreng di pinggir jalan dengan narasi yang santai itu rasanya kayak minum es teh manis di tengah padang pasir. Seger banget. Kita butuh hiburan yang nggak menuntut kita buat menganalisis, mengkritik, apalagi berdebat. Konten ringan adalah bentuk "self-care" paling murah dan cepat yang bisa kita dapetin secara instan.

Suntikan Dopamin yang Bikin Nagih

Secara biologis, ada peran neurotransmiter bernama dopamin di balik kebiasaan kita ini. Konten pendek yang lucu atau memuaskan (satisfying) memberikan reward instan ke otak kita. Setiap kali lu nemu video yang bikin ketawa atau denger musik yang enak, otak lu ngasih "hadiah" kecil berupa rasa senang. Masalahnya, algoritma media sosial sekarang sudah pinter banget. Mereka tahu persis jenis konten receh apa yang bakal bikin lu betah berlama-lama.

Ini yang sering disebut sebagai "snackable content". Kayak makan keripik, satu doang nggak bakal cukup. Lu bakal terus-terusan ambil lagi, lagi, dan lagi sampai nggak sadar bungkusnya sudah kosong. Konten ringan itu gampang dicerna dan nggak bikin perut—eh, maksudnya otak—begah. Kita lebih milih nonton rangkuman film 10 menit daripada nonton film full-nya yang durasi 2 jam tapi plotnya muter-muter.

Kebutuhan akan Relatabilitas di Tengah Kepalsuan

Lucunya, meskipun sekarang zamannya filter kamera yang bikin muka makin kinclong, kita malah makin suka konten yang "apa adanya". Kita lebih relate sama konten kreator yang curhat soal saldo ATM-nya yang menipis atau video yang nampilin kebodohan-kebodohan kecil dalam hidup sehari-hari. Kenapa? Karena itu terasa nyata. Konten ringan sering kali membawa pesan bahwa "eh, hidup orang lain juga kacau kok, nggak cuma gue doang".

Konten yang terlalu serius atau yang terlalu pamer kesuksesan kadang malah bikin kita merasa insecure. Sebaliknya, konten receh yang sifatnya menghibur malah bikin kita merasa punya temen senasib. Istilah "ngakak brutal" atau "relate banget" itu bukan cuma slang anak zaman sekarang, tapi cerminan kalau kita butuh validasi bahwa hidup nggak perlu selalu kaku dan sempurna.

Hiburan Sebagai Pelarian (Escapism) yang Sehat?

Ada kalanya kita memang harus lari sejenak dari kenyataan. Nonton video orang motong sabun atau dengerin podcast yang isinya cuma becandaan nggak jelas itu adalah bentuk pelarian yang paling aman. Daripada lari ke hal-hal negatif, ya mending lari ke YouTube atau Reels, kan? Konten ringan ini berfungsi sebagai tombol "reset" buat otak kita sebelum besoknya harus berhadapan lagi sama realitas yang pahit.

Tapi ya gitu, segala sesuatu yang berlebihan tetep nggak bagus. Kalau seharian cuma nonton konten receh tanpa ada asupan yang berbobot, otak kita bisa jadi tumpul juga. Ibarat makan, kalau tiap hari cuma makan kerupuk ya lama-lama kurang gizi. Kita butuh keseimbangan antara konten yang "bergizi" (informasi serius, edukasi, pengembangan diri) sama konten yang "ringan" (hiburan, meme, video kucing).

Nggak Perlu Merasa Bersalah

Jadi, kalau nanti malem lu kejebak lagi di lubang kelinci konten-konten absurd, nggak usah merasa berdosa. Itu cara tubuh lu bilang kalau dia lagi capek dan butuh hiburan yang nggak ribet. Dunia ini sudah cukup berat dengan segala tuntutannya, jadi nggak ada salahnya kalau kita kasih diri kita sedikit kelonggaran buat menikmati hal-hal receh.

Konten ringan itu kayak bumbu dalam makanan. Tanpanya, hidup bakal kerasa hambar dan terlalu tegang. Yang penting, pinter-pinter aja bagi waktu. Tahu kapan harus serius mikirin masa depan, dan tahu kapan waktunya ketawa ngeliat video orang gagal parkir. Toh, pada akhirnya, kebahagiaan itu nggak selalu datang dari hal-hal besar dan rumit, tapi sering kali nyempil di antara video-video pendek yang kita tonton sambil rebahan.

Selamat lanjut skrol, tapi jangan lupa tidur ya, gaes!

Tags

Logo Radio
🔴 Radio Live