Ceritra
Ceritra Warga

Strategi 10 Year Thinking Penyelamat Karier dari Badai PHK dan AI

Nisrina - Thursday, 05 March 2026 | 11:40 AM

Background
Strategi 10 Year Thinking Penyelamat Karier dari Badai PHK dan AI
Ilustrasi (Freepik/johnstocker)

Pernah nggak sih lo merasa kalau hidup lo cuma muter-muter di siklus yang itu-itu aja? Bangun pagi dengan sisa-sisa nyawa yang belum terkumpul penuh, berjuang di tengah kemacetan atau desak-desakan di KRL, kerja delapan jam (atau lebih kalau bos lo tipe yang nggak punya kehidupan), lalu pulang dalam keadaan "soul-drained" alias jiwa yang udah diperas sampai kering. Begitu terus sampai hari Jumat, lalu lo merasa berhak "self-reward" habis-habisan di akhir pekan yang bikin dompet nangis, dan siklusnya berulang lagi di hari Senin.

Masalahnya, kebanyakan dari kita cuma mikir gimana caranya bertahan hidup sampai gajian bulan depan. Kita jago banget bikin rencana buat liburan panjang tahun depan, tapi mendadak blank pas ditanya mau jadi apa sepuluh tahun lagi. "Ya elah, besok makan apa aja belum tahu, udah ditanya sepuluh tahun lagi," mungkin itu jawaban sarkas yang sering muncul di kepala kita. Padahal, di tengah dunia yang perubahannya lebih cepet daripada mood swing pacar lo, punya strategi 10-Year Thinking itu bukan sekadar gaya-gayaan, tapi strategi bertahan hidup biar lo nggak "tenggelam" pas badai PHK atau disrupsi AI datang menerjang.

Bukan Ramalan Cuaca, Tapi Kompas Navigasi

Strategi 10-Year Thinking itu sebenarnya simpel, tapi praktiknya yang susah minta ampun. Intinya adalah lo mencoba melihat diri lo sepuluh tahun ke depan dan bekerja mundur dari sana. Banyak orang salah kaprah, mereka pikir ini soal bikin rencana kaku yang nggak boleh meleset. Padahal, 10-year thinking itu lebih kayak kompas daripada peta. Peta bisa basi kalau jalannya ditutup atau ada gedung baru, tapi kompas bakal selalu nunjukin arah yang benar biarpun lo harus muter balik atau lewat jalan tikus.

Zaman sekarang, banyak banget orang yang terjebak dalam "short-termism". Kita pengen hasil instan. Pengen gaji gede instan, pengen jabatan mentereng instan, pengen viral instan. Dampaknya? Kita sering ambil keputusan yang terlihat bagus buat sekarang, tapi berantakan buat jangka panjang. Misalnya, ambil kerjaan gaji gede tapi nggak ngasih skill baru yang relevan di masa depan. Kelihatannya menang sekarang, tapi sepuluh tahun lagi lo mungkin bakal nemu diri lo "stuck" karena skill lo udah basi dan nggak laku di pasar.

Kenapa Kita Jarang Melakukannya?

Jujur aja, otak manusia itu secara evolusi emang didesain buat mikirin hal-hal jangka pendek. Nenek moyang kita dulu lebih mikirin gimana caranya nggak dimakan harimau hari ini daripada mikirin investasi saham buat masa tua. Sifat "survivability" ini masih nempel di kita. Apalagi ditambah gempuran media sosial yang pamer kesuksesan orang lain di usia muda. Kita jadi makin FOMO, pengen cepet-cepet sukses tanpa mikirin fondasi yang kuat.

Selain itu, mikirin masa depan itu melelahkan secara mental. Ada rasa takut kalau rencana kita gagal. Tapi, coba deh lo bayangin kalau lo nggak punya visi sepuluh tahun. Lo bakal gampang banget kegiring arus. Ada tren kripto, ikut. Ada tren jualan minuman kekinian, ikut. Tanpa lo sadar, waktu sepuluh tahun habis gitu aja buat nyobain hal-hal yang nggak pernah lo bangun secara konsisten. Istilahnya, lo cuma gali lubang dangkal di banyak tempat, bukannya gali satu sumur dalam sampai ketemu mata airnya.

Strategi 1: Membangun "Antifragility" pada Skill

Langkah pertama dalam 10-year thinking adalah milih "senjata" yang nggak bakal tumpul dimakan zaman. AI mungkin bisa nulis artikel, bikin desain, atau ngoding dasar. Tapi AI belum tentu bisa punya empati, intuisi bisnis yang tajam, atau kemampuan negosiasi antarmanusia yang kompleks. Strategi jangka panjang lo harus berfokus pada skill yang sifatnya fundamental dan sulit digantikan teknologi.

Investasi "leher ke atas" itu beneran nyata, gais. Jangan pelit buat ikut kursus atau baca buku yang berat-berat dikit. Kalau lo cuma ngandelin skill yang semua orang bisa pelajari dalam waktu seminggu, ya jangan kaget kalau nilai tawar lo di masa depan bakal rendah. Cari skill yang punya efek "compounding" atau bunga berbunga. Makin lama lo pelajari, makin mahal harganya.

Strategi 2: Networking Bukan Sekadar Tukar Kartu Nama

Dalam rencana sepuluh tahun, relasi adalah aset yang paling cair. Tapi ingat, jangan jadi orang yang cuma nyari orang lain pas butuh kerjaan doang. Itu namanya transaksional banget dan orang bakal ngerasa dimanfaatin. Strategi 10-year thinking ngajarin kita buat bangun "social capital" sejak dini.

Bantuin orang tanpa pamrih, jaga integritas, dan jalin hubungan baik sama temen sejawat maupun atasan. Sepuluh tahun lagi, temen satu angkatan lo mungkin udah jadi CEO, manajer, atau punya bisnis sendiri. Kalau lo punya reputasi bagus di mata mereka sejak sekarang, peluang bakal dateng sendiri tanpa harus lo kejar-kejar sampai sesak napas. Networking yang tulus itu investasi jangka panjang paling ampuh.

Strategi 3: Mengelola Rasa Bosan dan "Quarter-Life Crisis"

Musuh terbesar dari perencanaan jangka panjang adalah rasa bosan. Kita sering ngerasa progres kita lambat banget, padahal kita udah kerja keras. Di sinilah mentalitas 10 tahun itu diuji. Lo harus sadar kalau sukses itu nggak linear. Bakal ada masa-masa di mana karier lo kayak jalan di tempat, atau malah mundur satu langkah buat loncat dua langkah ke depan.

Kalau lo punya perspektif sepuluh tahun, lo nggak bakal gampang stres cuma gara-gara satu proyek gagal atau nggak dapet promosi tahun ini. Lo bakal mikir, "Oke, ini cuma satu tahun dari sepuluh tahun perjalanan gue. Masih ada sembilan tahun lagi buat benerin ini." Cara berpikir kayak gini bikin lo lebih "zen" dan nggak gampang kena burnout. Lo jadi lebih fokus pada proses belajar daripada sekadar hasil akhir yang seringkali di luar kendali kita.

Mulai Aja Dulu, Koreksi Sambil Jalan

Nggak usah nunggu dapet wangsit atau nunggu dunia jadi tenang dulu buat mulai mikir jangka panjang. Dunia nggak akan pernah tenang. Mulailah dengan nanya ke diri sendiri: "Kalau gue terus-terusan ngelakuin apa yang gue lakuin sekarang, gue bakal jadi apa sepuluh tahun lagi? Apakah gue bakal bangga sama orang itu?"

Kalau jawabannya bikin lo merinding atau pengen nangis, berarti ini saatnya lo ambil kertas atau buka aplikasi notes di HP, dan mulai coret-coret visi sepuluh tahun lo. Nggak perlu sempurna, yang penting ada arahnya. Karier yang stabil bukan datang dari keberuntungan semata, tapi dari persiapan matang yang dilakukan oleh orang-orang yang berani melihat jauh ke depan ketika orang lain sibuk nunduk ngelihatin layar HP-nya masing-masing. Jadi, gimana? Masih mau jadi daun yang terbang ditiup angin, atau mau jadi pohon yang akarnya kuat menghujam bumi?

Logo Radio
🔴 Radio Live